"Bang, tolong taruh koper saya yang ini di bagasi, ya."
Faruq berbicara kepada kernet mobil travel yang akan mereka tumpangi. Koper Faruq, yang berisi peralatan geologi dan pakaian yang terorganisir rapi, dengan mudah masuk ke dalam bagasi. Sementara itu, Lev, dengan koper buncitnya yang resletingnya kini diikat tali, berjuang mati-matian.
"Bang, ini beneran muat?" tanya Lev, sambil mendorong-dorong kopernya yang mirip karung goni.
Kernet itu menghela napas. "Muat-muat saja, mas. Tapi kalau jebol, tanggung sendiri, ya."
Lev meringis. Setelah perdebatan panjang, ia berhasil memasukkan kopernya, meskipun harus mengorbankan ruang untuk koper penumpang lain.
"Lihat tuh," bisik Faruq, "bahkan kernetnya sudah pesimis dengan koper kamu."
"Namanya juga petualangan, Faruq! Pasti ada tantangannya," balas Lev, sambil menyengir.
Mereka naik ke dalam mobil travel. Di dalamnya, sudah ada beberapa penumpang lain. Faruq dan Lev mendapat kursi di tengah, tepat di antara seorang ibu paruh baya yang membawa banyak kantung plastik berisi makanan, dan seorang pemuda yang sibuk dengan ponselnya.
"Duduk di sini, Lev," kata Faruq, menunjuk kursi di sampingnya.
Lev masuk ke dalam, lalu duduk. Ia menatap ke luar jendela, melihat pemandangan Banjarmasin yang mulai menjauh. Beberapa menit kemudian, mobil bergerak.
"Permisi, nak," suara ibu paruh baya itu memecah keheningan. "Bisa tolong geser sedikit? Kantung saya terlalu banyak."
Lev tersenyum, "Tentu, bu."
Ia mencoba bergeser, tapi ia malah menginjak kaki pemuda yang sedang asyik bermain ponsel.
"Aduh!" Pemuda itu terkejut.
"Maaf, mas! Maaf!" Lev membungkuk-bungkuk meminta maaf.
Pemuda itu mengangguk. "Tidak apa-apa, mas. Lain kali hati-hati."
Lev kembali duduk, merasa canggung. Sepanjang perjalanan, ia berusaha untuk tidak bergerak terlalu banyak. Namun, ia merasa gatal di kakinya. Ia mencoba menggaruknya, tapi kakinya malah menyenggol kantung plastik milik ibu paruh baya.
Kresek!
Kantong plastik itu robek, dan kerupuk khas Banjar berjatuhan di lantai mobil.
Lev membelalakkan mata. "Aduh, bu! Maafkan saya!"
Ibu itu terkejut. "Ya Allah, kerupuk saya!"
"Biar saya bersihkan, bu," kata Lev, mencoba membantu.
"Tidak usah, nak. Nanti kotor."
Lev merasa tidak enak hati. Ia melihat Faruq yang menahan tawa. "Tuh kan, Lev. Perjalanan belum juga jauh, sudah bikin ulah."
"Ini bukan salahku, Faruq. Kerupuknya rapuh," balas Lev, mencoba membela diri.
Sepanjang perjalanan, Lev terus-menerus disibukkan dengan hal-hal kecil. Mulai dari menginjak kaki penumpang lain, sampai tidak sengaja menjatuhkan biskuit dari kantung milik ibu paruh baya. Faruq hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, sesekali membisikkan candaan yang membuat Lev tertawa.
Setelah beberapa jam perjalanan, mereka melewati Jembatan Barito, lalu memasuki wilayah Kuala Kapuas. Lev melihat pemandangan sungai yang lebar dan hamparan hutan hijau yang memanjakan mata. Ia mengeluarkan kameranya, memotret pemandangan itu.
"Wah, indah sekali," gumam Lev.
Faruq tersenyum. "Inilah Kalimantan, Lev. Keindahan yang tidak akan kau temukan di tempat lain."
Mereka juga melewati perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Faruq menjelaskan bahwa di sinilah terjadi perbedaan zona waktu, dari WITA ke WIB.
"Jadi, kita sekarang lebih muda satu jam, Faruq?" tanya Lev, dengan polos.
"Bukan begitu, Lev. Itu cuma beda waktu saja," jawab Faruq, sabar.
Lev menghela napas. "Yah, padahal aku berharap bisa lebih muda."
Seketika, tawa Faruq kembali pecah. Tawa yang membuat ibu paruh baya dan pemuda di sampingnya ikut tersenyum. Lev, yang merasa canggung, hanya bisa tersipu malu.
Setelah beberapa jam lagi, mereka akhirnya sampai di Palangka Raya. Turun dari mobil, Lev merasa lega. Koper buncitnya masih utuh, meskipun sedikit penyok.
"Alhamdulillah, sampai juga," kata Lev.
Faruq tersenyum. "Selamat datang di Palangka Raya, Lev."
Mereka berdua berjalan menuju penginapan, Lev sesekali melirik ke belakang, melihat mobil travel yang mereka tumpangi. Ia merasa berterima kasih, meskipun perjalanan itu diwarnai kekonyolan, ia tetap mendapatkan pengalaman yang berharga.
Di penginapan, Lev langsung membongkar kopernya. Ia mengeluarkan bukunya, kameranya, dan berbagai peralatannya. Faruq melihatnya sambil tersenyum.
"Jangan lupa, besok kita mulai kerja. Fokus, Lev," kata Faruq.
Lev mengangguk. "Siap, Faruq. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi."
Faruq tertawa. "Kalau begitu, aku tidak akan terkejut kalau kamu sudah bikin ulah lagi besok."
Malam itu, Lev tidur dengan nyenyak. Ia bermimpi tentang petualangan yang akan datang. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
