Beberapa minggu berlalu, Karina mulai menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya sebagai mahasiswi di Manchester. Jadwal kuliah yang padat, tugas-tugas yang menumpuk, dan sesekali bersosialisasi dengan teman-teman sesama mahasiswa internasional. Ia berusaha keras untuk menyibukkan diri, berharap bisa menutupi kekosongan yang masih sesekali menyapa.
Suatu sore, saat ia sedang mencari buku di perpustakaan universitas, matanya tak sengaja menangkap sosok seorang pemuda yang sedang membaca dengan khusyuk di sebuah sudut. Pemuda itu mengenakan baju koko berwarna biru muda yang rapi, dan wajahnya memancarkan ketenangan. Di atas meja di sampingnya, tergeletak sebuah buku dengan tulisan Arab yang tidak Karina mengerti.
Karina, yang sedang mencari buku referensi tentang ekonomi, akhirnya menemukan buku yang ia cari di rak yang sama dengan pemuda itu. Saat ia mengulurkan tangan, tangannya tak sengaja menyenggol tumpukan buku milik pemuda itu hingga salah satunya jatuh.
"Oh, maafkan saya!" kata Karina refleks, merasa tidak enak.
Pemuda itu mengangkat kepala, menoleh ke arah Karina dengan senyum ramah. "Tidak apa-apa," jawabnya dengan aksen Indonesia yang fasih. "Santai saja."
Karina terkejut. "Kamu orang Indonesia?" tanyanya, tidak menyangka akan bertemu sesama orang Indonesia di sudut perpustakaan ini.
"Iya," jawab pemuda itu. "Nama saya Adam." Ia mengulurkan tangannya.
"Karina," balas Karina, menjabat tangannya. "Wah, tidak menyangka."
Mereka lalu terlibat dalam percakapan singkat. Adam ternyata juga seorang mahasiswa master, mengambil jurusan teknik. Ia pindah ke Manchester beberapa tahun lalu dan sudah sangat akrab dengan kehidupan di sana.
"Kamu baru di sini?" tanya Adam.
"Iya, baru beberapa minggu," jawab Karina. "Masih agak canggung."
"Maklum," kata Adam sambil tersenyum. "Manchester memang punya auranya sendiri. Tapi kalau sudah kenal, pasti betah."
Percakapan berlanjut. Mereka bertukar cerita tentang kesulitan beradaptasi, makanan Indonesia yang dirindukan, dan perbedaan budaya. Karina merasa nyaman berbincang dengan Adam. Ada aura tenang dan damai yang terpancar darinya. Adam tidak banyak bicara, tapi setiap kalimat yang ia ucapkan terasa penuh makna.
Karina memberanikan diri menanyakan buku yang tadi jatuh. "Kamu baca buku tentang apa?"
Adam mengambil buku itu. "Ini buku tentang tafsir Al-Qur'an," jawabnya. "Untuk mendalami ilmu agama."
Karina mengangguk, merasa sedikit canggung. Ia tidak tahu harus menanggapi apa. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan tentang agama, apalagi membaca buku tafsir. Namun, ketertarikannya muncul.
"Oh, gitu," kata Karina singkat.
"Kalau kamu ada waktu luang, mungkin kita bisa ngobrol lagi. Kamu bisa tanya apa saja," tawar Adam, seolah membaca keraguan di wajah Karina. "Aku sering di sini."
"Boleh," jawab Karina, merasa sedikit lega.
Setelah percakapan singkat itu, mereka berpisah. Karina membawa bukunya, tetapi pikirannya tidak lagi fokus pada ekonomi. Ia memikirkan Adam, pemuda dengan aura damai, dan buku tafsir yang dibacanya. Pertemuan tak terduga itu, di tengah tumpukan buku, telah menabur benih rasa penasaran di hati Karina. Kekosongan yang ia rasakan selama ini, sepertinya, mulai menemukan jawaban.
