"Zai, ayo selfie dulu! Nanti kalo kita udah jadi detektif kelas dunia, foto ini bakal jadi bukti permulaan kasus kita," ujar Maimunah, menggembirakan dirinya sendiri.
Zainab, yang mengenakan mantel abu-abu minimalis, hanya menggeleng. "Tidak. Kita sudah terlambat. Kita harus segera bertemu Sergei."
Maimunah cemberut, tetapi ia tetap mengikuti Zainab. Mereka bergegas menuju stasiun kereta bawah tanah. Stasiun metro Moskow memang terkenal indah, tapi Maimunah lebih terkesima dengan kecepatan kereta yang melesat di bawah tanah.
"Zai, ini keretanya kok ngebut banget, ya? Apa dia lagi ngejar-ngejar jadwal?" bisik Maimunah.
Zainab tidak menjawab, ia hanya membaca buku arsitekturnya. Maimunah mendesah. Ia merasa seperti sedang berada di dalam film action, di mana ia adalah tokoh utamanya, dan Zainab adalah sidekick yang terlalu serius.
Sesampainya di stasiun, Sergei sudah menunggu. Ia mengenakan mantel hitam panjang dan mata kelabunya memancarkan ketenangan. Ia tersenyum tipis saat melihat Maimunah dan Zainab.
"Sudah siap?" tanya Sergei.
Maimunah mengangguk antusias. "Siap! Aku udah nggak sabar ketemu katedral permen!"
Sergei tersenyum. "Kau akan menyukainya."
Mereka berjalan menuju Lapangan Merah. Di sana, berdiri megah Katedral Santo Basil atau yang lebih dikenal sebagai Basil's Cathedral. Katedral itu memang terlihat seperti istana permen, dengan menara-menara berwarna-warni yang menjulang ke langit. Maimunah langsung berteriak kegirangan.
"Zai! Sergei! Lihat! Ini beneran katedral permen! Aku mau gigit!"
Sergei dan Zainab saling bertukar pandang, lalu tersenyum geli. Maimunah berlari-lari di depan katedral, mengambil foto dari berbagai sudut. Ia bahkan sempat mengajak beberapa turis untuk selfie bersama.
"Maaf, Mbak, bisa fotoin saya di sini? Nanti saya kirim es teler dari Indonesia," rayu Maimunah pada seorang turis asal Malaysia.
Turis itu hanya tertawa dan mengangguk.
Setelah puas berfoto, Maimunah menghampiri Sergei dan Zainab. "Jadi, petunjuknya di mana?" tanyanya.
Sergei menunjuk salah satu menara yang paling tinggi. "Di sana."
Mereka bertiga masuk ke dalam katedral. Suasana di dalam terasa tenang dan damai. Maimunah terkesima dengan keindahan interiornya. Lukisan-lukisan kuno memenuhi dinding, dan lilin-lilin kecil menyala di setiap sudut.
"Masya Allah, indah banget," gumam Maimunah.
Zainab mengangguk setuju. Ia mengamati setiap detail arsitektur katedral, mencoba mencari tahu di mana letak petunjuk yang dimaksud Sergei.
Sergei membawa mereka ke sebuah sudut yang sepi. "Ayah saya suka sekali dengan lukisan ini," katanya, menunjuk sebuah lukisan seorang santo.
Lukisan itu terlihat biasa saja, tetapi Zainab merasa ada yang aneh. Ia memperhatikan goresan-goresan kuasnya, dan menemukan sebuah pola yang tidak biasa.
"Apa itu?" tanya Maimunah.
Zainab tidak menjawab. Ia mengeluarkan buku kecil milik Alistair, dan membandingkannya dengan lukisan itu. Tiba-tiba, ia melihat sebuah tulisan kecil di sudut lukisan itu.
"Itu..." Zainab membaca tulisan itu, "sebuah nama. Vasily. Dan... angka. 789."
Sergei mengangguk. "Itu petunjuk pertama. Ayah saya selalu menyebut nama itu setiap kali ia menceritakan tentang masa lalunya."
"Siapa Vasily?" tanya Maimunah.
Sergei terdiam sejenak. "Seorang temannya. Seorang teman lama yang sudah ia lupakan."
"Kok bisa lupa sama teman?" tanya Maimunah, heran.
Sergei menghela napas. "Ayah saya memiliki banyak kenangan pahit di masa lalunya. Vasily adalah salah satunya."
Zainab merasa simpati. "Apa yang terjadi di antara mereka?"
Sergei menggeleng. "Saya tidak tahu. Ayah saya tidak pernah menceritakannya. Ia hanya bilang, 'Jika kau bertemu Vasily, sampaikan padanya bahwa aku minta maaf'."
Maimunah terkejut. "Minta maaf? Kenapa?"
Sergei mengangkat bahu. "Saya tidak tahu. Tapi saya yakin, permintaan maaf itu sangat penting bagi ayah saya. Dan bagi Vasily."
Maimunah menatap Zainab. "Zai, kita harus cari Vasily. Kita harus bikin dia sama Sergei baikan."
Zainab tersenyum. "Kau benar, Mun."
Sergei melihat mereka berdua dengan tatapan terkejut. "Kalian serius?"
"Tentu saja!" Maimunah berseru. "Ini misi kita! Kita harus bantu mereka balikan!"
Sergei tertawa. Tawa yang tulus dan ramah. Maimunah senang melihatnya. Sergei yang tadinya terlihat kaku dan dingin, kini terlihat lebih hangat.
Mereka keluar dari katedral. Salju kembali turun, menyelimuti kota Moskow dengan butiran-butiran putih. Maimunah tersenyum. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia yakin, petualangan ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Di perjalanan pulang, mereka bertiga berjalan bersama. Maimunah mengambil foto mereka bertiga, dengan latar belakang salju yang turun. Ia menatap foto itu, lalu tersenyum.
"Kita kayak trio detektif," katanya.
Zainab dan Sergei saling bertukar pandang, lalu tertawa. Maimunah bahagia. Ia merasa, ia tidak sendirian di Moskow. Ia memiliki teman-teman yang unik, dan sebuah petualangan seru yang menanti.
To be continued...
