Sore itu, Manchester diguyur hujan lebat. Langit yang biasanya mendung kini menumpahkan seluruh airnya, membasahi jalanan dan membuat aktivitas warga sedikit terhenti. Karina, yang baru saja keluar dari kelas, tidak membawa payung. Ia menyelempangkan tasnya di kepala, berusaha melindungi dirinya, namun basah kuyup tidak terhindarkan. Ia mempercepat langkah, mencari tempat berteduh terdekat.
Ia berlari menyusuri jalan, melewati pertokoan yang mulai tutup. Tiba-tiba, ia melihat sebuah tempat yang ia kenali. Masjid. Bangunan dengan arsitektur unik itu terlihat lebih menawan di bawah rintik hujan. Lampu-lampu di dalamnya memancarkan cahaya hangat, seolah mengundang siapa saja untuk mendekat. Tanpa pikir panjang, Karina memutuskan untuk berteduh di teras masjid.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat beberapa orang berjalan keluar dari pintu masjid. Wajah mereka terlihat damai dan tenang, seolah baru saja melepaskan semua beban. Di antara mereka, Karina kembali melihat Adam. Pemuda itu tersenyum kepada beberapa orang yang menyapanya, lalu pandangannya bertemu dengan Karina.
Adam menghampirinya, payung di tangannya ia gunakan untuk melindungi Karina dari tetesan air hujan. "Karina? Kenapa di sini? Kamu kehujanan, ya?" tanyanya dengan nada khawatir.
Karina mengangguk, sedikit malu. "Iya, lupa bawa payung."
"Masuk saja, di dalam ada banyak ruang. Kamu bisa menunggu sampai hujan reda," tawar Adam.
"Ah, tidak usah, terima kasih. Di sini saja," tolak Karina dengan halus, merasa canggung. Ia belum pernah masuk ke dalam masjid sebelumnya, dan keraguan melanda hatinya.
"Tidak apa-apa," kata Adam meyakinkan. "Jangan sungkan. Masjid ini terbuka untuk semua orang."
Karina akhirnya mengikuti Adam masuk ke dalam tapi hanya dibagian belakang seperti tempat istirahat. Ruangan di dalamnya terasa hangat, dan aroma khas yang menenangkan langsung menyambutnya. Ia melihat beberapa orang masih duduk di karpet, membaca Al-Qur'an, dan beberapa lainnya sedang berbincang dengan suara pelan. Suasananya begitu khusyuk.
Karina duduk di bangku di dekat pintu, mengamati sekeliling. Ia melihat Adam mengambil wudu di dekat kamar mandi, lalu kembali ke dalam untuk salat. Adam salat dengan penuh ketenangan, gerakannya teratur, dan wajahnya memancarkan kedamaian yang luar biasa.
Melihat pemandangan itu, hati Karina terasa tersentuh. Ia melihat sebuah ritual yang tidak ia pahami, namun ia merasakan kedamaiannya. Kekosongan yang selalu ia rasakan, seolah-olah, sedang diisi oleh pemandangan ini. Ia merasa seperti menemukan sepotong puzzle yang hilang, meski ia belum tahu gambar utuhnya.
Setelah Adam selesai salat, ia kembali menghampiri Karina. "Sudah reda hujannya," katanya sambil tersenyum.
Karina menoleh ke luar. Hujan memang sudah berhenti, menyisakan hawa dingin yang menusuk.
"Terima kasih banyak, Adam," kata Karina tulus. "Kamu baik sekali."
Adam tersenyum. "Sama-sama. Mungkin ini cara Allah mempertemukan kita lagi."
Karina terdiam. Kata-kata Adam terasa dalam, seolah sebuah pesan tersembunyi. Pertemuan tak terduga di bawah rintik hujan, di depan sebuah masjid, telah meninggalkan kesan mendalam di hatinya. Di kota industri yang dingin ini, ia mulai menemukan kehangatan yang tidak pernah ia duga.
