Perjalanan panjang dari Banjarmasin ke Alaska adalah sebuah maraton fisik dan mental. Dari cuaca tropis yang lembap ke udara dingin yang menusuk tulang, semua terasa begitu cepat dan asing. Lev Ryley mendarat di Ted Stevens Anchorage International Airport dengan mata yang berat karena jet lag dan hati yang bercampur antara antusiasme dan kecemasan.
Bandara itu ramai, tetapi suasananya sangat berbeda dari bandara-bandara di Indonesia. Tidak ada hiruk pikuk penjual asongan atau sapaan ramah yang akrab. Semua bergerak cepat, teratur, dan dengan bahasa yang masih terdengar asing di telinga Lev. Ia menarik koper birunya yang sudah agak usang, peninggalan sang ayah, melewati kerumunan orang.
Ketika akhirnya ia berhasil menemukan area pengambilan bagasi, Lev menyadari sebuah masalah kecil yang bisa berakibat fatal: koper peninggalan ayahnya tidak ada. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, dan membaca bismillah. Dengan modal bahasa Inggris yang pas-pasan, ia mencoba menjelaskan masalahnya kepada seorang petugas yang sibuk.
"Excuse me... my... my baggage... it's gone," ucap Lev, dengan aksen Indonesia yang kental.
Petugas itu mengerutkan dahi, menatapnya bingung. "Your what?"
"My... my case... the blue one... with the sticker... it's not here," jelas Lev, sambil menunjuk area pengambilan bagasi dengan panik.
Petugas itu akhirnya mengerti dan meminta Lev untuk mengikuti prosedur kehilangan bagasi. Lev harus mengisi formulir yang rumit, dengan pertanyaan-pertanyaan yang ia tak pahami sepenuhnya. Di tengah kebingungannya, ia melihat seorang wanita muda dengan rambut berwarna-warni dan pakaian yang unik, sedang duduk di sebuah kursi sambil memainkan sebuah game di ponselnya.
Wanita itu menyadari kebingungan Lev. Dengan senyum ramah, ia menghampiri Lev.
"Hei, kau butuh bantuan?" Tanyanya, dalam bahasa Inggris yang cepat namun jelas.
Lev menoleh. "Oh... yes... my baggage is missing..."
"Koper biru yang ada stiker kota apa itu?" tanya wanita itu sambil menunjuk ke formulir yang Lev pegang.
"Banjarmasin..." jawab Lev.
Wanita itu tertawa kecil. "Stiker itu keren sekali. Aku Sindy. Anak asrama di kampus ini juga."
Lev merasa lega. Ia akhirnya bertemu dengan seseorang yang ramah. "Aku Lev. Dari Banjarmasin."
Sindy menjelaskan formulir itu dengan sabar dan membantu Lev mengisinya. "Jangan khawatir, biasanya cuma nyasar. Besok juga nyampe," katanya, mencoba menenangkan Lev.
Interaksi pertama mereka dipenuhi dengan gelak tawa. Sindy, yang ternyata memiliki kepribadian secerah warna rambutnya, banyak bertanya tentang Banjarmasin, tentang cuaca yang panas, dan tentang masakan Indonesia. Lev menjawab sebisanya, sambil mengamati tingkah Sindy yang tak biasa.
"Jadi, kamu Muslim?" tanya Sindy, tiba-tiba.
"Iya, kenapa?"
"Oh, tidak apa-apa. Kebetulan teman sekamarku juga Muslim, tapi dari Mesir. Dia pakai hijab," jelas Sindy. "Aku cuma penasaran. Aku jarang lihat cowok Muslim yang pakai... apa itu namanya? Koko, ya?"
Lev mengangguk. "Ya, koko. Ini pakaian khas di sana."
Sindy mengangguk-angguk. "Keren. Jadi, kapan kita bisa makan nasi kuning yang kamu ceritakan itu?"
Lev tersenyum. Kegelisahannya tentang koper hilang dan lingkungan baru perlahan sirna. Pertemuan dengan Sindy menjadi angin segar di tengah badai jet lag dan kebingungan. Ia merasa bahwa perjalanannya di Amerika tidak akan seburuk yang ia bayangkan. Mungkin, di panggung yang jauh dari rumah ini, ia akan menemukan pertunjukan yang sangat berbeda, tapi juga tak kalah indahnya. Malam itu, ia tidur dengan sebuah harapan baru, menantikan petualangan yang baru saja dimulai.
