Kesepakatan antara Kael dan Lyra terasa rapuh, seperti jaring laba-laba yang tipis. Keduanya berjalan dalam diam, masing-masing membiarkan keraguan dan kecurigaan mengisi ruang di antara mereka. Lyra berjalan di depan dengan langkah ringan, sesekali berhenti untuk memeriksa jejak, matanya yang tajam mengawasi setiap pergerakan. Kael berjalan di belakangnya, berusaha keras untuk mengikuti tanpa membuat terlalu banyak suara. Ia merasa seperti berada di negeri dongeng yang bisa menjadi mimpi buruk kapan saja.
"Jangan berisik," bisik Lyra, suaranya seperti desiran angin. "Di hutan ini, suara kecil bisa membawa bahaya besar."
Kael mengangguk, berusaha meniru langkah Lyra. Tetapi sulit. Sebagai pembuat kartu, ia terbiasa dengan ketenangan bengkelnya, bukan keganasan alam liar.
Saat mereka semakin dalam ke hutan, aura sihir menjadi semakin pekat. Kael, dengan kemampuannya merasakan gema, bisa merasakan sihir itu beresonansi dengan kartunya. Itu adalah sihir alam yang murni, sihir yang sama yang ia gunakan saat membuat kartu dari bahan-bahan organik. Namun, di baliknya, ia merasakan sesuatu yang lain—sebuah vibrasi yang aneh, dingin, dan tidak menyenangkan.
Lyra tiba-tiba berhenti. Ia mengangkat busurnya, membidik ke arah sebuah pohon kuno yang menjulang tinggi. Kael menatapnya dengan bingung. "Ada apa?"
"Lihat itu," kata Lyra, suaranya tegang. Kael melihat ke arah yang ia tunjuk. Pohon kuno itu, yang seharusnya dipenuhi lumut hijau dan daun rimbun, kini memiliki kulit yang menghitam, seolah terbakar dari dalam. Daun-daunnya layu, dan batangnya mengeluarkan semacam getah gelap yang menetes ke tanah, mematikan segala tanaman yang disentuhnya.
"Ini bukan Mortii," kata Lyra. "Ini sihir yang lebih gelap. Mereka telah menodai hutan."
Tiba-tiba, getah-getah gelap itu mulai bergerak. Getah-getah itu merayap di tanah, membentuk sebuah wujud yang menyerupai binatang hutan, namun dengan anggota tubuh yang bengkok dan mata yang bersinar merah. Getah itu melesat ke arah mereka, tetapi Lyra bergerak cepat, menembakkan panahnya. Panah itu, yang dipenuhi sihir Fae, meledak saat mengenai getah, menghancurkannya menjadi serpihan.
Namun, semakin mereka melawan, semakin banyak pula getah yang datang dari pohon-pohon lain. Pohon-pohon di sekitar mereka mulai mengeluarkan getah yang sama, dan tak lama kemudian, hutan itu dipenuhi dengan monster getah yang mengerikan.
Kael tahu mereka tidak bisa melawan semua monster itu. "Kita harus lari!"
"Tidak," jawab Lyra, matanya berfokus pada pohon kuno yang pertama. "Pohon itu adalah sumbernya. Kita harus menghancurkan sumbernya."
Kael mengeluarkan kartunya, seorang penjaga Human yang kokoh. "Aku akan menjagamu. Kau fokus pada pohon itu!"
Dengan cepat, Kael melemparkan kartunya ke tanah. Kartu itu bersinar, dan penjaga Human itu muncul, berdiri di depan Kael dan Lyra, mengayunkan pedangnya untuk melawan monster-monster getah yang menyerang.
Lyra memejamkan matanya, memfokuskan energi sihirnya. Busurnya bersinar lebih terang, dan ia menembakkan panah dengan kekuatan penuh ke arah pohon kuno. Panah itu menembus kulit pohon, dan sebuah cahaya hijau terang muncul dari sana, disusul oleh suara dentuman yang keras. Pohon itu bergetar, dan monster-monster getah di sekitar mereka mulai lemas, kembali menjadi getah hitam yang tidak berbahaya.
Saat ketenangan kembali, Lyra menatap Kael dengan wajah terkejut. "Aku tidak pernah melihat kartu sekuat itu. Bagaimana kau melakukannya?"
"Itu adalah gema," jawab Kael, menunjuk ke arah penjaga Human yang kembali menjadi kartu. "Bukan hanya dari kartu ini, tapi dari semua kartu yang aku buat. Aku bisa merasakan kekuatan mereka, dan aku bisa menggabungkannya."
Lyra terdiam. Ia baru menyadari betapa uniknya kemampuan Kael. "Itu... tidak mungkin," bisiknya. "Tidak ada Human yang bisa melakukannya. Kemampuanmu... kau bisa merasakan sihir dengan cara yang berbeda."
"Aku tidak tahu bagaimana," jawab Kael. "Tapi aku tahu itu nyata. Kartu ini adalah bagian dari Elara. Gema dari kartu ini membimbingku."
Lyra menatap kartu Elara yang dipegang Kael. Ia mulai menyadari bahwa ada lebih banyak hal tentang Kael daripada yang ia lihat. Dia bukan hanya seorang Human, tetapi seseorang yang terhubung dengan sihir dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Keraguan Lyra mulai berubah menjadi rasa hormat. Ia menyadari bahwa Kael mungkin adalah kunci untuk mengakhiri perseteruan yang telah berlangsung lama ini.
"Kau harus belajar mengendalikan gema itu," kata Lyra. "Aku akan membantumu. Hutan ini mungkin adalah tempat yang berbahaya, tetapi ia juga adalah tempat yang terbaik untuk belajar. Ikutlah denganku. Kita akan mencari tempat yang aman, dan aku akan mengajarkanmu cara mengendalikan gema kartumu. Kita akan membutuhkan kekuatan itu jika kita ingin menghadapi Mortii."
Kael mengangguk. Ia tahu bahwa ia tidak bisa sendirian. Ia membutuhkan bantuan Lyra, dan Lyra membutuhkan kekuatan gema yang ia miliki. Petualangan mereka, yang baru dimulai, kini memiliki tujuan yang lebih besar: tidak hanya menemukan Elara, tetapi juga mengendalikan kekuatan yang bisa menyelamatkan Terravia dari kehancuran.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
