Perjalanan dari Banjarmasin menuju Kandangan memakan waktu sekitar tiga jam, jika tidak ada kendala. Namun, dengan Lev sebagai penumpang dan sumber kekacauan utama, Rauf sudah siap jika waktu tempuh mereka membengkak.
Mobil sewaan berwarna silver itu melaju membelah jalanan utama Trans-Kalimantan. Rauf menyetir dengan tenang, mata fokus ke depan, sementara Lev di sebelahnya sibuk dengan dunianya sendiri. Ia memegang kamera SLR dengan hood lensa yang terpasang terbalik.
"Lev, hood-nya itu dipasang di depan, bukan di belakang," tegur Rauf, tak tahan melihat pemandangan aneh itu.
"Ini namanya hood terbalik, Rauf. Buat gaya-gayaan. Mana tahu ada yang fotoin kita dari belakang, kan keren," jawab Lev enteng, sambil membidik jalanan yang mulai berganti dari hiruk pikuk kota menjadi deretan sawah dan rumah-rumah panggung.
Rauf menggelengkan kepala. "Terserah. Nanti kalau lensamu lecet kena benturan, jangan nangis sama aku."
Suasana di dalam mobil hening sejenak, hanya diisi suara radio yang memutar lagu pop. Lev tiba-tiba mematikan radio.
"Rauf, kita putar lagu-lagu Islami saja. Kan temanya Islami slice of life. Biar berasa perjalanannya," usul Lev.
Rauf mengangguk setuju. "Oke. Lagu-lagu Maher Zain?"
"Boleh juga. Tapi jangan yang galau, kan ini genre-nya komedi," Lev mengoreksi.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua menikmati pemandangan pedesaan yang asri, jauh berbeda dengan Banjarmasin yang ramai dengan lalu lintas dan bangunan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Lev tiba-tiba menjerit histeris.
"ASTAGHFIRULLAH, Rauf! HANTU!"
Rauf mengerem mendadak. "Apaan sih, Lev? Jangan kagetin gitu!"
"Itu... itu... ada hantu di belakang kita!" Lev menunjuk kaca spion.
Rauf melirik kaca spion, lalu melotot. "Itu kamu, Lev! Wajahmu yang ketutupan rambut acak-acakan di spion! Makanya bangun pagi itu mandi dan sisir rambut!"
Lev nyengir, malu. "Oh, iya. Hehe. Mirip hantu, ya? Apa aku pangkas rambut aja, ya?"
Rauf menatap Lev dengan tatapan lelah. "Terserah. Tapi kalau kamu mau cukur rambut, jangan di salon. Nanti dia kaget lihat rambutmu yang waw itu."
Setelah insiden 'hantu' itu, Rauf kembali fokus mengemudi, sementara Lev kembali ke dunianya, kali ini dengan buku catatan dan pulpen.
"Rauf, catatan pertama. Suasana jalan dari Banjarmasin ke Hulu Sungai: Penuh ketenangan, asri, udara segar. Minus: Sahabat di sebelahku menyetir dengan wajah tegang, seakan sedang melarikan diri dari kejaran penagih utang," bisik Lev sambil mencatat.
"Bukan tegang, Lev. Aku sedang fokus. Kamu itu terlalu banyak drama," sanggah Rauf.
Perjalanan mereka sempat terhenti di sebuah warung makan di pinggir jalan untuk makan siang. Warung itu sederhana, tapi ramai pembeli, kebanyakan sopir truk dan pengendara sepeda motor. Lev memesan nasi bungkus, sementara Rauf memesan sate ayam.
"Ini nih, Rauf. Slice of life yang sesungguhnya. Makan di warung kecil, ngobrol sama orang-orang lokal. Kan keren," ucap Lev, sambil mengambil foto makanan dengan kamera SLR-nya.
"Kamu foto makanan pakai kamera segede itu? Nanti orang-orang kira kamu food vlogger yang lagi liputan," kata Rauf, geli.
Setelah makan, mereka melanjutkan perjalanan. Saat melewati sebuah jembatan, Lev kembali berteriak.
"Rauf! Sungai Martapura! Sampai jumpa, wahai sungai yang penuh kenangan!" teriak Lev, sambil melambaikan tangannya ke arah sungai.
Rauf memutar bola matanya. "Lev, kita sudah jauh dari Sungai Martapura. Itu sungai lain."
"Tapi kan namanya mirip, Rauf! Anggap saja itu Sungai Martapura versi mini. Biar romantis," Lev tetap kekeh.
Akhirnya, setelah melewati jalanan yang berliku dan sesekali macet, mereka tiba di Kandangan, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Langit sudah mulai sore, memancarkan warna jingga yang indah.
"Kandangan, kami datang!" seru Lev, membuka jendela mobil dan menghirup udara Kandangan yang terasa berbeda dari Banjarmasin.
Rauf tersenyum lega. "Alhamdulillah, sampai juga. Sekarang, tugas kita dimulai. Cari penginapan, istirahat, dan besok kita mulai petualangan di sini."
Namun, di dalam hati, Rauf tahu. Petualangan mereka sudah dimulai sejak mereka menginjakkan gas di Banjarmasin. Dengan Lev di sisinya, Rauf tahu, tidak akan ada satu hari pun yang akan berjalan normal. Dan itu, entah bagaimana, membuat perjalanan ini terasa lebih hidup dan menyenangkan.
