Hujan di Manchester sore itu turun lebih lebat dari biasanya, jenis hujan yang membuat pandangan ke arah Beetham Tower tertutup kabut abu-abu. Layla kembali ke Royal Manchester Children’s Hospital dengan payung merah yang hampir patah diterjang angin North West.
Begitu ia melangkah masuk ke bangsal onkologi, suasana terasa berbeda. Ada bisik-bisik penuh semangat di antara para staf. Layla melirik jam tangannya; masih dua jam menuju berbuka. Perutnya mulai melilit, namun rasa penasarannya lebih besar.
"Ada apa, Sarah? Kenapa semua orang terlihat seperti baru saja memenangkan lotre?" tanya Layla sambil melepas jaketnya yang basah.
Sarah, rekan perawatnya, mendekat dengan mata membelalak. "Ada kunjungan mendadak di Kamar 402. Tanpa kamera, tanpa publikasi. Dia baru saja masuk lima menit yang lalu."
Jantung Layla berdegup kencang. Ia segera berjalan menuju kamar Toby. Di ambang pintu, ia membeku.
Di samping tempat tidur Toby, duduk seorang pria paruh baya dengan jaket hitam polos. Pria itu tidak setinggi pemain basket, namun auranya memenuhi ruangan. Ia sedang memegang syal Manchester City milik Toby dan tertawa kecil.
"Jadi, kau pikir Haaland bisa melampaui rekor mencetak golku?" tanya pria itu dengan aksen yang sangat dikenal oleh setiap telinga orang Manchester.
Toby tampak terpana, mulutnya menganga. "Mungkin... tapi Ayah bilang Anda adalah raja yang sebenarnya."
Layla menutup mulutnya dengan tangan. Itu adalah Wayne Rooney. Sang pencetak gol terbanyak sepanjang masa United, legenda yang posternya dulu memenuhi kamar Layla saat masih remaja.
Layla memberanikan diri masuk. "Maaf mengganggu... saya perawat yang bertugas sore ini."
Rooney menoleh dan tersenyum ramah, jenis senyum yang jarang terlihat di depan kamera media. "Ah, perawat United kita. Toby sudah bercerita banyak tentangmu. Katanya kau mencoba menyuapnya dengan kurma agar dia berhenti mendukung City?"
Layla merona merah, hampir senada dengan warna jersey United. "Hanya usaha kecil untuk menyelamatkan masa depannya, Sir."
Rooney tertawa lepas. "Toby, dengarkan aku. Di kota ini, kita boleh berbeda warna, tapi kita satu hati dalam mencintai permainan ini. Dan Layla benar, kurma itu bagus untuk stamina. Aku dulu sering memakannya diam-diam saat bertanding di bulan Ramadan melawan tim-tim dari Timur Tengah."
Selama tiga puluh menit berikutnya, Layla menyaksikan sebuah keajaiban yang tidak bisa diberikan oleh obat medis mana pun. Toby, yang biasanya lemas karena kemoterapi, tiba-tiba terlihat penuh energi. Mereka tidak bicara tentang taktik atau uang; mereka bicara tentang semangat untuk terus berjuang saat semua orang meragukanmu.
Saat Rooney hendak pamit, ia berhenti di dekat Layla di koridor yang sepi.
"Terima kasih atas apa yang kalian lakukan di sini," kata Rooney dengan nada serius. "Toby bilang kau sedang berpuasa. Itu tangguh. Aku tahu betapa beratnya tetap fokus saat lapar."
Layla mengangguk pelan. "Ini tentang dedikasi, Sir. Sama seperti yang Anda tunjukkan di lapangan selama bertahun-tahun."
Rooney merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah pin kecil berbentuk logo Manchester United yang tampak klasik. "Ini dari koleksi pribadiku. Berikan pada ayahmu. Toby bilang ayahmu sedang berjuang dengan ingatannya. Katakan padanya, dari satu fans ke fans lainnya: The Red Devils never forget their own."
Layla menerima pin itu dengan tangan gemetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Terima kasih... Anda tidak tahu betapa berartinya ini bagi kami."
Waktu berbuka puasa tiba tepat saat Rooney meninggalkan rumah sakit. Layla duduk di samping tempat tidur Toby yang kini sudah tertidur pulas dengan senyum di wajahnya. Di meja kecil, ada segelas air putih dan dua butir kurma yang disiapkan oleh ibu Toby.
"Alhamdulillah," bisik Layla.
Ia meminum airnya perlahan, merasakan kesegaran yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, rasa syukur terbesarnya malam itu bukan karena air atau makanan. Melainkan karena ia baru saja menyaksikan bahwa di bawah langit Manchester yang dingin, kebaikan bisa datang dari arah yang paling tidak terduga.
Ia meraba pin di sakunya. Ia sudah tidak sabar untuk pulang dan menunjukkannya pada ayahnya. Ia ingin melihat cahaya di mata Malik sekali lagi.
Namun, saat ia membuka ponselnya untuk mengirim pesan pada Yusuf, sebuah notifikasi berita muncul di layar: "Kondisi cuaca ekstrem di Salford, beberapa akses jalan ditutup karena banjir lokal."
Layla cemas. Ayahnya sendirian di rumah. Yusuf seharusnya sudah sampai di sana sejam yang lalu, tapi tidak ada kabar. Dengan rasa khawatir yang mulai merayap, Layla bersiap untuk menembus badai Manchester demi rumahnya yang berwarna merah.
Proactive Follow-up: Mau lanjut ke Bab 6, di mana Layla harus terjebak banjir dalam perjalanan pulang dan bertemu dengan sekelompok fans City yang justru membantunya pulang demi sang Ayah? #GGMU
