Perjalanan panjang di udara akhirnya usai. Setelah transit beberapa kali, Lev Ryley tiba di Bandara Internasional Perth dengan perasaan campur aduk. Ia melangkah keluar dari pesawat, disambut oleh udara yang sejuk dan aroma khas bandara internasional yang begitu berbeda dari aroma tanah basah dan sungai di Banjarmasin. Di balik gerbang kaca, papan-papan penunjuk jalan dan pengumuman dalam bahasa Inggris menjadi pemandangan pertama yang terasa asing sekaligus menantang.
Momen pertama culture shock terjadi bahkan sebelum ia melewati imigrasi. Ia melihat banyak orang dari berbagai etnis dan penampilan, berlalu-lalang dengan santai. Ada yang berpakaian musim dingin tebal meski ini belum puncaknya, ada yang berambut pirang dengan mata biru, dan ada pula yang terlihat sama kagetnya seperti dirinya, mungkin pendatang baru juga. Lev merasa seperti ikan kecil yang baru saja dilempar ke lautan luas yang asing.
Setelah proses imigrasi yang sedikit menegangkan karena ia harus menjelaskan dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Lev berhasil mengambil kopernya. Ia mencari-cari papan penjemputan dari pihak universitas, di tengah keramaian. Sebuah spanduk bertuliskan nama universitas dan beberapa nama mahasiswa, termasuk namanya, membuatnya tersenyum lega. Di sana berdiri seorang wanita muda, mungkin seumuran dengannya, dengan rambut pirang yang dikuncir kuda dan senyum ramah.
"Lev Ryley?" sapanya dengan aksen Australia yang kental.
Lev mengangguk canggung. "Y-yes, that's me," jawabnya.
"Hi, I'm Sarah. Selamat datang di Perth," kata wanita itu sambil mengulurkan tangan. Lev membalas uluran tangan itu dengan sedikit ragu, karena ia terbiasa tidak menyentuh lawan jenis yang bukan mahramnya. Namun, ia tidak ingin terlihat tidak sopan di hari pertama, jadi ia tetap menjabatnya dengan singkat.
Di dalam mobil yang mengantar menuju asrama mahasiswa, momen-momen canggung penuh komedi mulai terjadi. Sarah, yang ramah dan cerewet, bertanya banyak hal tentang Banjarmasin.
"Jadi, kamu dari tempat yang namanya Banjarmasin?" tanya Sarah. "Apakah itu dekat dengan Bali? Aku pernah ke Bali!"
Lev tertawa kecil. "Emm, tidak terlalu. Banjarmasin itu di Kalimantan, sebuah pulau yang sangat besar," jelasnya.
"Wow, jadi kamu jauh sekali dari rumah ya," komentar Sarah. "Kamu pasti rindu masakan ibumu. Apakah kamu suka makan ikan?"
"Sangat suka," jawab Lev bersemangat. "Ikan gabus dengan bumbu kuning, itu enak sekali."
Sarah mengerutkan kening. "Ikan gabus? Apakah itu sejenis ikan kakap?"
Lev mencoba menjelaskan, namun keterbatasan kosakata membuatnya kesulitan. "Seperti... ular... tapi ikan..." Ia tertawa sendiri karena deskripsinya yang aneh.
"Ular ikan?" Sarah ikut tertawa. "Wah, kedengarannya menarik! Kamu harus memasakkannya untukku suatu hari nanti!"
Lev hanya tersenyum tipis. Dalam hati ia berpikir, bagaimana caranya masak ikan gabus di sini? Bahannya saja belum tentu ada.
Setibanya di asrama, Lev disambut oleh beberapa mahasiswa yang terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka hanya menyapa singkat dan kembali ke kamar mereka. Lev merasa sedikit kesepian. Ia menempati sebuah kamar sederhana dengan satu ranjang, meja belajar, dan sebuah lemari. Setelah membereskan barang-barangnya, ia bergegas mencari kiblat untuk salat zuhur.
Momen lucu lainnya terjadi ketika Lev, yang bingung mencari kiblat di dalam kamar, memutuskan untuk keluar dan mencari petunjuk. Ia melihat seorang mahasiswa lain sedang bermain gitar di taman. Dengan berani, ia menghampiri mahasiswa itu.
"Emm, permisi," sapa Lev. "Bolehkah saya bertanya... uhm... di mana arah ke Mekkah?"
Mahasiswa itu, yang ternyata bernama Josh, terkejut dan bingung. "Mekkah? Itu di Arab Saudi kan? Tapi kenapa kamu tanya saya?"
Lev menyadari kesalahannya. "Maaf, maksud saya, di mana arah shalat saya?"
Josh semakin bingung. "Arah shalat? Maksudnya... shalat adalah... berdoa? Kamu mau berdoa di mana?"
Dengan sabar, Lev mencoba menjelaskan. "Bukan, bukan. Salat adalah ibadah dalam Islam. Kami harus menghadap ke arah Mekkah saat shalat. Jadi, saya butuh tahu... arahnya."
Josh mengerutkan kening, lalu tiba-tiba matanya berbinar. "Oh! Prayer direction! Tunggu, aku punya aplikasi kompas di HP-ku!"
Josh segera mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi kompas. Beberapa saat kemudian, ia menunjuk ke arah utara-barat. "Nah, itu dia! Arah ke Mekkah!" serunya dengan bangga.
Lev tersenyum lega. "Terima kasih banyak, Josh. Kamu sangat baik," katanya tulus.
Meskipun masih merasa canggung, Lev mulai merasa sedikit lebih nyaman. Ia menyadari bahwa di balik perbedaan budaya yang begitu besar, selalu ada kebaikan dan keramahan yang bisa ditemukan di mana saja. Petualangan Lev di Perth baru saja dimulai, dan ia siap menghadapi kejutan-kejutan lainnya dengan senyum dan iman yang teguh.
