Lev tahu, menghadapi misi dari Kakek sama saja seperti menghadapi ujian dadakan saat ulangan sekolah dulu: butuh persiapan, tapi sering kali salah fokus dan berakhir dengan kekacauan. Pilihan pertama jatuh pada Rauf, sahabatnya sejak SMP, yang kini bekerja sebagai freelancer graphic designer. Rauf adalah kebalikan Lev: terorganisir, teliti, dan sedikit paranoid. Kombinasi yang sempurna untuk misi kakek yang absurd ini.
"Mau ke Hulu Sungai? Jalan-jalan?" Rauf bertanya, matanya masih terfokus pada layar komputer yang memancarkan cahaya biru. Lev sedang duduk di sofa ruang kerja Rauf, memegang selembar peta kusut yang diserahkan Kakek.
"Bukan jalan-jalan, Raup," koreksi Lev, "tapi misi. Misi suci dari Kakek."
Rauf menaikkan alisnya. "Misi suci apa? Mencari makam keramat yang hilang?"
"Bukan. Ini lebih berat dari itu. Mendokumentasikan kehidupan, budaya, dan nilai-nilai Islam di setiap kabupaten Hulu Sungai. Ini bukan kaleng-kaleng, Bro. Ini demi kearifan lokal," ujar Lev dramatis, sambil menepuk-nepuk peta.
"Tunggu, tunggu. Kakekmu yang memberimu tugas ini?" Rauf memutar kursinya, menatap Lev lekat-lekat. "Kakekmu yang nyaris membakar dapur gara-gara percobaan memasak kue bingka kentang itu? Kek, yang kalau lagi kesal suka ngomel pakai bahasa Banjar yang sampai sekarang aku enggak paham artinya?"
Lev mengangguk mantap. "Dia. Dan dia bilang ini untuk mendewasakan aku. Tapi aku curiga, ada iming-iming hadiah menarik di baliknya."
"Hmm," Rauf mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir. "Mendewasakanmu? Kek, tahu betul kamu ini terlalu santai. Tapi kenapa harus melibatkan aku?"
"Karena kamu itu penyeimbangku, Rauf! Kamu yang suka mikir, aku yang suka action. Kita ini tim yang tak terkalahkan!" seru Lev penuh semangat.
Rauf menatapnya skeptis. "Atau kamu butuh seseorang yang bisa menyelamatkanmu saat kamu kena masalah karena kecerobohanmu?"
"Itu juga termasuk," Lev nyengir lebar.
Malam itu, dimulailah persiapan yang lebih mirip sketsa komedi daripada rencana perjalanan. Lev menyiapkan kamera SLR kesayangannya, beberapa lensa, dan drone bekas yang entah bisa terbang atau tidak. Sementara Rauf membuat daftar logistik yang super detail, mulai dari perkiraan cuaca, daftar masjid yang akan dikunjungi, hingga rute perjalanan yang efisien.
"Kita akan naik mobil, ya?" tanya Lev, sambil mengemasi beberapa pakaian di tas ransel.
"Ya iyalah, Lev. Mana mungkin kita jalan kaki. Kecuali kamu mau jadi atlet jalan kaki dadakan," jawab Rauf tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. "Aku sudah sewa mobil, yang kuat di tanjakan dan irit bahan bakar."
"Mantap!" seru Lev. "Tapi, kita bawa apa aja, ya? Kayaknya kita butuh tenda, kompor, sama sleeping bag."
"Tenda? Kompor? Kamu pikir kita mau camping? Ini tugas observasi, Lev, bukan survival," Rauf menghela napas. "Kita menginap di penginapan, bukan di hutan."
"Ya, kan, untuk jaga-jaga," bela Lev. "Siapa tahu kita dapat cerita horor di tengah hutan, kan seru!"
Rauf hanya menggelengkan kepala. "Jaga-jaga buat apa? Jaga-jaga kalau kamu nyasar lagi?"
Keesokan harinya, mereka berbelanja di salah satu toko perlengkapan outdoor di Banjarmasin. Lev langsung kalap. Ia membeli topi fedora, kacamata hitam, bahkan sarung tangan tactical ala agen rahasia. Rauf hanya bisa pasrah melihat tingkah sahabatnya.
"Lev, kita mau ke Hulu Sungai, bukan ke Timur Tengah," bisik Rauf, saat Lev mencoba-coba jaket tebal yang cocok untuk mendaki gunung salju.
"Ya, kan, keren, Rauf! Gaya itu nomor satu. Dokumentasi juga harus keren!" jawab Lev, sambil berpose layaknya model.
Puncak kekacauan terjadi saat mereka mengepak barang. Rauf dengan teliti menata tasnya, sementara Lev memasukkan barang-barang acak, seperti sebuah rice cooker mini, buku cerita anak-anak, dan boneka beruang dari hadiah ulang tahunnya tahun lalu.
"Lev! Kenapa kamu bawa rice cooker?" Rauf hampir menjerit.
"Kan buat masak nasi, Rauf! Biar hemat. Kita bisa masak di mobil," jawab Lev enteng.
"Kita di penginapan, Lev! Mereka pasti punya penanak nasi!"
"Ya, kan, buat jaga-jaga," ulang Lev.
"Alasanmu 'jaga-jaga' itu selalu aneh, Lev," Rauf mengacak-acak rambutnya frustasi.
Hari keberangkatan tiba. Kakek Lev datang mengantar mereka, dengan senyum penuh arti di wajahnya.
"Hati-hati di jalan. Jangan bikin malu keluarga," pesan Kakek.
"Siap, Kek!" jawab Lev penuh semangat, sambil melompat ke kursi kemudi.
"Tunggu, Lev! Aku saja yang nyetir!" Rauf panik. Ia tidak akan pernah membiarkan Lev mengemudikan mobil sejauh itu.
Akhirnya, dengan Rauf di kursi kemudi dan Lev di sebelahnya sambil memegang peta terbalik, mereka memulai perjalanan ke Kandangan, kabupaten pertama yang dituju. Di dalam mobil, Lev terus-menerus memotret pemandangan lewat jendela, sementara Rauf sibuk mengumpat pelan karena Lev tak sengaja menendang tas berisi bekal mereka, membuat kue lam dan apam barabai berhamburan.
Perjalanan ke Hulu Sungai, yang Lev kira akan menjadi petualangan epik penuh ketenangan, tampaknya akan menjadi petualangan kocak penuh kekacauan. Dan Rauf, ia baru menyadari, ia telah terjebak dalam perangkap Kakek Lev untuk mendewasakan Lev sekaligus dirinya sendiri. Selamat datang di babak pertama komedi absurd Lev dan Rauf di tanah Hulu Sungai.
