"Jadi, zdravstvuyte artinya halo?" Lev mengernyitkan dahi, mencoba meniru pelafalan Sofia yang terdengar begitu lembut dan mengalun.
Sofia menahan tawanya. "Hampir. Tapi bukan zdra-vstu-ye. Lebih seperti zdrastvuyte. Dengan huruf 'v' yang hampir tidak terdengar."
"Ulangi?"
Sofia mengulanginya perlahan. Zdrastvuyte.
Lev mencoba menirunya lagi. "Z..d..ra..ss..s..t..vuyte?"
Kali ini, Sofia tidak bisa menahan tawa. Tawa yang renyah dan menular. Lev, yang awalnya malu, akhirnya ikut tertawa. "Aksen saya pasti lucu sekali, ya?"
"Sangat lucu," jawab Sofia jujur, sambil menyeka sudut matanya yang basah karena tawa. "Tapi tidak apa-apa. Kamu masih pemula. Itu bagus."
Mereka berdua duduk di sebuah bangku di pinggir sungai Kama yang membeku. Udara dingin tidak terasa lagi karena tawa dan percakapan hangat. Beberapa hari setelah pertemuan pertama mereka, Lev dan Sofia rutin bertemu. Sofia, yang kebetulan sedang libur kuliah, sering menemani Lev berkeliling Perm. Ia tidak hanya menjadi pemandu, tetapi juga guru bahasa.
Sofia mengeluarkan sebuah buku kecil dan pena. "Oke, pelajaran hari ini. Frasa dasar. Spasibo."
"Sp..spa...si...bo?" ulang Lev, dengan lidah yang kaku.
"Bagus!" puji Sofia. "Itu artinya terima kasih."
"Ah, spasibo, Sofia," kata Lev, tersenyum lebar.
"Sama-sama. Dalam bahasa Rusia, jawabannya pozhaluysta."
"Po..ja..lu..i..sta?"
Sofia terkikik. "Lebih baik dari yang tadi."
Belajar bahasa Rusia ternyata jauh lebih sulit dari yang Lev bayangkan. Ada huruf Sirilik yang berbeda, pelafalan yang rumit, dan tata bahasa yang membingungkan. Apalagi, Lev sering salah tangkap.
Suatu sore, saat mereka berjalan di pasar, Lev melihat sebuah kios yang menjual apel. Ia ingin membeli apel, dan mencoba mempraktikkan pelajaran dari Sofia.
"Sofia, bagaimana cara bilang 'berapa harganya?'" bisik Lev.
"Tentu. Skol'ko eto stoit?" jawab Sofia.
Lev mencoba mengingat-ingat. Ia mendekati penjual dan dengan penuh percaya diri bertanya, "Skol'ko... stoli?"
Penjual itu menatapnya dengan bingung. Sofia buru-buru datang menghampiri. "Maaf, dia bilang Skol'ko eto stoit? Dia mau beli apel."
Si penjual tertawa ramah. "Ohh... ponyatno. Empat puluh rubel."
Setelah transaksi selesai, Sofia menjelaskan kesalahan Lev. "Stoli artinya 'meja'," bisik Sofia sambil menahan tawa. "Kamu tanya 'berapa harganya meja?' kepada penjual apel."
Lev meraup wajahnya dengan tangan. "Ya ampun. Pantas dia bingung."
Kejadian lain yang tak kalah kocak terjadi saat mereka memesan makan di sebuah kafe. Sofia menjelaskan menu kepada Lev. "Ini kotleta, daging giling. Ini vareniki, pangsit manis."
Lev mengangguk-angguk. Ia sudah belajar sedikit kata, dan merasa siap. Saat giliran memesan, Lev menunjuk ke menu dan mengucapkan dengan yakin, "Dva chelovek."
Sofia yang mendengar itu langsung tersedak kopinya. "Chelovek artinya orang, Lev," bisiknya sambil terbatuk. "Dva chelovek artinya 'dua orang'."
"Ya, kan memang dua orang. Saya dan Anda," jawab Lev polos.
"Bukan begitu. Itu untuk menyebut jumlah orang, bukan untuk memesan makanan. Seharusnya kamu bilang 'untuk dua orang', atau 'dua porsi'. Tapi tidak pakai chelovek," jelas Sofia, masih berusaha menahan tawa.
"Oh," Lev memerah, malu. Sofia buru-buru membetulkan pesanan mereka.
Meskipun sering melakukan kesalahan yang memalukan, Lev tidak pernah merasa rendah diri. Justru sebaliknya, Sofia membuatnya merasa nyaman. Sofia selalu mengajarinya dengan sabar, dan menganggap kesalahan-kesalahan itu sebagai bagian dari proses yang lucu.
Hubungan mereka pun semakin akrab. Mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga berbagi cerita tentang kehidupan, tentang impian, dan tentang pandangan mereka akan dunia. Lev menceritakan tentang Islam, tentang keindahan shalat, dan tentang pentingnya bersedekah. Sofia mendengarkan dengan penuh minat. Ia tidak terbiasa dengan konsep-konsep tersebut, tetapi ia menghargai keyakinan Lev.
Suatu malam, saat mereka sedang berjalan pulang, Lev berterima kasih. "Sofia, terima kasih karena sudah sangat sabar. Saya tahu bahasa saya ini payah sekali."
Sofia membalas dengan senyum tulus. "Tidak ada yang payah, Lev. Kamu berani keluar dari zona nyamanmu, datang ke negeri orang yang bahasanya sulit. Itu jauh lebih hebat dari siapapun yang hanya bisa belajar dari buku."
"Tapi... zdravstvuyte saya masih aneh."
Sofia tertawa. "Tidak apa-apa. Nanti juga lancar. Lagipula, saya suka aksenmu. Unik."
Lev tersipu malu. Ia tidak menyangka persahabatannya di Perm akan menjadi salah satu bagian terbaik dari perjalanannya. Ia kini punya guru bahasa, pemandu wisata, dan yang paling penting, sahabat yang tulus. Dinginnya Perm terasa jauh lebih hangat. Ia tahu, di balik setiap kesalahan dan tawa, mereka sedang membangun sebuah jembatan persahabatan yang kokoh, melintasi batas-batas yang ada.
