Setelah Maja pamit pulang, perpustakaan kembali hening. Tapi bagi Anatasya, keheningan itu terasa berbeda. Tidak lagi nyaman, tetapi dipenuhi kecanggungan. Ia tidak bisa berhenti memikirkan kebohongan konyolnya dan fakta bahwa ia kini berhutang budi pada pria misterius di Sudut Rak. Pria yang, anehnya, memberikan simpati saat semua orang hanya mentertawakan kekacauannya.
Malam itu, Anatasya tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan Lev Ryley. Bagaimana suaranya yang dalam dan menenangkan itu berhasil meredakan situasi? Bagaimana ia bisa tahu tentang restorasi buku? Anatasya penasaran, tetapi ia juga terlalu malu untuk bertanya.
Keesokan paginya, ia tiba di perpustakaan dengan resolusi baru. Ia harus lebih berani. Ia harus berterima kasih pada Lev Ryley. Itu adalah hal yang sopan untuk dilakukan. Ia menyiapkan secangkir teh hangat, berharap itu bisa menjadi awal percakapan yang baik.
Namun, saat ia memasuki perpustakaan, Lev Ryley sudah berada di tempatnya, tenggelam dalam bukunya. Anatasya merasa ragu. Apa yang harus ia katakan? "Terima kasih sudah membantuku berbohong?" Tidak, itu terdengar aneh. "Terima kasih sudah menyelamatkanku dari Gunilla?" Itu terlalu berlebihan.
Ia memutuskan untuk menunggu. Ia bekerja seperti biasa, menyusun buku-buku, membersihkan meja, dan sesekali mencuri pandang ke arah Lev Ryley. Ia melihat pria itu membalik halaman dengan hati-hati, pandangannya tidak pernah lepas dari buku.
Akhirnya, jam istirahat tiba. Anatasya membawa nampan berisi teh dan kue kecil ke arah Lev Ryley. Kakinya terasa lemas, jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti sedang mendekati singa yang sedang tidur.
"Permisi," kata Anatasya, suaranya sedikit bergetar.
Lev Ryley mendongak, matanya yang dalam bertemu dengan mata Anatasya. Ia menatap Anatasya, lalu menatap nampan yang dibawanya. Ekspresinya tetap datar.
"Ini... untukmu," kata Anatasya, sambil meletakkan nampan di meja kecil di samping kursi Lev. "Sebagai tanda terima kasih... untuk kemarin."
Lev Ryley menatap Anatasya, lalu menatap tehnya. Ia tidak menyentuhnya. "Tidak perlu," katanya, suaranya tenang.
"Tapi... aku merasa tidak enak," kata Anatasya, merasa semakin canggung. "Aku... aku tidak tahu cara membalas budimu."
"Tidak ada yang perlu dibalas," kata Lev Ryley. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Lagipula, kau yang menanggung malu, bukan aku."
Anatasya merasa tersentuh oleh kata-katanya. "Tetap saja... kau bisa saja membiarkanku."
Lev Ryley menghela napas, menutup bukunya. Ia menatap Anatasya. "Aku sudah mencari beberapa nama ahli restorasi buku untukmu. Aku kirimkan ke email perpustakaan."
Anatasya terkejut. "Kau... sungguh?"
"Ya," kata Lev Ryley, singkat.
"Bagaimana kau tahu email perpustakaan?" tanya Anatasya, penasaran.
"Aku punya cara," jawabnya, sedikit tersenyum, tetapi bukan senyum yang ramah. Lebih seperti senyum yang tahu segalanya.
Anatasya merasa sedikit jengkel. Ia memberanikan diri. "Aku tidak tahu namamu."
"Aku Lev Ryley," katanya, lalu kembali membuka bukunya.
"Anatasya," kata Anatasya. "Anatasya Karlsson."
Lev Ryley mengangguk, tanpa melihat Anatasya.
Anatasya merasa percakapannya berakhir. Ia merasa bodoh karena mencoba berinteraksi. Ia merasa seperti mengganggu pria yang ingin sendiri. Ia merasa frustrasi.
"Ngomong-ngomong," kata Anatasya, "aku tahu kau setiap hari membaca buku di pojok ini. Apa kau... tidak punya teman?"
Pertanyaan itu keluar dari mulutnya sebelum ia bisa mengendalikan diri. Dan ia langsung menyesalinya. Ia melihat wajah Lev Ryley menegang, dan matanya menatap Anatasya dengan pandangan yang tajam.
"Aku sibuk," jawab Lev Ryley, suaranya dingin.
"Oh, maaf," kata Anatasya, panik. "Aku tidak bermaksud... uh..."
Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa melihat wajah Lev Ryley yang kini menunjukkan ekspresi yang berbeda. Bukan lagi datar, tetapi marah.
"Aku akan pergi," kata Anatasya, buru-buru. "Maaf sudah mengganggumu."
Ia berbalik, hendak melangkah pergi. Tetapi kakinya kembali tersandung, kali ini pada kakinya sendiri. Ia kehilangan keseimbangan, dan nampan berisi teh dan kue di tangannya terlepas. Kue-kue itu jatuh berserakan, dan teh tumpah, tetapi kali ini, tumpah ke lantai.
Anatasya merasa malu yang luar biasa. Ia berjongkok, mencoba memunguti kue-kue yang sudah tidak bisa dimakan itu. Tiba-tiba, ia mendengar suara tawa.
Anatasya mendongak. Lev Ryley sedang tertawa. Bukan tawa terbahak-bahak, tetapi tawa yang tertahan. Ia menutupi mulutnya dengan tangan, tetapi matanya berkerut karena geli.
Anatasya merasa bingung. Apakah ia sedang ditertawakan? Ia merasa kesal, tetapi ia juga merasa... lega. Tawa itu, meskipun tidak ditujukan padanya, entah mengapa membuat suasana yang tegang menjadi cair.
"Kau benar-benar ahli dalam membuat kekacauan, Anatasya Karlsson," kata Lev Ryley, suaranya masih terselip tawa.
Anatasya menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari pria itu. Sisi yang tidak misterius, tetapi hangat. Sisi yang tidak sedingin es, tetapi hangat seperti teh yang baru saja ia buat.
Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia merasa tertarik pada kekacauan yang baru saja ia buat. Mungkin Maja benar, hidupnya butuh sedikit kegilaan. Dan kegilaan itu, sepertinya, datang dalam bentuk Lev Ryley dan tawa pertamanya.
