Bab 16: Jejak Sejarah di Amuntai

Bab 16: Jejak Sejarah di Amuntai

Lev
0

Setelah menghabiskan waktu yang berkesan di Barabai, Lev dan Rauf melanjutkan perjalanan mereka ke kabupaten selanjutnya, Hulu Sungai Utara. Kota tujuan mereka adalah Amuntai. Perjalanan menuju Amuntai terasa berbeda, dengan pemandangan persawahan yang semakin mendominasi dan jalanan yang lebih lurus.

"Rauf, siap-siap. Ini bakal jadi petualangan sejarah. Amuntai kan terkenal dengan peninggalan kerajaannya," ucap Lev, matanya berbinar.

Rauf mengangguk, kali ini tanpa banyak berkomentar. Ia sudah mulai terbiasa dengan semangat Lev yang meledak-ledak.

Mereka memasuki kota Amuntai. Kota ini terasa lebih tenang dibandingkan Barabai. Deretan toko-toko kecil yang berjejer rapi di pinggir jalan, dan beberapa becak yang mangkal, menciptakan suasana yang berbeda. Lev langsung mengeluarkan ponselnya, mengambil beberapa foto.

"Rauf, lihat! Keren banget! Kayak kota tempo dulu," seru Lev.

"Lev, kamu kayaknya butuh kamera baru," Rauf menyindir, sambil tersenyum geli.

"Enggak apa-apa, Rauf. Kamera ponsel juga bisa, kok. Yang penting, angle-nya," Lev membela diri.

Mereka mencari penginapan yang sudah Rauf pesan sebelumnya. Penginapan itu adalah sebuah rumah tua yang diubah menjadi guesthouse, dengan halaman yang rindang dan nuansa kayu yang kental. Lev langsung jatuh cinta.

"Ini baru namanya petualangan, Rauf! Tinggal di tempat yang otentik. Bukan di hotel modern yang isinya sama aja di mana-mana," Lev berkata, sambil merebahkan diri di kasur.

Setelah salat Asar dan istirahat sejenak, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sore di sekitar penginapan. Di persawahan, mereka melihat beberapa petani sedang bekerja. Lev langsung mengambil ponselnya, mengabadikan momen itu.

"Rauf, ini namanya potret kehidupan. Slice of life yang sesungguhnya," bisik Lev.

Mereka melanjutkan perjalanan. Di sebuah warung kopi di pinggir jalan, mereka melihat beberapa bapak-bapak sedang bermain catur. Lev mengajak Rauf untuk mampir.

"Rauf, mampir bentar, yuk. Ngobrol sama mereka," ajak Lev.

Rauf menolak. "Enggak, Lev. Nanti kamu bikin ulah lagi."

"Enggak, Rauf. Kali ini aku janji. Aku cuma mau ngobrol aja. Enggak akan bikin ulah," Lev meyakinkan.

Akhirnya, Rauf pun setuju. Mereka memesan teh hangat, lalu duduk di dekat bapak-bapak yang sedang bermain catur. Lev memulai percakapan.

"Selamat sore, Pak. Boleh gabung?" tanya Lev, ramah.
Bapak-bapak itu menyambut mereka dengan hangat. Mereka memperkenalkan diri, dan Lev menceritakan tujuan mereka datang ke Amuntai.

"Oalah, dari Banjarmasin. Jauh-jauh," kata salah satu bapak, yang ternyata seorang pensiunan guru.

Mereka mengobrol tentang banyak hal. Mulai dari cerita tentang Amuntai di masa lalu, hingga keluh kesah tentang anak muda zaman sekarang yang lebih suka bermain gawai ketimbang berinteraksi sosial. Lev mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan.

"Pak, kenapa Amuntai itu terkenal dengan peninggalan kerajaannya?" tanya Lev, penasaran.

"Karena di sini, dulunya, pusat kerajaan. Kerajaan Nagara Dipa, Nak. Di sini, kita bisa lihat, betapa kayanya sejarah Banjar," jawab Pak Guru, bijak.

Lev mengangguk. Ia merasa, kakeknya ingin ia belajar hal ini. Belajar tentang sejarah, tentang asal-usul, dan tentang menghargai warisan leluhur.

Malam harinya, setelah salat Isya, mereka duduk di teras penginapan. Lev mengeluarkan buku catatannya.

"Rauf, aku mau catat sesuatu," kata Lev.

"Catat apa lagi? Hari ini enggak ada kejadian aneh, kan?" tanya Rauf.

"Ada. Kejadian indah. Bertemu dengan orang-orang baik, mendengarkan cerita mereka, dan belajar banyak hal. Rasanya, aku jadi orang yang berbeda. Yang lebih dewasa, yang lebih bijak," Lev menjawab.

Rauf tersenyum. "Baguslah kalau begitu. Berarti misi Kakek berhasil."

Mereka memasuki kamar. Lev merebahkan diri di kasur, memandang ke arah jendela. Pemandangan persawahan yang gelap, dengan bintang-bintang yang berkelap-kelip, membuat hatinya merasa damai. Ia tahu, petualangan ini tidak hanya mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Tapi juga mengubah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Babak ketiga, ternyata juga penuh kejutan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default