Bab 17: Wisata Danau Terpencil

Bab 17: Wisata Danau Terpencil

Lev
0
"Ini Danau Turgoyak," kata Kamil, pemuda Muslim lokal yang Lev kenal di toko halal. "Banyak orang bilang ini seperti Danau Baikal, tapi versi mini. Airnya sangat bersih dan jernih."

Lev mengangguk-angguk, matanya tak lepas dari pemandangan di depannya. Di bawah langit Chelyabinsk yang cerah, hamparan es tebal menutupi seluruh permukaan danau. Beberapa orang terlihat bermain skating, sementara yang lain memancing di lubang-lubang yang mereka buat di es. Jauh di seberang danau, barisan pohon-pohon yang meranggas tampak seperti siluet, menciptakan pemandangan yang magis.

Lev, Kamil, dan Faruq, pengusaha dari Uzbekistan, memutuskan untuk menghabiskan hari libur mereka dengan berwisata ke danau terpencil ini. Mereka bertiga berjalan di atas permukaan es, ditemani oleh Alim, mahasiswa dari Turkmenistan. Lev merasa sangat nyaman. Ia tidak lagi merasa asing. Ia merasa diterima, merasa menjadi bagian dari mereka.

"Kamu suka?" tanya Faruq, melihat Lev yang terus memotret dengan ponselnya.

"Sangat suka," jawab Lev. "Saya tidak pernah membayangkan akan melihat danau seperti ini. Di Banjarmasin, kami punya sungai, tapi tidak ada yang seperti ini."

Mereka berempat menyusuri danau, tertawa dan berbincang. Faruq menceritakan tentang bisnisnya, Alim bercerita tentang kuliahnya, dan Kamil bercerita tentang keluarganya. Lev juga menceritakan tentang pengalamannya di Perm, tentang Sofia dan insiden koper yang lucu. Mereka semua mendengarkan dengan penuh minat, kadang tertawa terbahak-bahak mendengar cerita-cerita konyol Lev.

Setelah berjalan cukup lama, mereka memutuskan untuk istirahat. Mereka membawa bekal makanan halal yang mereka beli di toko Ruslan. Ada roti, sosis halal, dan beberapa camilan manis. Mereka duduk di atas es, menggelar karpet kecil, dan makan bersama.

"Ini seperti... piknik di es," kata Lev.

"Ya. Ini tradisi kami," jawab Kamil. "Menikmati alam ciptaan Allah."

Saat mereka makan, Lev merenung. Ia merasa begitu bersyukur. Ia datang ke Rusia untuk mencari petualangan, untuk melihat dunia. Tapi ia mendapatkan lebih dari itu. Ia mendapatkan teman-teman baru, persaudaraan baru, dan pelajaran berharga tentang iman dan kebersamaan. Ia belajar bahwa Islam tidak hanya ada di Indonesia. Islam ada di mana-mana. Dan di mana pun ia berada, ia akan selalu menemukan saudara seiman yang siap menerimanya.

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, mereka memutuskan untuk pulang. Sebelum pulang, mereka shalat Asar berjamaah di dekat danau. Di atas es, dengan pemandangan danau yang membeku dan langit senja yang memerah, mereka shalat bersama. Lev merasa begitu damai. Ia merasa begitu dekat dengan Allah. Ia merasa ini adalah pengalaman spiritual yang paling indah selama perjalanannya.

Setelah shalat, mereka pulang. Di dalam mobil, mereka menyanyikan lagu-lagu Islami, lagu-lagu dari negara masing-masing. Lev menyanyikan lagu dari Indonesia, mereka menyanyikan lagu dari Uzbekistan dan Turkmenistan. Suara mereka berpadu, mengisi mobil dengan harmoni yang indah.
"Kamu punya suara yang bagus, Lev," puji Alim.

"Ah, tidak juga," balas Lev malu-malu. "Tapi terima kasih."

Setibanya di hostel, Lev berterima kasih kepada mereka semua. "Terima kasih banyak, teman-teman. Hari ini adalah hari yang tidak akan saya lupakan."

"Sama-sama, Nak," kata Faruq. "Senang bisa jalan-jalan denganmu."

Lev masuk ke hostel dengan hati yang penuh. Ia tidak lagi merasa sendirian. Ia tahu, ia punya teman-teman baru di Chelyabinsk. Dan ia tahu, petualangannya masih panjang. Tapi ia tidak lagi takut. Ia tahu, di mana pun ia berada, ia akan selalu menemukan kebaikan dan persaudaraan.

Malam itu, Lev menulis di jurnalnya.
“Chelyabinsk. Danau Turgoyak. Hari ini, aku melihat keindahan alam yang luar biasa. Aku juga melihat keindahan persaudaraan. Aku belajar, bahwa Allah menciptakan keindahan di mana-mana. Dan Dia juga menciptakan kebaikan di mana-mana. Aku bersyukur. Alhamdulillah.”
Di luar jendela, salju kembali turun. Lev tersenyum. Dinginnya Chelyabinsk tidak lagi terasa. Hatinya sudah penuh dengan kehangatan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default