Perjalanan ke Kawah Emas adalah perjalanan yang melelahkan dan berbahaya. Tanah tandus Siberia yang dingin digantikan oleh medan yang semakin berat. Salju tebal, angin badai, dan suhu yang ekstrem menjadi tantangan sehari-hari. Kelompok Lev harus mengandalkan insting bertahan hidup mereka, di samping kemampuan bertarung. Setiap langkah adalah perjuangan, setiap perhentian adalah kelegaan.
Pada suatu pagi, saat mereka melintasi jurang es, mereka bertemu dengan sekelompok makhluk yang aneh. Mereka adalah humanoid dengan kulit pucat dan mata biru yang bersinar, dikenal sebagai Frostkin. Makhluk ini tidak memiliki senjata, tetapi mereka sangat lincah dan serangan tangan kosong mereka dapat membekukan lawan.
"Jangan sentuh mereka!" Vania berteriak, suaranya hampir hilang diterpa angin. "Mereka memiliki kemampuan membekukan! Jika kita menyentuh mereka, kita akan lumpuh!"
Strategi mereka harus berubah. Pedang Lev dan Cindy tidak efektif melawan musuh yang tidak boleh mereka sentuh. Andriy menjadi kunci, menembakkan panah presisi dari jarak aman. Anatasya, dengan kecepatan dan kelincahannya, menjadi pengalih perhatian. Dia berlari di sekitar Frostkin, memancing mereka untuk mengejar, sementara Andriy menembak mereka satu per satu.
Anatasya dengan lincah menghindari serangan es yang datang dari telapak tangan Frostkin. Dengan gerakan yang cepat, dia berhasil menarik perhatian beberapa makhluk itu ke arahnya, membuat mereka menjauh dari tim inti.
"Andriy! Sekarang!" teriak Anatasya, berputar dengan elegan untuk menghindari cakaran es.
Andriy, dengan wajah dingin dan fokus, menembakkan serangkaian panah. Setiap panah menemukan sasarannya, menembus kepala Frostkin dari jarak jauh. Tubuh makhluk itu roboh, menghilang seperti embun beku yang terkena sinar matahari.
Tetapi pertempuran itu tidak berjalan mulus. Salah satu Frostkin berhasil menyelinap di antara celah pertahanan mereka. Makhluk itu menyerang Cindy, dan meskipun Cindy berhasil memblokir serangan dengan perisainya, hawa dingin yang luar biasa menembus perisainya, membuatnya gemetar kedinginan.
Lev melihat ini dan bergerak cepat. Dia melemparkan pedangnya, yang sudah ia lapisi dengan minyak api, ke arah Frostkin itu. Pedang itu membakar makhluk itu dan ia menjerit, meleleh menjadi genangan air. Lev kemudian mengambil kembali pedangnya.
Setelah semua Frostkin berhasil dikalahkan, mereka melanjutkan perjalanan. Vania menghampiri Cindy yang masih gemetaran. "Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," kata Cindy, berusaha menyembunyikan giginya yang gemertak. "Hanya... dingin."
Pengalaman ini mengajarkan mereka bahwa setiap musuh memiliki kelemahan, dan mereka harus belajar beradaptasi. Di dunia tanpa sihir ini, kecerdasan dan strategi seringkali lebih penting daripada kekuatan mentah.
