Petualangan mencari Vasily 789 tidak semudah membalikkan telapak tangan. Atau lebih tepatnya, bagi Maimunah, tidak semudah membalikkan telur dadar yang gosong di penggorengan. Kembali ke asrama, mereka bertiga berkumpul di kamar Maimunah yang sempit. Aroma popcorn yang dibuat Maimunah menyebar, membuat Sergei tersenyum tipis.
"Enak juga," kata Sergei, mencicipi sebutir popcorn.
"Tentu saja! Ini resep rahasia keluarga," jawab Maimunah bangga, "dijamin bikin ketagihan. Popcorn ini juga bisa jadi camilan saat kita mikirin cara nyari Vasily."
Zainab, seperti biasa, fokus pada tugas. Ia mencari informasi tentang Vasily melalui internet. "Di Rusia, nama Vasily itu sangat umum," katanya, "seperti nama Budi di Indonesia. Dan angka 789 itu bisa jadi apa saja. Nomor apartemen, nomor telepon, atau bahkan nomor taksi."
Maimunah mengangguk-angguk. "Atau mungkin 789 itu kode rahasia. Jangan-jangan Vasily itu mata-mata."
Sergei tertawa. "Tidak. Ayah saya bukan tipe orang yang berteman dengan mata-mata."
"Tapi kan kita nggak tahu masa lalu ayahmu!" Maimunah menyela, "Siapa tahu ayahmu itu mantan agen rahasia yang lagi menyamar jadi arsitek."
Zainab mendesah. "Mun, jangan mengada-ada."
Maimunah merajuk. "Aku cuma mengemukakan teori, Zai."
Sergei tersenyum melihat tingkah Maimunah. "Ada satu petunjuk lagi. Di belakang lukisan itu, ada alamat."
"Alamat?" tanya Zainab dan Maimunah bersamaan.
Sergei mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku mantelnya. "Ayah saya menulisnya di sini."
Kertas itu bertuliskan: Ulitsa Tverskaya, Dom 5, Kvartira 789.
"Ulitsa Tverskaya? Itu kan jalan yang paling terkenal di Moskow," kata Zainab.
"Dom 5? Rumah nomor 5?" tanya Maimunah. "Berarti Vasily tinggal di rumah nomor 5, apartemen nomor 789?"
"Mungkin," jawab Sergei. "Tapi Vasily sudah pindah sejak lama. Ini alamat lamanya."
"Kenapa kita harus ke alamat lama?" tanya Maimunah. "Siapa tahu Vasily udah pindah ke kutub utara."
Sergei menggeleng. "Saya yakin, ada sesuatu yang ditinggalkan ayah saya di sana. Sesuatu yang bisa mengarahkan kita ke Vasily."
Keesokan harinya, mereka bertiga menuju Ulitsa Tverskaya. Jalan itu ramai sekali. Maimunah berjalan sambil melompat-lompat kecil, menghindari genangan salju. Ia merasa seperti sedang berada di dalam video klip.
"Zai, kalo aku nyanyi, nanti ada yang ngira aku gila nggak, ya?" bisik Maimunah.
"Mungkin tidak," jawab Zainab, "tapi kamu akan menarik perhatian banyak orang."
Maimunah mengurungkan niatnya. Ia tidak mau jadi viral karena tingkah anehnya.
Mereka tiba di Dom 5, sebuah gedung apartemen tua yang terlihat usang. Gedung itu sudah tidak terawat, dan sebagian besar jendelanya sudah pecah. Maimunah merasa ngeri.
"Ini beneran alamatnya?" tanyanya, "Kok serem banget?"
Sergei mengangguk. "Dulu, tempat ini tidak seburuk ini."
Mereka masuk ke dalam. Lorong-lorongnya gelap dan berbau apek. Liftnya tidak berfungsi, jadi mereka harus menaiki tangga. Maimunah terus menggerutu.
"Aduh, lututku udah mau copot," keluhnya, "awas aja kalo di atas nggak ada apa-apa."
Zainab mendesah. "Mun, sabar."
Sesampainya di lantai 7, mereka mencari apartemen nomor 789. Apartemen itu terletak di sudut, dengan pintu yang sudah berkarat. Sergei mengetuk pintu itu, tetapi tidak ada jawaban.
"Kosong," kata Sergei.
Maimunah kecewa. "Yah, kosong. Udah capek-capek naik tangga."
Zainab mendekat ke pintu. Ia melihat ada sebuah lubang kecil di bawah pintu. Lubang itu cukup besar untuk memasukkan sesuatu. Zainab mencoba memasukkan tangannya, dan ia menemukan sebuah kotak kecil di dalamnya.
"Kotak apa itu, Zai?" tanya Maimunah.
Zainab mengeluarkan kotak itu. Kotak itu terlihat usang dan berdebu. Di atasnya, ada ukiran 789.
"Vasily 789," kata Maimunah, matanya berbinar.
Zainab membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah buku catatan kecil, sebuah kunci, dan sebuah foto. Foto itu adalah foto seorang pria muda, yang terlihat akrab dengan Alistair, ayah Sergei.
"Ini Vasily," kata Sergei, matanya berkaca-kaca.
Di buku catatan kecil itu, Alistair menuliskan pesan untuk Vasily. Pesan itu berisi permintaan maaf atas kesalahpahaman di masa lalu, dan sebuah janji untuk bertemu di suatu tempat.
"Di mana mereka janjian?" tanya Maimunah.
Zainab membolak-balik buku catatan itu, dan menemukan sebuah peta. Peta itu mengarah ke sebuah taman yang tidak terlalu jauh dari sana.
"Taman itu," kata Zainab, "sepertinya taman itu tempat favorit mereka."
"Jadi kita ke sana sekarang?" tanya Maimunah, antusias.
"Tentu saja," jawab Sergei.
Mereka bertiga keluar dari gedung apartemen itu, dan menuju taman yang tertera di peta. Taman itu sepi, hanya ada beberapa orang yang bermain salju. Di tengah taman, ada sebuah patung seorang pujangga Rusia. Di bawah patung itu, ada sebuah bangku. Dan di bangku itu, duduk seorang pria tua.
Pria tua itu terlihat lelah, tetapi matanya memancarkan kebaikan. Ia mengenakan mantel tebal dan topi kupluk. Di tangannya, ia memegang sebuah buku.
"Vasily?" tanya Sergei, ragu-ragu.
Pria tua itu menoleh. Matanya menyipit, mencoba mengenali Sergei. "Siapa kau?" tanyanya, dengan suara serak.
Sergei memperkenalkan dirinya. "Saya Sergei, anak Alistair."
Mata Vasily melebar. Ia menatap Sergei, lalu buku yang dipegang Sergei. "Kau... anak Alistair?"
Sergei mengangguk. "Ya. Ayah saya meminta saya untuk menemui Anda. Dan ia juga meminta saya untuk menyampaikan permintaan maafnya."
Vasily terdiam sejenak. Ia menatap buku yang dipegang Sergei, lalu ia tersenyum. "Alistair... Dia tidak pernah berubah. Selalu meminta maaf."
Vasily menceritakan kisah masa lalunya dengan Alistair. Ternyata, mereka bertengkar karena hal sepele. Namun, karena gengsi dan kesalahpahaman, mereka tidak pernah bertegur sapa lagi.
"Saya menyesal," kata Vasily, "saya harusnya memaafkannya sejak dulu."
Sergei tersenyum. "Ayah saya juga menyesal. Ia selalu merindukanmu."
Mereka bertiga melihat Vasily dan Sergei berpelukan. Maimunah meneteskan air mata. "Aku baper, Zai."
Zainab tersenyum. Ia menepuk pundak Maimunah. "Ini ending yang bahagia, Mun."
Namun, di tengah keharuan itu, Maimunah mencium bau aneh. Bau yang familiar. Bau bawang putih. Ia melihat sekeliling, dan menemukan seorang pria tua dengan topi dan kumis tebal, sedang duduk di bangku lain, menikmati roti dengan bawang putih. Maimunah berteriak.
"Bau bawang putih!"
Zainab dan Sergei menoleh, lalu tertawa. Maimunah merengut. Ia merasa, momen romantisnya dirusak oleh bawang putih. Namun, ia tidak bisa menahan tawanya. Ia tahu, petualangan mereka belum berakhir. Masih banyak misteri lain yang menunggu untuk dipecahkan. Dan tentu saja, bawang putih.
To be continued...
