Bab 3: Suara Adzan di Langit Amuntai – Irvan Zidni dan Pengabdian PAI

Bab 3: Suara Adzan di Langit Amuntai – Irvan Zidni dan Pengabdian PAI

Lev
0
Simak kisah inspiratif 5 sahabat perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga kisah cinta Islami


Tahun 2013 – Senja di Masjid Kampus

Jika Muhammad Hifni dianggap sebagai "nakhoda" yang menentukan arah di Kos Keramat Nomor 13, maka Irvan Zidni adalah "sauh" yang menjaga mereka agar tidak hanyut oleh arus kehidupan kota. Pemuda asal Amuntai ini memiliki pembawaan yang setenang air rawa di Hulu Sungai Utara. Di usianya yang baru menginjak 19 tahun, ia sudah memiliki garis wajah yang teduh, khas santri yang menghabiskan masa remajanya di lingkungan pondok pesantren sebelum memutuskan merantau ke Banjarmasin untuk mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) di IAIN Antasari (sekarang UIN Antasari).

Bagi Irvan, tahun 2013 bukan hanya soal mengejar gelar sarjana. Baginya, Banjarmasin adalah ladang dakwah kecil-kecilan. Setiap subuh, saat kabut tipis masih menyelimuti Jalan Kayu Tangi dan aroma sungai Martapura menguar kuat, Irvan sudah bangun. Ia adalah "jam beker manusia" bagi keempat sahabatnya.

"Hifni, Nazib, Amin, Khairi... Ash-shalaatu khairum minan nauum," ucap Irvan dengan suara baritonnya yang khas sambil mengetuk pintu kamar satu per satu secara bergantian.

Ketukan Irvan bukan sekadar formalitas. Ia akan terus mengetuk sampai mendengar suara gerendel pintu terbuka atau gumaman kantuk dari dalam. Nazib seringkali menjadi yang paling susah dibangunkan. "Van, lima menit lagi... coding semalam baru kelar jam tiga," protes Nazib dari balik bantal.

Irvan hanya tersenyum tipis di depan pintu. "Ingat Zib, rezeki itu datangnya pagi-pagi. Kalau kamu terlambat, nanti logic programmu macet karena kurang berkah subuh." Kata-kata "berkah" adalah senjata ampuh Irvan yang selalu berhasil membuat teman-temannya bangkit meski dengan nyawa yang belum terkumpul penuh.

Perjalanan Irvan dari kos menuju kampus di Jalan Ahmad Yani KM 4,5 setiap pagi adalah sebuah ritual perjalanan yang penuh perenungan. Mengendarai motor bebek tua warisan ayahnya, ia membelah kemacetan Banjarmasin yang mulai padat di tahun 2013. Di tas punggungnya, terselip kitab Ta’limul Muta’allim berdampingan dengan buku metodologi pendidikan modern. Ia adalah jembatan antara tradisi pesantren yang klasik dan dunia akademis yang dinamis.

Di kampus, Irvan dikenal sebagai sosok yang cerdas namun rendah hati. Saat mahasiswa lain sibuk berdebat tentang politik praktis di kantin, Irvan lebih sering ditemukan di pojok masjid kampus, membimbing adik tingkatnya membaca Al-Qur'an atau sekadar berdiskusi tentang etika keguruan.

"Menjadi guru PAI itu berat, Van. Beban moralnya tinggi," ujar seorang teman sekelasnya suatu hari di selasar kampus.

Irvan menatap menara masjid yang menjulang tinggi sebelum menjawab. "Memang berat. Karena kita tidak hanya mentransfer ilmu ke otak, tapi menanamkan iman ke hati. Kita ini calon penanam benih. Kalau benihnya salah tanam, rusaknya satu generasi. Itulah kenapa aku harus serius di sini."

Sisi komedi Irvan muncul saat mereka berlima berkumpul di malam minggu. Di saat Hifni bicara tentang birokrasi atau Nazib pusing dengan kabel LAN, Irvan seringkali menyisipkan "kultum dadakan" yang lucu namun menohok.

Pernah suatu ketika, Khairi mengeluh karena ditolak oleh seorang mahasiswi kesehatan. Irvan dengan tenang mengambil segelas air putih, memberikannya pada Khairi, lalu berkata, "Khairi, cinta itu seperti doa. Kalau tidak dikabulkan sekarang, artinya Allah sedang menyiapkan naskah yang lebih bagus. Lagipula, kamu itu calon guru SD, harus sabar hadapi anak kecil, apalagi cuma hadapi penolakan satu wanita."

Sontak seisi kos pecah oleh tawa, bahkan Khairi yang galau pun ikut nyengir.

Irvan Zidni adalah pengingat bagi mereka berlima bahwa sejauh apa pun mereka merantau, setinggi apa pun jabatan yang dikejar Hifni, atau sehebat apa pun teknologi yang diciptakan Nazib, sujud kepada Sang Pencipta adalah kepulangan yang sesungguhnya. Di langit Banjarmasin tahun 2013, suara adzan Irvan bukan sekadar panggilan salat, tapi panggilan untuk tetap membumi di tengah ambisi.

Lanjut ke Bab 4: Kode dari Paringin – Nazib dan Tantangan Ilmu Komputer

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default