Setelah berhasil menemukan Masjid Ahi Elvan berkat Emily, Lev Ryley seperti mendapat suntikan energi baru. Lelahnya karena tersesat sirna seketika, tergantikan oleh antusiasme seorang fotografer yang baru menemukan objek menarik. Sementara Emily menunggu di halaman masjid, Lev melangkah masuk.
Di dalam, suasananya tenang dan damai. Cahaya masuk melalui jendela-jendela kecil, menciptakan bayangan-bayangan panjang di atas lantai kayu yang mengilap. Tidak ada karpet tebal dengan pola rumit, hanya kesederhanaan yang menenangkan. Lev mengeluarkan kameranya dengan hati-hati, berusaha agar tidak membuat suara. Ia mulai memotret, fokus pada detail-detail kecil: ukiran kaligrafi yang samar di dinding, pantulan cahaya pada pilar, dan seorang lelaki tua yang sedang khusyuk membaca Al-Qur'an di sudut ruangan.
Namun, tidak lama kemudian, Lev mendengarkan suara batuk pelan dari belakangnya. Ia menoleh dan melihat seorang penjaga masjid, lelaki paruh baya dengan kumis tebal, menatapnya dengan ekspresi bingung. Penjaga itu mulai berbicara dalam bahasa Turki. Lev hanya bisa tersenyum dan menggeleng, tanda ia tidak mengerti.
"Foto? Boleh, tapi... bukan di sini," kata penjaga itu, mencoba berkomunikasi dengan gestur tangan.
Lev mengira penjaga itu mengizinkannya mengambil foto, jadi ia mengangguk dan kembali fokus pada kameranya. Penjaga itu memijat pelipisnya, lalu memanggil seseorang dari luar. Tidak lama kemudian, Emily masuk. Wajahnya terlihat khawatir.
"Lev, dia bilang jangan mengambil foto di area shalat," bisik Emily. "Masjid ini punya area khusus untuk berfoto. Sebaiknya kamu ikuti saja peraturannya."
Lev menelan ludah, merasa malu. Ia segera mengangguk pada penjaga itu, menyimpan kameranya, dan mengikuti Emily keluar.
"Aku... maaf," ujar Lev, merasa bersalah. "Aku tidak bermaksud tidak sopan. Aku pikir dia mengizinkanku."
Emily terkekeh. "Tidak apa-apa. Penjaga itu sering mengalami hal seperti ini. Wisatawan sering tidak tahu tata krama di tempat ibadah."
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan kecil di samping masjid. Ruangan itu berfungsi sebagai museum mini, memajang beberapa artefak dan foto-foto lama masjid. Di sinilah Lev diperbolehkan mengambil foto sepuasnya.
Lev mulai memotret lagi, kali ini dengan arahan dari Emily. Emily menceritakan sejarah masjid itu, bagaimana ia dibangun oleh sebuah perkumpulan pedagang dan pengrajin pada masa lalu, dan mengapa desainnya begitu sederhana.
"Jadi, kamu seorang fotografer dari mana?" tanya Emily, sambil melihat Lev sibuk dengan kameranya.
"Aku dari Banjarmasin, Indonesia." jawab Lev. "Aku memenangkan beasiswa ini, dan perjalananku dimulai di sini."
"Indonesia? Pantesan logatmu aneh, kurasa aku pernah mendengar nama Indonesia." canda Emily.
Lev langsung berhenti memotret. "Logatku tidak aneh! Ini logat standar!"
"Standar menurutmu," balas Emily dengan seringai. "Kedengarannya seperti kombinasi 'posh' dan 'cheeky'. Lucu."
Lev berpura-pura cemberut. "Ternyata kamu tidak semanis kelihatannya."
"Dan ternyata kamu tidak seburuk fotomu," Emily membalas, sambil melihat hasil jepretan Lev. "Ini bagus. Kamu punya mata yang jeli."
Pujian dari Emily membuat Lev sedikit tersipu. Mereka terus berbincang, membicarakan hal-hal sepele, dari hobi masing-masing hingga makanan favorit. Lev menemukan bahwa Emily memiliki selera humor yang mirip dengannya, sering melontarkan komentar sarkastik yang membuat suasana menjadi hidup.
Saat mereka keluar dari masjid, langit sudah mulai cerah, dan gerimis telah berhenti. Jalanan basah memantulkan cahaya. Lev mengambil foto terakhir dari halaman masjid, memotret kubah kecil yang terlihat lebih indah dengan latar belakang langit yang cerah.
"Kamu yakin mau mentraktirku makan malam?" tanya Emily. "Aku bisa saja mengambil keuntungan dari kebaikanmu."
"Justru itu yang aku harapkan," canda Lev. "Aku butuh pemandu kuliner yang handal."
Emily mengangguk, lalu menunjuk ke sebuah gang kecil. "Ikut aku. Ada tempat makan rahasia yang tidak akan kamu temukan di Google Maps."
Mereka berjalan menyusuri jalanan Ankara yang ramai. Lev merasa bahwa kesialannya di awal perjalanan telah terbayar lunas. Ia tidak lagi peduli apakah ia berada di Ankara atau Istanbul. Yang ia tahu, petualangannya baru saja dimulai, dan ia punya teman seperjalanan yang menarik, cerdas, dan lucu. Dan yang paling penting, ia tahu jalan ke mana-mana.
Malam itu, di sebuah warung makan sederhana, Lev dan Emily makan döner kebab terenak yang pernah Lev rasakan. Mereka tertawa, bercerita, dan berdebat tentang sejarah Turki. Tanpa mereka sadari, ikatan persahabatan di antara mereka semakin erat, terbentuk di antara kubah sederhana dan kamera seorang fotografer yang tersesat. Pertemuan mereka di masjid Ahi Elvan bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan pertemuan dua hati yang memiliki tujuan sama: menemukan makna di balik setiap perjalanan.
