Pagi hari di Ankara terasa segar, dengan matahari yang malu-malu mengintip di balik awan. Lev Ryley, dengan kamera andalannya yang sudah kembali berfungsi normal, merasa bersemangat. Setelah sarapan di sebuah kedai kecil, ia dan Emily sepakat untuk menjelajahi kota. Lev ingin mengambil foto-foto street photography yang autentik, menangkap kehidupan sehari-hari warga lokal tanpa dibuat-buat.
"Oke, Emily," kata Lev, menunjuk-nunjuk ke jalanan. "Aku akan memotret. Kamu... kamu bisa jadi model yang tidak kelihatan."
Emily mengernyitkan dahi. "Model yang tidak kelihatan? Apa itu?"
"Ya, kamu berada di belakangku, jangan melakukan hal-hal aneh, dan biarkan aku bekerja," jelas Lev dengan nada yang sok profesional.
"Tentu, tuan fotografer," balas Emily, pura-pura menghormat.
Lev menemukan sebuah sudut yang ideal di dekat sebuah pasar tradisional. Seorang kakek tua sedang duduk di samping keranjang penuh buah ara, menawarkannya kepada orang yang lewat. Mata Lev berbinar. Ini adalah potret sempurna tentang ketenangan dan tradisi. Ia mengangkat kamera, memfokuskan lensa, dan bersiap mengambil gambar.
Klik!
Saat Lev hampir mengambil gambar, tiba-tiba sebuah kepala muncul di bingkai kameranya. Itu Emily, dengan ekspresi wajah aneh yang dibuat-buat, persis di samping kakek penjual ara. Emily tersenyum lebar sambil memegang sebatang wortel.
"Emily!" bisik Lev, mencoba menahan tawa. "Aku sedang berusaha serius di sini!"
"Aku hanya ingin menambahkan unsur vitamin ke dalam gambarmu," Emily membalas, sambil mengunyah wortelnya dengan suara keras. Kakek penjual ara, yang bingung dengan tingkah Emily, malah ikut tertawa.
Setelah menyingkirkan Emily dari bingkai, Lev mencoba lagi. Kali ini, ia mengarahkan kameranya ke sekelompok anak-anak yang bermain sepak bola di gang sempit. Mereka terlihat riang, mengejar bola dengan antusias. Ini adalah potret yang penuh energi dan kegembiraan.
Klik!
Lagi-lagi, Emily muncul. Kali ini ia menendang sebuah kaleng kosong ke arah Lev, mencoba berpura-pura menjadi pemain sepak bola. Ia bahkan mencoba melakukan selebrasi gol yang berlebihan, yang membuat anak-anak yang tadi bermain kini malah fokus menertawakan tingkahnya.
"Emily, apa yang kamu lakukan?" Lev mengomel, kali ini tidak bisa menahan tawa.
"Aku hanya ingin menunjukkan bahwa Ankara itu penuh dengan kehidupan!" Emily berteriak, masih tertawa. "Kamu terlalu fokus pada keseriusanmu."
Lev akhirnya menyerah. Ia menurunkan kameranya, membiarkan Emily melakukan apa pun yang ia mau. Mereka terus berjalan, dengan Emily sesekali melakukan hal-hal konyol, seperti menirukan patung di taman, berakting seperti sedang menari di sebuah lapangan, atau mencoba berbicara bahasa Turki dengan nada yang aneh kepada orang asing, yang membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Namun, di tengah semua kekacauan itu, Lev menyadari sesuatu. Emily, dengan segala kekonyolannya, justru membantunya menemukan potret yang lebih jujur. Saat ia memotret sebuah toko yang sedang tutup, Emily tiba-tiba berpose di depannya, meniru model majalah. Foto itu, yang seharusnya menjadi foto yang biasa saja, kini menjadi foto yang penuh dengan cerita dan humor.
Lev mulai mengarahkan kameranya ke Emily, memotretnya saat ia sedang tertawa, saat ia sedang berpose aneh, dan saat ia sedang berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Ia menyadari bahwa petualangan ini bukan hanya tentang memotret jejak-jejak Islam, tetapi juga tentang memotret persahabatan yang baru terjalin.
Saat mereka beristirahat di sebuah kafe, Lev melihat hasil foto-fotonya. Ada banyak foto Emily yang lucu dan spontan, tetapi juga ada beberapa foto yang ia ambil secara diam-diam, saat Emily sedang serius melihat-lihat buku di sebuah toko, atau saat ia tersenyum tulus kepada seorang anak kecil. Foto-foto itu menunjukkan sisi lain dari Emily, sisi yang lebih dalam.
"Ternyata... street photography-ku hari ini isinya foto kamu semua," kata Lev, menunjukkan kameranya kepada Emily.
Emily tertawa. "Hebat kan? Kamu berutang padaku karena aku membuat portofoliomu lebih menarik."
Lev tersenyum. "Mungkin kamu benar. Tapi kalau begini terus, aku akan gagal menyelesaikan tugas utamaku."
"Tidak akan," kata Emily, dengan nada yang lebih serius. "Kamu akan menemukan banyak hal menarik. Dan aku janji, aku akan membantumu. Tapi, aku akan tetap sesekali mengganggumu, hanya untuk memastikan kamu tidak terlalu serius."
Lev mengangguk, merasa lega. "Deal."
Hari itu, Lev Ryley belajar bahwa street photography yang terbaik bukanlah tentang rencana yang sempurna, tetapi tentang merangkul kekacauan dan spontanitas yang ada di sekitar. Dan dengan Emily di sisinya, ia tahu bahwa petualangan ini akan menjadi perjalanan yang penuh dengan tawa dan kejutan.
