Keesokan harinya, koper biru Lev akhirnya tiba dengan selamat. Kabar ini disambut dengan sorakan gembira dari Sindy, yang ikut menemani Lev mengambilnya di kantor administrasi asrama. Lev merasa lega bukan kepalang. Bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena koper itu adalah peninggalan ayahnya. Melihat stiker Banjarmasin yang sedikit kusam di sisi koper, sebuah kenangan melintas di benaknya, menghangatkan hatinya di tengah dinginnya udara Alaska.
“Lihat, kan? Aku bilang juga apa,” kata Sindy riang. “Sekarang, ayo kita rayakan!”
“Rayakan apa?” tanya Lev, bingung.
“Rayakan koper lo balik, dong! Sini-sini,” Sindy menarik tangan Lev menuju kamar mereka yang kebetulan berdekatan.
Kamar Lev terletak di lantai dua asrama, dengan jendela yang menghadap ke pemandangan pegunungan yang diselimuti salju tipis. Kamar itu mungil, dengan sebuah kasur single, meja belajar, dan sebuah lemari. Dindingnya polos, tapi Lev sudah membayangkan bagaimana ia akan menempelkan foto-foto keluarganya untuk membuat ruangan itu terasa lebih hangat.
Sindy, yang sudah lebih dulu tiba dan menempati kamarnya, mengoceh tentang ide-ide dekorasi. “Dinding ini butuh warna! Mungkin kita bisa cat warna ungu atau kuning,” usulnya, membuat Lev tertawa geli. “Nanti kalau udah punya duit, aku mau beli lampu kelap-kelip biar kayak di film-film,” imbuhnya.
“Kamu mau rayakan koperku balik dengan apa?” tanya Lev, kembali ke topik awal.
“Tentu saja dengan memasak!” jawab Sindy, penuh semangat. “Aku lihat kamu bawa bahan-bahan makanan dari rumah. Tadi aku curi-curi intip pas kamu bongkar koper.”
Lev terkejut. Sindy ini memang berbeda. Dengan berbekal bahan-bahan dari Indonesia dan bahan tambahan yang dibeli Sindy, mereka mulai berkolaborasi di dapur asrama yang bersih dan modern, namun terasa sepi. Lev dengan cekatan mulai memasak, sementara Sindy menjadi asisten yang sangat ingin tahu.
“Ini apa? Baunya enak,” tanya Sindy sambil menunjuk sepotong kunyit.
“Ini kunyit,” jawab Lev, sambil memotong bawang merah. “Ini yang bikin nasi kuning.”
Sindy mengerutkan dahi. “Nasi kuning? Kenapa harus kuning? Emangnya kenapa kalau nasinya warna putih?”
“Yah, begitulah. Kuning itu kan melambangkan kebahagiaan, kemakmuran,” jelas Lev.
Sindy mengangguk-angguk, "Ohhh... Jadi nasi kuning ini nasi kebahagiaan? Menarik."
Selama memasak, Lev dan Sindy terlibat dalam percakapan yang seru. Lev bercerita tentang tradisi orang Banjar yang sering makan nasi kuning untuk acara syukuran. Sindy, yang dibesarkan di keluarga yang lebih modern, tidak terbiasa dengan ritual semacam itu.
“Jadi kalian bikin nasi kuning buat apa aja?”
“Banyak. Acara ulang tahun, syukuran, pernikahan, naik haji, banyak deh,” kata Lev.
“Berarti nasi kuning bisa juga jadi nasi sedih, dong?” tanya Sindy, dengan mimik wajah yang serius.
“Nasi sedih?” Lev tertawa. “Tidak ada istilah nasi sedih di kamusku.”
“Ya kan, kalau ada orang meninggal, keluarganya masak nasi kuning, itu kan bukan acara bahagia, jadi nasinya jadi nasi sedih,” Sindy berargumen dengan wajah tanpa dosa, membuat Lev harus berpikir keras bagaimana menjelaskan tradisi dan budaya yang berbeda ini tanpa membuat Sindy salah paham.
“Hmm, bukan begitu, Sindy. Nasi kuning itu simbol rasa syukur kita. Walaupun ada kesedihan, kita tetap bersyukur,” jelas Lev, perlahan.
“Kayak, ‘ya sudahlah, ada yang mati, tapi mari kita makan nasi kebahagiaan biar kita tetap semangat’?”
Lev tertawa terbahak-bahak. Ini adalah tawa lepas pertamanya sejak tiba di Alaska. Ia merasa nyaman dan akrab dengan Sindy yang polos dan lugu. “Kurang lebih begitu,” jawabnya, menyerah.
Setelah beberapa saat, nasi kuning pun matang. Aromanya langsung memenuhi dapur asrama, menarik perhatian beberapa mahasiswa lain yang kebetulan lewat. Lev juga menyajikan lauk-pauk sederhana yang ia bawa, seperti serundeng dan sambal goreng hati.
Mereka duduk di meja makan, saling berhadapan. Lev menyendok nasi kuning ke piring Sindy, sementara Sindy mengambil sepotong serundeng. Saat sendok pertama menyentuh mulutnya, mata Sindy melebar.
“Enak banget!” serunya. “Aku mau resepnya!”
Mereka menikmati hidangan itu, sambil melanjutkan percakapan tentang perbedaan budaya, kebiasaan, dan pandangan hidup. Sindy, dengan segala keunikannya, perlahan-lahan mulai membuka diri kepada Lev, dan Lev pun merasa bahwa persahabatan yang tulus tidak mengenal batas.
Malam itu, di Alaska yang dingin, sepiring nasi kuning dari Banjarmasin berhasil menciptakan suasana hangat di antara dua insan yang berbeda. Lev tahu, perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi setidaknya ia tidak sendirian. Ia punya Sindy, teman barunya, yang akan mewarnai petualangannya dengan cerita, tawa, dan perdebatan hangat, sama seperti nasi kuning yang mereka nikmati.
