Bab 18: Petualangan di Paris

Bab 18: Petualangan di Paris

Lev
0

Dari Cordoba yang penuh sejarah, Lev dan Emily terbang menuju Paris. Di kota cinta itu, mereka disambut dengan suasana yang romantis, menawan, tetapi juga ramai dan padat. Lev, yang sudah terbiasa dengan kota besar seperti London, tidak merasa canggung. Ia bersemangat untuk memotret Menara Eiffel, Museum Louvre, dan berbagai sudut kota yang ikonik.

Setibanya di Paris, mereka naik metro menuju penginapan mereka. Di dalam metro, Emily, yang pernah belajar bahasa Prancis di sekolah, mencoba berbicara dengan seorang penumpang.

"Parlez-vous anglais?" tanya Emily, dengan aksen Prancis yang masih terbata-bata.

Penumpang itu, seorang wanita paruh baya dengan topi beret, menatap Emily dengan bingung. Emily mencoba lagi, "Excusez-moi, est-ce que vous parlez anglais?"

Wanita itu menggeleng. "Non, je ne parle pas anglais."

Emily, yang merasa sedikit malu, kembali duduk. Lev, yang tidak mengerti apa-apa, bertanya, "Kenapa? Dia tidak mau bicara denganmu?"

"Dia tidak bisa bahasa Inggris," jawab Emily, terdengar sedikit kesal. "Aku sudah mencoba bicara bahasa Prancis dengannya, tapi sepertinya bahasa Prancisku tidak begitu bagus."

Lev mencoba menenangkan Emily. "Tidak apa-apa. Kamu sudah berusaha."

Mereka tiba di penginapan mereka, sebuah apartemen kecil yang berada di lantai atas sebuah bangunan tua. Dari jendela, mereka bisa melihat Menara Eiffel yang menjulang tinggi, dengan lampu-lampu yang mulai menyala di sore hari. Lev langsung mengeluarkan kameranya dan memotret Menara Eiffel, yang terlihat sangat indah di bawah langit senja.

"Ini luar biasa, Emily," kata Lev, dengan nada kagum. "Paris benar-benar kota yang indah."

Emily tersenyum. "Aku tahu kamu akan menyukainya. Tapi tunggu sampai kita berjalan-jalan di malam hari."

Setelah beristirahat sejenak, mereka berdua keluar untuk makan malam. Emily, yang merasa frustrasi dengan kegagalannya berbahasa Prancis, mencoba lagi. Saat mereka berada di sebuah restoran, ia mencoba memesan makanan dengan bahasa Prancis.

"Je voudrais... uhm... deux croissants... et un... uhm... un thé," kata Emily, dengan terbata-bata.

Pelayan itu, seorang pria dengan kumis tebal, menatap Emily dengan bingung. Ia mencoba mengulang pesanan Emily, tetapi dengan aksen Prancis yang sangat cepat. Emily, yang tidak mengerti, hanya mengangguk-angguk. Lev, yang duduk di sebelahnya, hanya bisa menahan tawa.

Saat makanan datang, mereka terkejut. Pelayan itu membawakan mereka dua croissant, satu cangkir teh, dan... sebuah piring berisi keong. Emily menatap piring itu dengan kaget.

"Ini... ini escargot?" tanya Emily, dengan suara bergetar.

Pelayan itu tersenyum dan mengangguk. "Oui, escargot."

Lev tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai air mata menetes di sudut matanya. Emily, yang malu, hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik tangannya.

"Bagaimana bisa kau memesan escargot?" tanya Lev, di antara tawanya.

"Aku... aku tidak tahu," jawab Emily, terdengar putus asa. "Aku hanya bilang 'un thé', bukan 'escargot'."

"Mungkin dia mengira 'thé' itu 'escargot'," canda Lev.

Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk tidak makan escargot. Lev memotret piring itu, mencoba menangkap momen konyol itu. Mereka berdua makan croissant dan minum teh, sambil terus tertawa.

Malam itu, saat mereka berjalan pulang, Lev merasa sangat bahagia. Ia menyadari bahwa perjalanannya di Paris tidak hanya tentang memotret Menara Eiffel atau museum, tetapi juga tentang menemukan tawa di tengah kesalahpahaman. Dan dengan Emily di sisinya, ia tahu bahwa setiap petualangan akan menjadi cerita yang tak terlupakan, bahkan jika itu adalah makan malam yang salah.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default