"Astaga, baunya..." Vania berbisik, mencoba menutupi hidungnya dengan lengan bajunya, merusak citra gagahnya sebelumnya. Cahaya obor yang mereka bawa dan pendaran pelangi Sippy yang duduk anteng di bahu Lev, berjuang menembus kegelapan lorong selokan yang sempit. Air keruh mengalir pelan di parit tengah, sementara pijakan di sisi kanan dan kiri dipenuhi lumut dan kotoran.
“Sudahlah, fokus,” kata Lev, mencoba bersikap tenang meskipun perutnya sedikit mual. “Sistem bilang ada goblin di sini.”
Mereka berjalan pelan, Vania dengan busur terkokang, siap melepaskan panah kapan saja. Tiba-tiba, suara decitan menusuk terdengar dari lorong samping.
Tiga goblin kecil, berkulit hijau kusam, mata merah menyala, dan memegang tongkat kayu compang-camping, muncul dari kegelapan. Mereka menyeringai jahat, memperlihatkan gigi kuning runcing, dan mulai berlari ke arah Vania dan Lev sambil berteriak 'Gaaargh!'
“Serang!” Vania berteriak, panah pertamanya melesat dan menancap tepat di dada goblin paling depan. Goblin itu langsung tumbang, mengeluarkan suara 'kreeyaak'.
Goblin kedua dan ketiga tidak gentar, mereka malah semakin cepat. Lev panik, ini pertarungan pertamanya. “Sippy, gunakan Scented Slime! Ke arah mereka!”
Sippy seolah mengerti, meluncurkan gumpalan lendir harum beraroma mawar ke arah kaki goblin-goblin itu. Lendir itu licin. Kedua goblin tergelincir, jatuh telentang ke dalam air selokan yang keruh.
“Bagus, Lev! Sekarang!” Vania mengambil kesempatan, panah kedua dan ketiga menembus mereka dengan cepat.
You have defeated 3 Goblins. Gained 15 EXP. Suara sistem terdengar di kepala Lev.
“Berhasil! Level 1 sudah bisa bertarung!” Vania bersorak gembira, melompat kegirangan. Lev tersenyum lega. Sippy bersendawa bangga.
Saat mereka sibuk merayakan, sebuah bayangan muncul dari balik pilar di ujung lorong. Bukan goblin kali ini. Seseorang berjubah gelap, dengan tudung menutupi sebagian wajahnya, muncul dengan tenang. Sosok itu membawa tongkat sihir kuno yang diukir rumit.
“Permisi, kalian terlalu berisik,” suara lembut dan datar terdengar. Sosok itu menurunkan tudungnya. Wajah seorang gadis muda yang cantik, dengan mata biru es yang dingin dan ekspresi tanpa emosi menatap mereka. Namanya Anastasya.
Vania dan Lev terkejut. "Siapa kau? Ini area misi kami!" tuntut Vania, kembali memasang pose siaga.
“Misi saya juga ada di area ini,” jawab Anastasya, suaranya tenang, kontras dengan Vania yang berisik. “Mencari spesimen langka lumut beracun yang hanya tumbuh di sini.”
Tiba-tiba, sepuluh goblin lagi muncul dari berbagai arah, tertarik oleh keributan. Kali ini jumlahnya jauh lebih banyak, dan mereka terlihat lebih beringas.
“Wah, gawat!” Vania bersiap menembak. Lev memegang Sippy erat-erat.
Anastasya tidak panik sama sekali. Dia mengangkat tongkat sihirnya perlahan. “Minggir. Kalian menghalangi pemandangan.”
Sebelum Vania sempat protes, Anastasya mulai mengucapkan mantra dengan bahasa kuno yang fasih dan cepat. Sebuah lingkaran sihir ungu muncul di depan kakinya. “Void Blast.”
Sinar energi ungu gelap melesat cepat ke arah kerumunan goblin. Bukan ledakan besar, tapi ledakan energi murni yang mengenai lima goblin sekaligus. Goblin-goblin itu langsung menghilang menjadi abu, tanpa bekas.
Lev dan Vania tertegun. Kekuatan sihirnya luar biasa, mematikan, dan efisien.
Anastasya menurunkan tongkatnya, meniup sedikit debu imajiner di ujung tongkatnya, dan berjalan melewati mereka ke arah lumut di dinding, mengabaikan lima goblin yang tersisa yang kini ketakutan setengah mati dan mencoba kabur.
“Jangan biarkan mereka kabur!” Vania berteriak, menembak dua goblin yang lari.
Lev, yang sadar dari keterkejutannya, melihat tiga goblin tersisa. Dia menatap Anastasya yang cuek. "Hei, bantu kami sedikit!"
Anastasya menoleh, ekspresinya tetap datar. Dia mengangkat tongkatnya lagi. “Frost Shard.” Tiga paku es tajam melesat dan menembus tiga goblin terakhir dengan presisi sempurna.
Semua goblin tumbang. Keheningan kembali melingkupi selokan, hanya suara air yang mengalir.
You have defeated 10 Goblins. Gained 50 EXP.
Vania menatap Anastasya dengan mulut menganga. “Kau… kau kuat sekali! Level berapa kau?”
“Level 12,” jawab Anastasya singkat, sibuk mengikis lumut dari dinding dengan pisau kecil.
Level 12! Jauh di atas mereka yang masih level 1 dan 3. Vania langsung mendekat, matanya berbinar. “Hei, kami tim baru! Kami ‘Tiga Sekawan’! Mau gabung? Kami butuh penyihir kuat sepertimu!”
Anastasya berhenti dari pekerjaannya, menatap Vania, lalu ke Lev yang canggung, lalu ke Sippy si siput pelangi. Ekspresi datarnya sedikit berubah menjadi keraguan. “Tim? Aku lebih suka bekerja sendiri. Lebih tenang.”
“Tapi kami seru! Ada unique summoner yang bisa men-summon siput pembersih, dan aku pemanah paling lincah se-Aethelgard! Dijamin hidupmu nggak akan membosankan!” Vania merayu.
Lev hanya bisa menggelengkan kepala melihat Vania yang sangat hiperbola.
Anastasya berpikir sejenak, mengamati lumut beracun yang sudah terkumpul di kantongnya. Mungkin bekerja dalam tim bisa lebih efisien untuk misi pengumpulan bahan langka yang kadang-kadang membutuhkan pengalihan perhatian monster.
“Baiklah,” kata Anastasya akhirnya, mengejutkan Lev dan Vania. “Tapi jangan berisik.”
Vania langsung melompat kegirangan. “Yes! Selamat datang di tim, Anastasya! Kita resmi jadi ‘Tiga Sekawan’ yang legendaris!”
Lev tersenyum lega. Tim mereka sudah lengkap. Sekarang, mereka siap untuk misi yang lebih besar daripada sekadar selokan kota. Petualangan RPG fantasi mereka baru saja dimulai dengan anggota yang sangat unik.
