Setelah keriuhan singkat bersama Anita di depan pagar, Zaskia Al-Zahra melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan keanggunan yang seolah sudah mendarah daging. Jika bagian luar rumahnya adalah sebuah pernyataan tentang minimalisme, maka bagian dalamnya adalah sebuah tempat ibadah visual bagi siapa saja yang mendambakan kedamaian.
Lantai granit berwarna abu-abu asap tertutup sebagian oleh karpet bulu berwarna sand beige yang sangat empuk. Tidak ada pajangan dinding yang berlebihan; hanya ada satu kaligrafi kayu jati bertuliskan "Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban" yang diukir dengan halus, menggantung di ruang tamu yang beraroma terapi kayu cendana.
Zaskia duduk di kursi rotan modernnya, menatap kue bingka pemberian Anita yang kini tersaji di atas piring keramik putih polos. Bagi orang lain, mungkin perbedaan selera antara dirinya dan Anita hanyalah masalah estetika sepele. Namun bagi Zaskia, pilihannya terhadap warna-warna kalem—atau yang sekarang populer disebut sebagai earth tone—adalah sebuah manifestasi dari perjalanan spiritualnya.
Dulu, saat ia masih bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan desain interior di Jakarta, hidupnya penuh dengan warna yang menuntut perhatian. Merah yang agresif, biru yang dingin, dan neon yang melelahkan saraf. Setelah memutuskan untuk kembali ke kampung halaman suaminya di Gambut, Zaskia berjanji pada dirinya sendiri untuk menciptakan lingkungan yang membantu keluarganya untuk selalu khusyuk. Ia percaya bahwa lingkungan yang tenang secara visual akan mempermudah hati untuk tersambung kepada Sang Khalik.
"Umi, kenapa sih rumah kita tidak dicat warna biru langit seperti rumah Paman Syarif di ujung jalan?" tanya Hana, putri bungsunya yang berusia tujuh tahun, sambil mengunyah bingka pemberian Anita.
Zaskia tersenyum, mengusap kepala putrinya yang mengenakan jilbab kaos berwarna cokelat susu. "Hana sayang, warna itu seperti suara. Ada warna yang berteriak, ada warna yang berbisik. Umi ingin rumah kita ini 'berbisik' supaya kalau Abi pulang kerja dalam keadaan lelah, atau kalau kita sedang shalat, hati kita tidak sibuk melihat ke sana-kemari karena terlalu banyak warna yang memanggil-manggil mata kita."
Hana mengangguk-angguk kecil, meski ia tampak lebih tertarik pada tekstur kue bingka yang lembut daripada penjelasan filosofis ibunya. Zaskia melanjutkan aktivitasnya, ia membuka jendela besar yang menghadap ke arah rawa di belakang rumah. Di sana, hamparan tanaman eceng gondok yang sesekali berbunga ungu tampak kontras dengan air gambut yang berwarna cokelat gelap seperti teh pekat. Itulah keajaiban alam ciptaan Allah; harmoni warna alami yang tak pernah gagal menenangkan jiwa.
Namun, ketenangan Zaskia segera diuji oleh realitas kehidupan bertetangga di Kalimantan. Tak lama kemudian, terdengar suara mesin motor matic yang dipacu kencang, berhenti tepat di depan rumahnya dengan suara rem yang mencicit. Itu adalah suara motor suaminya, Pak Ahmad, yang baru saja pulang dari pasar membeli perlengkapan bengkel.
Pak Ahmad masuk dengan wajah berkeringat, membawa sebuah kantong plastik besar berwarna merah menyala—kontras sekali dengan estetika rumah mereka.
"Umi, tadi di pasar Bapak ketemu Anita. Dia bilang jangan lupa nanti malam ada pengajian di rumahnya. Katanya, dresscode-nya harus 'ceria'!" Pak Ahmad berujar sambil meletakkan kantong merah itu di atas meja kayu yang biasanya hanya dihiasi vas bunga kering.
Zaskia memijat pelipisnya perlahan. "Ceria, Bi? Definisi ceria bagi Jeng Anita itu bisa berarti kita harus memakai baju yang bisa terlihat dari luar angkasa."
Pak Ahmad tertawa terbahak-bahak. Sebagai seorang laki-laki Banjar yang praktis, ia tidak terlalu ambil pusing dengan urusan warna, selama pakaian itu bersih dan menutup aurat. "Ya begitulah tetangga kita, Mi. Tapi ingat pesan Rasulullah, tetangga itu adalah saudara terdekat kita. Kalau dia minta kita pakai warna ceria, ya kita cari yang paling mendekati selera kita tapi tetap menghormati permintaannya."
Zaskia menghela napas, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. Ia teringat kembali pada salah satu hadits tentang memuliakan tetangga. Meskipun ia sangat mencintai palet warna nude dan earth tone-nya, ia sadar bahwa keindahan Islam tidak terletak pada keseragaman warna baju, melainkan pada kelapangan hati dalam menerima perbedaan.
Ia beranjak menuju lemari pakaian besarnya. Di sana, barisan baju-baju tergantung rapi berdasarkan gradasi warna: krem, cokelat, sage, biru keabu-abuan. Ia mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa dikategorikan sebagai "ceria" menurut standar Anita, namun tetap "aman" menurut standarnya. Setelah beberapa menit mencari, ia menemukan sebuah gamis berwarna dusty pink yang sedikit lebih terang dari koleksinya yang lain.
"Mungkin ini cukup ceria," gumamnya. "Semoga Jeng Anita tidak menyuruhku memakai warna kuning stabilo seperti gerbang barunya."
Hari itu, Zaskia belajar satu hal penting: bahwa di balik ketenangan yang ia agungkan, ada seni berkompromi yang jauh lebih indah. Bahwa menjadi seorang Muslimah yang baik berarti mampu menyeimbangkan antara prinsip pribadi dengan keramahan sosial. Ketenangan sejati bukan hanya tentang warna dinding yang pucat, tetapi tentang hati yang tetap tenang dan penuh cinta saat berhadapan dengan tetangga yang "berwarna-warni".
Zaskia pun kembali ke dapur, ia memutuskan untuk membuat hidangan balasan untuk Anita. Sesuai dengan kepribadiannya, ia akan membuat Puding Susu Gula Aren. Warnanya cokelat lembut mengkilap, rasanya manis sedang, dan aromanya menenangkan. Sebuah persembahan dari si "Ratu Kalem" untuk si "Ratu Neon" di seberang jalan.
Pesan Moral & Tips Hidup Bertetangga
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan selera adalah hal yang wajar. Islam mengajarkan kita untuk tetap berbuat baik dan menjaga perasaan tetangga (Adab al-Jiwar). Jika Anda ingin mempelajari lebih dalam tentang konsep rumah yang menenangkan menurut perspektif arsitektur Islami, Anda bisa mengunjungi Arsitektur Islam di Indonesia. Jangan lewatkan Bab 3 yang akan menceritakan sisi kehidupan Anita yang penuh energi dan alasan haru di balik kecintaannya pada warna-warna terang!
