Bab 8: Sisi Lain Sang Psikolog

Bab 8: Sisi Lain Sang Psikolog

Lev
0

Setelah ziarah, suasana hati Lev sedikit lebih ringan. Meskipun duka masih menyelimutinya, setidaknya ia sudah mau berbicara, bahkan berbagi kenangan. Sepulang dari pemakaman, Cindy membiarkan Lev sendiri di kamarnya untuk beristirahat. Ia tahu, setelah mengeluarkan banyak emosi, Lev membutuhkan waktu untuk memprosesnya.

Cindy sendiri memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Ia melihat-lihat foto-foto keluarga yang terpajang, berhenti sejenak di depan foto Vania yang tersenyum. "Kamu orang yang baik, Vania. Aku akan bantu Lev," bisiknya dalam hati. Saat ia sedang asyik melihat foto, ia mendengar suara Tante Rosa dari dapur, sedang berbicara di telepon dengan suara pelan.

"Iya, Bu Dokter. Saya sudah coba semua cara, tapi dia tetap tidak mau," kata Tante Rosa, suaranya terdengar pasrah. "Dia hanya mau makan kalau Cindy yang bujuk."

Cindy mendekat, menyadari Tante Rosa sedang berbicara dengan seorang dokter.

"Tentu, Bu. Besok saya bawa Lev ke sana," lanjut Tante Rosa.
Tante Rosa mengakhiri panggilan, lalu menghela napas panjang. Ia menoleh dan terkejut melihat Cindy berdiri di dekatnya. "Eh, Cindy. Kamu sudah selesai istirahat?"

"Tante, Tante bicara dengan siapa?" tanya Cindy, penasaran.

"Itu... dokter yang sering memeriksa Lev. Dia minta Lev untuk diperiksa lagi, tapi Lev selalu menolak," jawab Tante Rosa, dengan nada sedih. "Dia bilang Lev butuh konseling profesional, tapi Lev tidak mau. Dia bilang dia tidak gila."

Cindy tersenyum. "Dia tidak gila, Tante. Dia hanya butuh waktu. Dan mungkin, orang yang bisa membuatnya nyaman."

Tante Rosa mengangguk. "Tante tahu. Tapi Tante khawatir."

"Tante tidak perlu khawatir," kata Cindy, menggenggam tangan Tante Rosa. "Biar Cindy yang urus."

Malamnya, setelah semua orang tidur, Cindy masih terjaga. Ia duduk di teras rumah, ditemani secangkir teh. Hawa malam yang lembap dan suara jangkrik membuat suasana terasa tenang. Dari kamarnya, Cindy melihat lampu kamar Lev masih menyala.

Ia lantas mengambil Al-Qur'an dari tasnya dan membukanya. Cindy mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang lembut. Ia tidak membaca dengan keras, hanya cukup untuk didengar oleh dirinya sendiri. Tapi suaranya yang merdu dan syahdu, entah bagaimana, berhasil merambat hingga ke kamar Lev.

Lev, yang sedang menatap kosong ke luar jendela, mendengar suara itu. Itu suara Cindy. Suara itu bukan suara yang konyol seperti saat ia menari dangdut, bukan suara yang serius seperti saat ia berbicara dengan Tante Rosa. Itu suara yang penuh kedamaian. Lev tidak tahu mengapa, tapi suara itu membuatnya merasa tenang. Ia mengambil sajadah dan duduk di atasnya. Ia tidak langsung sholat, hanya duduk diam, mendengarkan lantunan ayat suci itu.

Cindy terus membaca, tanpa tahu bahwa Lev sedang mendengarkannya. Ia membaca Surah Ar-Rahman, surah yang ia tahu sering dibaca oleh Vania. Ia berharap, lantunan ayat suci itu bisa sampai ke hati Lev, dan mengingatkannya pada Vania, tapi bukan dengan kesedihan, melainkan dengan kedamaian.

Cindy mengakhiri bacaannya, lalu menengadahkan tangan, berdoa. Ia memohon kepada Allah, agar diberikan kesabaran untuk Lev, dan diberikan jalan untuk membantu Lev kembali menemukan kebahagiaannya. Ia berdoa, tidak hanya untuk Lev, tapi juga untuk Vania, agar arwahnya diterima di sisi Allah.

Setelah selesai berdoa, Cindy kembali ke kamarnya. Ia tidak tahu, di kamar seberang, Lev juga sedang berdoa. Bukan doa yang penuh dengan keputusasaan, melainkan doa yang penuh dengan harapan. Berkat suara Cindy yang merdu, Lev merasa lebih dekat dengan Vania, dan juga lebih dekat dengan Tuhan. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak Vania tiada, Lev bisa tidur dengan nyenyak.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default