Penerbangan panjang dari Jakarta menuju Manchester adalah perjalanan terpanjang dalam hidup Lev. Di ketinggian ribuan kaki, ia memandang awan yang membentang luas, memikirkan kembali perjalanan hidupnya. Dari lapangan becek di Banjarmasin, kini ia akan mendarat di kota yang menjadi rumah bagi klub sepak bola impiannya. Perasaan bangga, gugup, dan antusias bercampur aduk di dalam dadanya.
Setibanya di Manchester, ia disambut oleh perwakilan klub. Wajah-wajah yang selama ini hanya ia lihat di televisi kini berdiri di depannya. Langit Manchester yang mendung, berbeda jauh dengan cerahnya Banjarmasin, seolah menjadi metafora untuk tantangan yang menantinya. Ia tahu, di sini, semuanya akan berbeda.
Latihan pertama di Carrington, pusat latihan Manchester United, adalah kejutan besar. Setiap gerakan dilakukan dengan presisi dan intensitas tinggi. Bola bergerak jauh lebih cepat, dan setiap pemain memiliki kualitas teknis yang tak tertandingi. Rekan-rekan setimnya, seperti Bryan Mbeumo, Matheus Cunha, dan Benjamin Šeško, yang namanya sering ia dengar di siaran berita, kini menjadi rekan latihannya.
Pada awalnya, Lev merasa seperti orang asing. Ia kesulitan mengikuti ritme yang begitu cepat. Umpan-umpannya yang dulu mematikan di Liga Indonesia, sering kali terbaca oleh pemain bertahan United yang sigap. Gerakannya yang dulu lincah, kini terasa sedikit lambat dibandingkan para pemain kelas dunia. Di tengah latihan, ia sempat melakukan beberapa kesalahan, dan tatapan-tatapan dari rekan setimnya yang tampak kecewa membuat mentalnya sedikit terguncang.
Pelatih Rúben Amorim, seorang ahli taktik muda yang reputasinya sudah mendunia, melihat perjuangan Lev. Setelah sesi latihan, ia memanggil Lev ke kantornya.
"Kamu punya bakat, Lev. Tapi di sini, bakat saja tidak cukup," kata Amorim, tatapannya tegas namun penuh pengertian. "Liga Premier adalah kompetisi paling berat di dunia. Kamu harus belajar membaca permainan jauh lebih cepat, berpikir satu atau dua langkah di depan lawan."
Amorim kemudian menunjukkan video cuplikan permainan Lev. Ia menganalisis pergerakan Lev di lapangan, menunjukkan area-area yang perlu diperbaiki. Ia tidak hanya mengkritik, tetapi juga memberikan solusi, menjelaskan filosofi bermain timnya, dan bagaimana Lev dapat beradaptasi untuk menjadi bagian penting dari sistem.
Lev mendengarkan dengan saksama. Ia menyadari bahwa di sini, belajar tidak pernah berhenti. Ia mulai menghabiskan lebih banyak waktu di pusat latihan, bukan hanya untuk berlatih fisik, tetapi juga untuk mempelajari taktik. Ia bertanya kepada rekan-rekan setimnya, terutama para gelandang senior Bruno Fernandes, tentang bagaimana mereka menghadapi tekanan dan membuat keputusan cepat di lapangan.
Ia juga harus beradaptasi dengan budaya baru. Bahasa, cuaca, makanan, semuanya berbeda. Namun, ia tidak pernah menyerah. Ia sering menelepon keluarganya di Banjarmasin, berbagi cerita tentang pengalamannya, dan mendengar dukungan tanpa henti dari mereka. Dukungan itulah yang menjadi pengingatnya tentang alasan mengapa ia berada di sini.
Perlahan tapi pasti, Lev mulai menemukan ritmenya. Ia mulai memahami pergerakan rekan-rekan setimnya, dan umpan-umpannya yang dulu sering salah, kini kembali menemukan targetnya. Visi bermainnya yang luar biasa, dipadukan dengan kecerdasan taktis yang ia pelajari dari Amorim, membuat ia semakin menonjol. Dalam pertandingan-pertandingan pra-musim, ia mulai menunjukkan kualitasnya. Umpan terobosannya yang akurat dan tak terduga menjadi senjata baru bagi serangan Manchester United.
Para penggemar United, yang pada awalnya skeptis, mulai menyadari potensi yang dimiliki Lev. Mereka terkesan dengan etos kerjanya dan kemampuannya untuk mengontrol tempo permainan. Sebuah artikel di media Inggris menyebut Lev sebagai "permata tersembunyi dari Asia," dan ekspektasi mulai meningkat.
Namun, Lev tahu bahwa musim sebenarnya belum dimulai. Pertandingan resmi pertama, atmosfer Old Trafford, dan tekanan yang lebih besar menanti. Ia masih harus berjuang untuk mendapatkan tempat di starting line-up. Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia siap menghadapi setiap rintangan yang menghadang di teater impiannya.
