Sofia memandang Lev dengan senyum kecil. Senyum yang penuh pengertian, bukan tawa yang mengejek. Senyum itu membuat Lev merasa hangat, setidaknya lebih hangat dari suhu minus tiga derajat di luar sana. Setelah menenangkan Lev, Sofia kembali duduk di kursinya, tidak buru-buru pergi.
"Anda benar-benar dari Indonesia?" tanya Sofia.
"Ya. Banjarmasin, Kalimantan Selatan," jawab Lev, bangga. "Tapi saya tahu, pasti Anda tidak tahu itu di mana."
Sofia tersenyum. "Sedikit banyak saya tahu tentang Indonesia. Saya pernah membaca tentang Indonesia saat belajar di universitas. Keanekaragaman budayanya, keindahan alamnya, dan tentu saja... makanannya."
"Kalau begitu, saya akan buatkan nasi goreng untuk Anda suatu hari nanti," tawar Lev spontan, sedikit lupa diri karena merasa begitu akrab dengan Sofia.
Sofia tertawa kecil. "Pasti menyenangkan. Tapi untuk saat ini, nikmati saja salad Anda."
Sesaat kemudian, salad sayuran pesanan Lev datang. Bukan kebab, tapi setidaknya aman. Lev mengucapkan Alhamdulillah dalam hati sebelum mulai makan. Sofia, yang melihat Lev berdoa sebelum makan, tidak menunjukkan ekspresi aneh. Ia justru terlihat tertarik.
"Itu doa sebelum makan, kan?" tanya Sofia.
"Ya," jawab Lev, mengangguk. "Dalam Islam, kami diajarkan untuk selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan. Bahkan untuk hal sederhana seperti makanan."
"Menarik," gumam Sofia. "Di sini, orang biasanya hanya langsung makan. Jarang yang melakukan ritual seperti itu."
Lev merasa nyaman berbicara dengan Sofia. Gadis itu tidak menghakimi. Ia penasaran dengan budaya dan agama Lev, dan ia menanyakannya dengan tulus. Mereka mulai mengobrol banyak hal. Dari Perm yang berselimut salju, tentang arsitektur kuno di kota itu, hingga perbedaan antara Banjarmasin yang tropis dan Perm yang subarktik.
Sofia menceritakan bahwa ia adalah seorang mahasiswi sastra di Universitas Perm. Ia mencintai buku-buku dan seni. Sementara itu, Lev bercerita tentang kehidupannya di Banjarmasin, tentang keluarganya yang hangat, dan tentang mimpinya menjelajahi dunia.
"Kenapa Rusia?" tanya Sofia.
"Saya ingin melihat dunia, tapi dari sudut pandang yang berbeda. Kebanyakan orang Indonesia ke negara-negara yang sudah biasa, seperti Jepang atau Korea. Tapi saya ingin melihat yang unik. Saya ingin melihat bagaimana minoritas Muslim di sini menjalani hidup. Ini adalah tantangan untuk iman saya," jelas Lev.
Sofia mengangguk-angguk, matanya berbinar. "Itu tujuan yang sangat mulia. Saya kagum. Banyak orang datang ke sini hanya untuk liburan. Kamu berbeda."
Percakapan mereka mengalir begitu saja. Mereka berdua menemukan bahwa di balik perbedaan budaya dan bahasa, mereka memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua menyukai seni, mereka sama-sama memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan mereka berdua menghargai hal-hal sederhana dalam hidup.
Tiba-tiba, Sofia melirik jam di dinding. "Astaga, saya harus pulang. Ada tugas yang harus saya selesaikan malam ini."
"Oh... ya, tentu," ujar Lev. Ia merasa sedikit kecewa karena percakapan menyenangkan itu harus berakhir.
"Boleh saya minta nomor telepon Anda?" tanya Sofia. "Mungkin saya bisa bantu Anda lagi. Dan mungkin saya bisa mencicipi nasi goreng buatan Anda, suatu hari nanti."
Lev tersenyum lebar. "Tentu saja." Mereka bertukar nomor telepon.
"Sampai jumpa, Lev," ujar Sofia, melambaikan tangan saat beranjak pergi.
"Sampai jumpa, Sofia. Terima kasih banyak!" balas Lev.
Setelah Sofia pergi, Lev menyelesaikan makanannya. Salad itu terasa hambar, tidak sebanding dengan cita rasa nasi goreng atau soto Banjar yang biasa ia nikmati. Tapi, kehangatan yang ia rasakan setelah bertemu Sofia membuatnya kenyang. Ia tidak lagi merasa sendirian di Perm. Di tengah dinginnya salju, ada secercah kehangatan yang membuatnya bersemangat.
Lev berjalan kembali ke hostelnya. Ia menatap ke langit malam. Butiran salju kecil mulai turun. Ia tersenyum. Perjalanan ini akan jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan. Ia merasa optimis. Ia sudah menemukan teman pertamanya di Rusia. Ia tahu, petualangannya baru saja dimulai. Dan ia siap menghadapinya, dengan keyakinan yang teguh dan persahabatan yang tulus.
