Kemenangan melawan Goblin Raja di Hutan Beruang memberikan dorongan moral yang besar, tetapi tidak ada waktu untuk berpuas diri. Malam tiba dengan cepat, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Di sebuah gua yang mereka bersihkan dari sisa-sisa goblin, tim berlima berkumpul di sekitar api unggun.
"Menurut dataku, level goblin ini tidak seharusnya setinggi itu," kata Vania, sambil menyentuh peta kulitnya dengan jari. "Ini anomali. Seperti ada sesuatu yang mempercepat evolusi mereka, atau… mendorong mereka."
"Atau ada bos yang lebih besar di sekitar sini," sahut Anatasya dengan suaranya yang serak dan rendah, sambil mengasah pedang pendeknya di atas batu asah. Gerakan tangannya halus dan cepat, mencerminkan gaya bertarungnya.
Lev memandangi api, wajahnya yang terpantul memancarkan ketenangan yang matang. "Apa pun itu, kita akan mencari tahu. Kekuatan tidak datang dari bersembunyi."
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari luar gua. Bukan suara binatang biasa, melainkan suara yang berat dan berirama, seolah-olah sesuatu yang besar sedang bergerak di bawah tanah. Bumi bergetar, dan kerikil jatuh dari langit-langit gua.
"Apa itu?" tanya Cindy, memegang perisainya dengan erat. Dia adalah yang paling berani menghadapi bahaya frontal, tetapi kekuatan yang tidak diketahui selalu membuatnya gelisah.
"Sistem tidak pernah menyebutkan monster yang bisa membuat tanah bergetar," bisik Vania, matanya membesar karena terkejut.
Lev mengambil pedangnya. "Apapun itu, kita hadapi bersama. Andriy, siapkan panahmu. Anatasya, bersiap untuk serangan mendadak. Cindy, lindungi Vania. Dia adalah aset terpenting kita."
Mereka keluar dari gua dan melihat pemandangan yang tak terduga. Sebuah monster kolosal, tampak seperti beruang salju raksasa dengan kulit sekeras batu, sedang menggali tanah. Monster itu tidak memiliki tingkat level yang terlihat, sesuatu yang belum pernah mereka temui.
"Tunggu, jangan menyerang!" Vania berteriak. "Kita tidak punya data tentang monster ini. Kita tidak tahu titik lemahnya!"
Tetapi terlambat. Andriy yang tidak sabar sudah melepaskan panahnya. Anak panah itu menghantam kulit monster itu, tetapi hanya menghasilkan percikan api dan suara denting yang nyaring, tanpa efek. Monster itu menoleh, matanya yang merah menyala menatap tajam ke arah mereka.
"Andriy!" Lev menggeram. "Kau membuat masalah!"
Monster itu meraung, dan suaranya terasa seperti gempa susulan. Ia berlari ke arah mereka dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukurannya. Cindy melangkah maju, perisainya diangkat. Namun, sebelum monster itu bisa menyerang, Anatasya bergerak. Dia melemparkan salah satu pedang pendeknya ke mata monster itu, lalu dengan cepat menghilang dalam bayangan.
"Serangan mata adalah titik lemah universal," kata Anatasya dari bayangan.
Pedang itu memang menembus mata monster itu. Monster itu berteriak kesakitan, dan penglihatannya terganggu. Lev memanfaatkan momen ini, meluncur ke depan dengan pedangnya. Dia mengayunkan pedangnya ke titik-titik lemah yang diindikasikan oleh Vania, di antara lempengan-lempengan kulit batu monster itu.
Monster itu, meskipun terluka, masih sangat kuat. Ia mengayunkan cakar raksasanya, nyaris mengenai Lev. Cindy dengan cepat bergerak, memblokir serangan dengan perisainya. Kekuatan benturan itu membuat Cindy terlempar ke belakang, tetapi dia berhasil melindungi Vania.
Andriy, yang kini lebih berhati-hati, menembakkan serangkaian panah ke luka di mata monster itu, membuatnya semakin terganggu. Vania, dengan cepat mengolah data, berteriak, "Tubuhnya semakin lemah! Pukul bagian yang retak!"
Lev, dengan tekad yang membara, memfokuskan semua kekuatannya pada satu serangan tunggal. Dia mengayunkan pedangnya, memukul bagian yang paling retak di kulit monster itu. Pedangnya menembus jauh ke dalam, dan monster itu jatuh dengan suara gemuruh yang keras.
"SELAMAT! ANDA TELAH MENGALAHKAN GUARDIAN ARCTIC! SEMUA ANGGOTA PESTA MENDAPATKAN PENGALAMAN BESAR! LEVEL NAIK!"
Kelima anggota tim jatuh terengah-engah. Mereka semua naik beberapa level. Lev kini mencapai level 18, Andriy 17, Cindy 17, Anatasya 18, dan Vania 16. Mereka saling memandang, menyadari bahwa perjalanan ini akan jauh lebih sulit dari yang mereka bayangkan.
Di dalam tubuh Guardian Arctic, mereka menemukan sebuah batu kristal yang memancarkan cahaya dingin. Vania mengambilnya dengan hati-hati. "Ini... ini bukan hanya monster biasa. Ada sesuatu di balik semua ini. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar sistem."
