Bab 17: Humor yang Mengubah Pandangan

Bab 17: Humor yang Mengubah Pandangan

Lev
0

Setelah pengalaman yang berharga di Beverly Hills, Lev dan Sindy merasa perjalanan mereka semakin kaya makna. Namun, Sindy merasa ada sesuatu yang kurang. Sejak di Los Angeles, sisi komedi dari petualangan mereka mulai berkurang. Lev terlalu banyak merenung, dan Sindy merasa ia harus mengembalikan keceriaan.

“Lev, kamu itu kayak handphone lowbat tahu nggak? Dari tadi cuma diam, mikir, merenung. Perlu dicharge lagi nih,” kata Sindy suatu sore, di dalam mobil.

Lev tertawa. “Aku tidak lowbat, Sindy. Aku cuma banyak berpikir. Aku terkesan dengan apa yang kita lihat di sini.”

“Terkesan sih terkesan, tapi jangan sampai lupa ketawa dong. Nanti keriputmu nambah,” Sindy membalas.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil menuju Chicago. Jarak yang jauh membuat mereka harus berlama-lama di jalan. Lev, yang tidak bisa menyetir, hanya bisa menjadi navigator yang kadang salah.

“Lev, kok belok kanan? Harusnya belok kiri,” kata Sindy, dengan nada kesal.

“Aku kira itu belok kiri. Di Banjarmasin, kanan sama kiri kadang sama,” kata Lev, mencoba membela diri.

Sindy tertawa terbahak-bahak. “Kamu ini, peta aja bisa salah. Gini, kalau ada tulisan ‘kanan’, kamu harus belok kanan. Kalau ada tulisan ‘kiri’, kamu harus belok kiri.”

“Iya, iya, Sindy. Jangan marah-marah. Nanti aura cantiknya hilang,” kata Lev, yang membuat Sindy kembali tertawa.

Di tengah perjalanan, mereka berhenti di sebuah restoran cepat saji. Lev, seperti biasa, memesan makanan yang aman, yaitu salad. Sindy memesan burger keju dengan kentang goreng. Saat mereka sedang makan, seorang pria paruh baya dengan pakaian necis dan rambut yang rapi duduk di meja sebelah.

Pria itu memandangi Lev dari atas ke bawah, melihat baju koko yang Lev pakai. Lev merasa tidak nyaman. Ia tahu, pria itu menganggapnya aneh.

“Are you a tourist?” tanya pria itu, dengan nada sinis.

“Yes. From Indonesia,” jawab Lev, dengan tenang.

“Oh. I see,” kata pria itu, lalu kembali menikmati makanannya.

Sindy, yang menyadari tatapan sinis pria itu, langsung menyela. “He’s not a tourist. He’s a prince from Indonesia. He’s here for an adventure.”

Pria itu terkejut. Ia menatap Sindy dengan tatapan bingung. “A prince?”

Sindy mengangguk dengan serius. “Yes. A real prince. He’s just traveling undercover. You know, to see how the real world works.”

Lev melongo. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ingin tertawa, tapi takut ketahuan.

Pria itu terkesan. “I see. I apologize. I didn’t know,” katanya, dengan nada yang lebih ramah. “It’s an honor to meet you, Your Highness.”

Sindy memelototi Lev, seolah-olah menyuruhnya untuk diam. Lev hanya bisa mengangguk.

“My name is Mr. Johnson. I am a CEO of a very big company,” kata pria itu, sambil menjabat tangan Lev.

Sindy menyela, “Don’t shake hands with him. He’s allergic to germs from common people.”

Mr. Johnson menarik tangannya dengan cepat, wajahnya sedikit malu. Lev harus menahan tawanya agar tidak meledak.

Setelah Mr. Johnson pergi, Lev menatap Sindy dengan wajah tak percaya.

“Sindy! Kamu itu bikin masalah terus! Kenapa kamu bohong begitu?” tanya Lev, dengan nada gemas.

Sindy tertawa terbahak-bahak. “Masalah? Itu bukan masalah, Lev! Itu humor! Kamu lihat sendiri kan, dia langsung berubah. Dari yang tadinya sinis, jadi ramah. Karena dia pikir kamu itu penting. Lucu kan?”

Lev menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia tahu, Sindy benar. Humor memang bisa mengubah pandangan orang. Ia jadi sadar, kadang-kadang, kita tidak perlu marah atau kesal. Kita hanya perlu sedikit humor untuk membuat orang lain berpikir dua kali.

Setelah dari restoran, mereka melanjutkan perjalanan. Lev merasa lebih ringan. Ia tahu, Sindy akan selalu ada di sisinya, untuk mengingatkannya bahwa hidup tidak selalu serius. Dan yang paling penting, ia tahu, Sindy adalah teman terbaik yang pernah ia punya. Di tengah perjalanan yang panjang, Lev dan Sindy belajar bahwa humor bisa menjadi alat yang ampuh untuk mengubah pandangan, dan tawa bisa menjadi obat yang paling mujarab.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default