Matahari sudah mulai condong ke barat saat mobil silver mereka memasuki gerbang perbatasan Hulu Sungai Selatan. Lev dengan semangat mengambil kamera dan mengarahkan ke spanduk selamat datang yang sudah pudar.
"Rauf, ini namanya momen. Momen historis! Kita harus abadikan!" seru Lev.
Rauf, yang lelah menyetir, hanya mengangguk lemas. "Iya, iya. Ambil fotonya yang bagus. Jangan sampai blur."
Di mata Lev, Kandangan terlihat berbeda dari Banjarmasin. Kota ini terasa lebih tenang, dengan deretan toko-toko kecil yang berjejer rapi di pinggir jalan. Beberapa orang duduk santai di teras rumah mereka, sesekali menyapa pengendara yang lewat. Tidak ada kemacetan parah, tidak ada bunyi klakson yang memekakkan telinga, disini terasa damai berbeda dengan perkotaan yang besar banyak kendaraan berlalu-lalang.
"Rasanya kayak masuk ke mesin waktu, Rauf. Kembali ke masa lalu yang lebih sederhana," gumam Lev, lebih kepada dirinya sendiri.
Rauf yang mendengarnya hanya tersenyum tipis. "Mungkin karena di sini hidupnya lebih santai. Orang-orangnya lebih kenal satu sama lain."
Mereka mencari penginapan yang sudah Rauf pesan sebelumnya. Penginapan itu adalah sebuah rumah tua yang diubah menjadi guesthouse, dengan halaman yang rindang dan nuansa kayu yang kental. Lev langsung jatuh cinta.
"Ini baru namanya petualangan, Rauf! Tinggal di tempat yang otentik. Bukan di hotel modern yang isinya sama aja di mana-mana," Lev berkata, sambil menyeret ranselnya.
"Aku cuma pesan yang paling murah, Lev. Dan ini yang paling murah di antara yang paling murah," Rauf berbisik.
Lev tertawa. "Sempurna! Hemat, tapi berkesan. Cocok buat kita."
Setelah meletakkan barang-barang di kamar, mereka keluar untuk mencari makan malam. Lev mengeluarkan buku catatannya.
"Catatan hari pertama di Kandangan: Suasana tenang, udara sejuk, orang-orang ramah. Minus: Sahabat di sebelahku tampak seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran harimau. Wajahnya pucat dan tegang," tulis Lev, sambil melirik Rauf.
"Aku capek nyetir, Lev," jawab Rauf datar.
Mereka menemukan sebuah warung makan di pinggir jalan yang menjual soto banjar dan nasi kuning. Aroma rempah yang harum langsung menyambut mereka.
"Wah, Rauf! Ini dia! Khas banjar banget!" seru Lev, matanya berbinar.
Mereka memesan soto banjar. Saat menunggu, Lev kembali mengamati sekeliling. Di meja sebelah, sekelompok bapak-bapak sedang tertawa lepas sambil menikmati kopi. Di sudut warung, seorang ibu-ibu dengan ramah menawarkan gorengan kepada mereka.
"Lihat, Rauf. Ini yang Kakek maksud. Interaksi sosial, kebersamaan. Mereka enggak sibuk sama gadget mereka," bisik Lev.
Soto banjar mereka datang. Kuahnya yang kaya rempah, potongan ayam yang lembut, dan taburan bawang goreng yang melimpah membuat mereka lahap makan. Lev bahkan sampai nambah dua piring.
Setelah makan, mereka memutuskan untuk jalan-jalan sore di sekitar penginapan. Mereka berjalan menyusuri jalanan yang sudah mulai gelap. Tiba-tiba, dari sebuah rumah panggung, terdengar alunan selawat yang merdu. Lev dan Rauf berhenti.
Mereka melihat ke arah rumah itu, di mana sekelompok ibu-ibu sedang duduk melingkar, membaca selawat dengan khidmat.
"Ini nih, Rauf. Nilai-nilai Islam yang melekat. Bahkan di malam hari, mereka melantunkan selawat," bisik Lev, matanya berbinar. Ia mengeluarkan kameranya, tapi Rauf langsung mencegahnya.
"Jangan, Lev. Ini momen sakral. Hormati mereka," Rauf mengingatkan.
Lev mengangguk, menyimpan kameranya kembali. Ia mengambil ponselnya, merekam suara merdu itu.
"Suara ini akan jadi soundtrack cerita kita, Rauf. Suara yang penuh ketenangan," ucap Lev.
Mereka melanjutkan perjalanan. Di sebuah persimpangan, Lev melihat sebuah masjid tua yang megah. Lampu-lampu sorot menyinari kubahnya, membuat masjid itu terlihat cantik.
"Rauf, kita salat Isya di sana," ajak Lev.
Di masjid itu, mereka bertemu dengan seorang marbot yang ramah. Marbot itu menceritakan sejarah masjid tersebut, dan bagaimana masjid itu menjadi pusat kegiatan masyarakat.
"Di sini, masjid bukan cuma tempat salat, Nak. Tapi juga tempat berkumpul, tempat berbagi cerita. Di sini, kita semua keluarga," kata marbot itu, dengan senyum tulus.
Malam di Kandangan terasa berbeda. Malam yang tenang, damai, dan penuh kehangatan. Lev merasa, ia telah membuat keputusan yang benar dengan menerima tantangan Kakeknya.
"Rauf, aku mulai paham maksud Kakek. Ini bukan cuma tentang perjalanan. Tapi juga tentang menemukan diri sendiri, tentang menemukan makna di balik hal-hal sederhana," kata Lev, saat mereka kembali ke penginapan.
Rauf hanya tersenyum. "Baru babak pertama, Lev. Masih banyak yang harus kamu pelajari."
Lev mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya di kasur, memandang ke langit-langit kamar yang terbuat dari kayu. Ia merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu, petualangan ini akan menjadi petualangan terbaik dalam hidupnya. Dan ia tidak sabar untuk memulai babak-babak selanjutnya.
