Setelah menikmati petualangan spiritual di Tahura Mandiangin dan humor dari Pak Sani, Lev dan Rauf kembali ke penginapan dengan perasaan damai. Malam itu, mereka berdiskusi tentang rencana selanjutnya. "Rauf, besok kita cari kerajinan tangan khas Barabai. Kayaknya seru," usul Lev.
Rauf mengangguk. "Ide bagus. Sekalian kita beli oleh-oleh buat Kakekmu."
Keesokan paginya, mereka menuju sebuah desa kecil di pinggir Barabai yang terkenal dengan kerajinan tangan anyaman purun. Desa itu sangat asri, dengan rumah-rumah panggung yang rapi dan halaman yang rindang.
Mereka mendatangi sebuah rumah yang di terasnya banyak hasil kerajinan tangan dari anyaman purun. Di sana, mereka bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang sedang menganyam. Ibu itu, dengan senyum ramah, menyambut mereka.
"Assalamualaikum, Nak. Ada yang bisa ibu bantu?" sapanya.
"Waalaikumsalam, Bu. Kami mau lihat-lihat kerajinan anyaman purun. Kalau boleh tahu, namanya siapa, ya?" tanya Rauf.
"Ibu Salmah. Kalian dari mana?" jawab ibu itu.
"Kami dari Banjarmasin, Bu. Mau mendokumentasikan kehidupan di Hulu Sungai," Lev menimpali.
Ibu Salmah tersenyum. "Oalah, dari jauh-jauh. Silakan, Nak. Dilihat-lihat saja."
Lev dan Rauf melihat-lihat kerajinan tangan yang dipajang. Ada tas, tikar, topi, dan banyak lagi. Semuanya terlihat rapi dan unik. Lev memutuskan untuk membeli tas anyaman purun untuk Kakeknya.
"Bu, kalau boleh tahu, gimana cara bikin kerajinan ini?" tanya Lev, penasaran.
"Walah, Nak. Ini mah rahasia. Enggak boleh bocor," jawab ibu Salmah, terkekeh.
Lev tidak menyerah. Ia mengambil inisiatif untuk mencoba menganyam. "Biar saya coba, Bu. Siapa tahu saya punya bakat," kata Lev, percaya diri.
Ibu Salmah kaget. "Walah, enggak usah, Nak. Nanti kamu malah kusutkan benangnya."
Lev tidak mendengarkan dan tidak belajar dari kesalahan sebelumnya. Ia mengambil beberapa lembar purun, dan mulai menganyam dengan gerakan yang tidak beraturan. Ibu Salmah dan Rauf hanya bisa melongo.
"Pelan-pelan, Lev. Nanti kusut," Rauf mengingatkan.
Kusut!
Benar saja. Purun yang dianyam Lev kusut dan tidak bisa dibentuk. Ibu Salmah dan Rauf hanya bisa menggelengkan kepala.
"Aduh, Nak. Kalau kamu anyam kayak gitu, nanti kerajinan ibu jadi kerajinan kusut. Sudah, sudah, sini biar ibu saja yang lanjutkan," Ibu Salmah tertawa.
Lev merasa malu, tapi juga geli. Kejadian itu menjadi bahan obrolan lucu di desa itu. Beberapa tetangga yang melihat ikut tertawa. Setelah membeli tas anyaman purun, mereka berpamitan dengan Ibu Salmah.
"Lev, lain kali kalau mau coba-coba, jangan di tempat umum," Rauf mengomel.
"Kan aku mau bantu, Rauf. Enggak tahu kalau menganyam itu susah," bela Lev.
Mereka kembali ke penginapan. Di dalam perjalanan, Lev merenungkan kejadian di desa tadi. Ia merasa, ia sudah mendapatkan pelajaran berharga lagi. Bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengan asal-asalan. Beberapa hal, butuh kesabaran dan ketelatenan.
"Rauf, aku mulai paham. Kakek itu suruh kita ke sini, bukan cuma buat jalan-jalan. Tapi buat belajar. Belajar dari hal-hal sederhana, yang ada di sekitar kita," ucap Lev.
Rauf mengangguk. "Tepat sekali, Lev. Dan kamu, sudah mulai mendewasa."
Malam harinya, di penginapan, Lev dan Rauf duduk di teras, memandang bintang-bintang di langit Barabai yang cerah.
"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.
"Catat apa lagi?" tanya Rauf.
"Catatan hari ini: Menganyam purun itu butuh kesabaran dan ketelatenan. Sama seperti hidup. Enggak bisa instan. Ada prosesnya. Dan proses itu, yang bikin kita jadi lebih baik," Lev berkata, sambil menulis di buku catatannya.
Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti kamu sudah semakin mengerti."
Lev mengangguk. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak kedua, ternyata juga penuh kejutan. Dan ia, sudah tidak sabar untuk melanjutkan babak-babak selanjutnya.
