Hari pertama kuliah dimulai. Lev Ryley berjalan dengan gugup menuju gedung fakultas. Ia memakai kemeja batik khas Banjarmasin yang ia kenakan untuk membangkitkan semangat. Walaupun penampilannya sangat berbeda dengan mayoritas mahasiswa di sana yang berpakaian lebih kasual, ia merasa bangga. Setidaknya, ia tidak akan sulit dikenali.
Kelas pertama adalah Sejarah Australia. Lev masuk dan mencari tempat duduk. Hampir semua kursi sudah terisi. Hanya tersisa satu kursi di deretan paling depan, tepat di sebelah seorang gadis berambut pirang yang sedang sibuk membaca buku. Lev berjalan pelan, mencoba tidak menimbulkan suara gaduh.
“Permisi,” sapanya pelan.
Gadis itu menoleh, matanya yang berwarna hijau emerald mengerjap. “Oh, halo! Duduk saja,” katanya ramah sambil menggeser tasnya.
Lev duduk, merasa sedikit kaku. Gadis itu menatap batik yang dikenakan Lev. “Bagus sekali. Itu dari mana?” tanyanya.
“Ini dari Banjarmasin, Indonesia,” jawab Lev dengan senyum bangga.
“Oh, keren! Aku suka motifnya,” puji gadis itu. Ia mengulurkan tangan. “Aku Jessica. Panggil saja Jess.”
Lev membalas uluran tangan itu dengan canggung seperti saat ia bertemu Sarah. "Senang bertemu denganmu."
Tiba-tiba, seorang mahasiswa yang terburu-buru masuk, tersandung tas Lev yang diletakkan di lantai. Seisi kelas menoleh. BLUK! Mahasiswa itu terjatuh, dan semua buku di tangannya berserakan. Lev spontan kaget dan berujar dalam bahasa Banjar, " Waduh, kasiannya!"
Seketika, seluruh mata tertuju pada Lev. Jessica, yang duduk di sebelahnya, menatapnya dengan bingung. “Apa yang kamu bilang?” bisiknya.
Lev sadar telah keceplosan. Ia buru-buru membantah dengan bahasa Inggris yang patah-patah, “Maaf, itu... itu... suara kaget.”
“Oh,” Jessica menahan tawa. Ia membantu Lev memunguti buku-buku yang jatuh. “Santai saja. Bukan salahmu.”
Kejadian lucu itu membuat suasana di antara mereka sedikit lebih cair. Saat dosen mulai menjelaskan materi, Jessica menyadari bahwa Lev terlihat kesulitan mengikuti pelajaran. Ia memperhatikan Lev sesekali mengernyitkan dahi dan sesekali menatap kamus di ponselnya.
“Kamu butuh bantuan?” bisik Jessica saat dosen sedang menulis di papan.
Lev tersenyum malu. “Sedikit,” jawabnya. “Saya masih belum terbiasa dengan aksen dan kecepatan bicara mereka.”
Jessica tersenyum mengerti. “Jangan khawatir. Nanti kalau ada yang tidak jelas, tanya saja. Aku bisa bantu.”
Setelah kelas selesai, Jessica mengajak Lev makan siang di kafetaria. Ia duduk di salah satu meja kosong, sementara Lev masih celingak-celinguk mencari sesuatu. “Kamu mencari apa?” tanya Jessica.
“Emm… restoran halal?” jawab Lev dengan polosnya.
Jessica tersenyum geli. “Di kampus sini tidak ada restoran khusus halal, Lev. Tapi ada pilihan vegetarian. Atau, kalau kamu mau, ada restoran di luar kampus yang menyediakan makanan halal. Aku bisa antar kamu ke sana.”
Lev merasa sangat terbantu. “Sungguh? Kamu tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak,” jawab Jessica. “Aku juga ingin coba makanan lain selain pizza dan burger.”
Sambil berjalan menuju restoran halal, mereka mengobrol santai. Jessica bercerita tentang kehidupannya di Perth, tentang hobinya surfing dan tentang keluarganya. Lev, di sisi lain, menceritakan tentang Banjarmasin, tentang keindahan Sungai Martapura, dan tentang tradisi Islam yang sangat kuat di kampungnya.
Saat tiba di restoran, Lev memesan kebab dengan porsi besar. Jessica, yang baru pertama kali mencoba, memesan kebab porsi kecil. Begitu makanan datang, Lev membaca doa makan dalam hati, yang diamati oleh Jessica dengan penuh rasa ingin tahu.
“Itu doa?” tanya Jessica setelah Lev selesai.
“Iya,” jawab Lev. “Kami selalu berdoa sebelum makan, sebagai rasa syukur kepada Tuhan.”
“Itu bagus,” kata Jessica sambil menggigit kebabnya. “Wow, ini enak sekali!” serunya dengan mata berbinar.
Mereka tertawa bersama. Lev merasa ada ikatan aneh yang terjalin antara dirinya dan Jessica. Mereka memiliki perbedaan yang sangat jauh, tapi entah kenapa, mereka bisa merasa nyaman satu sama lain. Persahabatan mereka, yang dimulai dari kesalahpahaman lucu di kelas, tampaknya akan menjadi salah satu petualangan terbesar Lev di Perth. Ia tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
