Anatasya menatap tumpukan buku langka yang kini berbau kopi dengan ekspresi putus asa. Maja masih berdiri kaku di sampingnya, bibirnya membentuk garis tipis yang menegaskan penyesalannya. Semua pengunjung perpustakaan kembali ke urusan masing-masing, tetapi bisik-bisik dan gelak tawa kecil masih terdengar. Anatasya merasa seperti menjadi bintang film bisu di adegan komedi terburuk.
Gunilla, si pustakawan senior yang berwibawa, mendekat dengan wajah khawatir. Ia melihat kondisi buku-buku yang basah. "Oh, astaga," gumam Gunilla, memegang salah satu buku dengan hati-hati. "Apa yang terjadi?"
Anatasya membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang keluar. Maja, dengan ekspresi yang penuh rasa bersalah, melangkah maju. "Aku"
"Aku yang melakukannya," potong Anatasya dengan cepat. Ia tidak bisa membiarkan Maja yang heboh dan ceroboh menanggung malu ini. Maja memang sering membuat kekacauan, tetapi niatnya selalu baik. Ini adalah kesalahan Anatasya juga, karena ia terlalu lengah.
Maja menatap Anatasya dengan kaget, dan Gunilla menaikkan alisnya. "Anatasya? Kamu menumpahkan kopi? Itu bukan kebiasaanmu."
"Aku... aku sedang mencoba hal baru," Anatasya tergagap, menciptakan kebohongan di tempat. "Aku mencoba latte art di atas buku... um, maksudku, kopi itu tumpah saat aku mencoba meletakkan cangkir di rak buku. Itu kecelakaan."
"Latte art?" ulang Gunilla, dengan nada tidak percaya.
Maja, menyadari bahwa Anatasya sedang mencoba menyelamatkannya, ikut menimpali. "Ya! Tepat! Aku yang menyarankan! Aku bilang padanya untuk mencoba sesuatu yang baru dan sedikit... artistik! Kan, Anatasya?"
Anatasya mengangguk kaku, merasa seperti sedang menjual ide konyol.
"Ini bukan lelucon, Nona," kata Gunilla, dengan nada lebih serius. "Ini adalah buku-buku langka."
Tiba-tiba, suara tenang dan dalam terdengar dari belakang mereka. "Itu kesalahan manusia," kata suara itu. "Semua orang bisa membuat kesalahan."
Anatasya menoleh, dan melihat pria di Sudut Rak berdiri di dekatnya. Ia menatap mereka bertiga, lalu menatap tumpukan buku yang bernoda. "Buku-buku itu bisa diperbaiki. Tentu saja, tidak akan kembali seperti semula, tetapi ada ahlinya."
Gunilla, yang tahu kredibilitas pria ini karena ia selalu membaca buku-buku serius, merasa sedikit tenang. Pria di Sudut Rak, yang ternyata punya nama Lev Ryley (meski Anatasya belum tahu), adalah satu-satunya yang bisa meredakan ketegangan. Ia berbicara dengan tenang, seperti ahli.
"Tapi... apa yang bisa dilakukan?" tanya Anatasya, merasa lega karena ada yang membela.
"Mungkin kita bisa mencari ahli restorasi buku," jawab Lev Ryley, tanpa menatap Anatasya secara langsung. Ia hanya menatap buku-buku itu. "Ada beberapa ahli di Stockholm. Aku bisa membantu mencari informasi."
Anatasya menatapnya dengan heran. Pria yang misterius dan pendiam itu tiba-tiba menawarkan bantuan. Ini adalah sebuah kejutan yang lain.
"Oh! Ide bagus!" seru Maja, kembali bersemangat. "Aku yang akan membayarnya! Aku yang bertanggung jawab!"
"Tidak," kata Anatasya dengan tegas. "Aku yang bertanggung jawab. Aku yang menumpahkannya."
"Tapi" Maja mencoba membantah.
"Anatasya benar," potong Lev Ryley. "Biar kita cari tahu dulu biayanya. Lalu kita bisa putuskan siapa yang akan menanggungnya."
Gunilla menghela napas. "Baiklah. Ini kali ini saja. Tapi jangan ada lagi latte art di buku, Anatasya."
Anatasya mengangguk, merasa seperti anak kecil yang baru saja dimarahi. Gunilla pergi, meninggalkan Anatasya, Maja, dan Lev Ryley.
"Aku minta maaf," bisik Maja kepada Anatasya. "Aku tidak bermaksud"
"Aku tahu," kata Anatasya, menepuk bahu Maja. "Jangan khawatir. Aku tidak bisa membiarkanmu menanggung malu ini sendirian."
Lev Ryley, yang sedari tadi hanya mengamati, berdeham pelan. "Aku akan mencari beberapa nama ahli restorasi buku untuk kalian. Aku akan kembali besok."
Tanpa menunggu jawaban, ia kembali ke kursinya, seolah percakapan mereka tidak pernah terjadi.
Anatasya menatap punggungnya, lalu menatap Maja. "Dia... aneh, tapi baik."
"Aneh dan baik, itu kombinasi sempurna untukmu!" Maja menyenggol Anatasya, senyumnya kembali merekah. "Kau lihat? Hidupmu mulai ada drama! Ada pria misterius yang membantumu!"
"Itu bukan drama, itu kekacauan," ralat Anatasya, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
Maja meraih tangan Anatasya. "Mungkin bagimu itu kekacauan, tapi bagiku, itu adalah cinta."
Anatasya terkejut. "Maja! Jangan bicara sembarangan!" Ia melihat ke arah Lev Ryley, takut pria itu mendengar.
Maja terkekeh. "Aku serius! Ada sesuatu tentang dia. Dia misterius, dia membaca buku langka, dan dia membantumu. Itu takdir, Anatasya!"
Anatasya mendesah. Maja memang terlalu dramatis. Tapi, entah mengapa, ia tidak bisa mengusir pikiran itu. Sebuah kebohongan kecil untuk menutupi kekacauan telah membuatnya berinteraksi dengan pria yang selama ini hanya ia pandangi dari kejauhan. Dan ia merasa, kebohongan ini akan menuntunnya pada kekacauan yang lebih besar.
Anatasya kembali menatap Lev Ryley. Pria itu masih fokus pada bukunya, tetapi Anatasya tahu, ia sudah tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihatnya. Hidupnya, yang dulunya tenang dan damai, kini telah diguncang oleh tumpahan kopi, kebohongan, dan kehadiran pria misterius. Dan entah mengapa, Anatasya tidak lagi merasa takut. Ia merasa... bersemangat.
