Setelah menikmati sarapan dan perbincangan yang hangat di warung, Lev dan Faruq kembali ke penginapan. Faruq mengecek kembali peta dan jadwal perjalanan mereka, memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Sementara itu, Lev, dengan semangat membara, langsung sibuk dengan kameranya, mentransfer foto-foto yang ia ambil ke laptop. Namun, kekonyolan kembali menyapa.
"Faruq! Faruq!" panggil Lev dengan nada panik, suaranya hampir memecah keheningan kamar.
Faruq yang sedang fokus pada peta, menghela napas. "Ada apa lagi, Lev? Dokumenmu basah lagi?"
Lev menggeleng cepat. "Bukan, Faruq! Ini lebih gawat!"
Faruq menghampiri Lev, melihat layar laptopnya. "Ada apa? Fotonya hilang?"
"Bukan, bukan itu!" Lev menunjuk ke layar. "Aku... aku tidak sengaja menukar kartu memori kameraku dengan milik orang lain."
Faruq memijat pelipisnya. "Bagaimana bisa?"
"Tadi... tadi saat di masjid, aku tidak sengaja menyentuh kamera seorang ibu-ibu. Aku kira itu punyaku. Lalu... aku menukar kartunya," jawab Lev, dengan wajah memerah.
"Ya Allah, Lev! Kamu ini memang tidak bisa diam, ya?" Faruq menggeleng-gelengkan kepala.
Lev merasa bersalah. "Maaf, Faruq. Aku akan segera mencari ibu itu. Aku akan pergi ke masjid lagi."
Faruq menarik napas dalam-dalam. "Tidak perlu, Lev. Itu sudah terlalu jauh. Kita cari solusi lain."
Lev merasa putus asa. Ia tahu, foto-foto yang ada di kartu memori itu sangat penting. Apalagi ia sudah mendapatkan foto kakek yang begitu inspiratif. Ia tidak mau mengecewakan yayasan, dan juga Faruq.
"Jadi, kita harus bagaimana?" tanya Lev.
Faruq berpikir sejenak. "Kita coba ke warung makan tadi. Mungkin ibu-ibu itu juga makan di sana."
Mereka berdua bergegas ke warung makan di seberang masjid. Lev berharap-harap cemas. Ia berdoa dalam hati, semoga ibu itu masih ada. Namun, saat mereka tiba, warung itu sudah sepi.
"Yah... sudah tidak ada," kata Lev, dengan nada kecewa.
"Jangan menyerah, Lev. Kita cari lagi," Faruq mencoba menenangkan.
Mereka bertanya kepada pemilik warung, tapi Acil itu tidak tahu siapa ibu yang mereka maksud. Lev merasa semakin putus asa. Ia melihat ke arah masjid, hatinya merasa sedih. Ia merasa bodoh, ia telah kehilangan foto-foto yang sangat penting.
"Faruq... aku merasa gagal," kata Lev, dengan suara serak.
"Hey, Lev. Jangan bicara seperti itu. Kita belum selesai, kan? Kita masih punya waktu," Faruq menepuk pundak Lev.
Mereka kembali ke penginapan. Faruq menyarankan untuk mengecek ke masjid lagi, siapa tahu ada pengumuman tentang kartu memori yang hilang. Lev merasa ragu, tapi ia tetap mengikuti saran Faruq.
Sesampainya di masjid, Lev dan Faruq langsung menghampiri petugas keamanan. Lev menceritakan insiden yang terjadi, dan petugas itu dengan ramah membantu mereka.
"Mari kita cek di pengumuman, nak. Siapa tahu ada yang menemukan," kata petugas itu.
Mereka berjalan menuju papan pengumuman. Di sana, tertempel sebuah kertas kecil.
DI TEMUKAN SEBUAH KARTU MEMORI DI AREA MASJID. BAGI YANG MERASA KEHILANGAN, HUBUNGI NOMOR INI.
Lev membaca tulisan itu dengan hati berdebar. Ia merasa lega, ia telah menemukan harapan.
"Faruq! Ini dia!" Lev berteriak gembira.
Faruq tersenyum. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Jangan putus asa dulu."
Lev segera menghubungi nomor yang tertera. Seseorang mengangkat telepon, dan setelah beberapa perbincangan, Lev menyadari bahwa orang itu adalah ibu yang ia temui di warung makan tadi. Ibu itu ternyata juga menyadari bahwa ia telah menukar kartu memori.
"Alhamdulillah," ucap Lev. "Bisa kita bertemu di masjid lagi, bu?"
"Tentu, nak. Saya tunggu di sini," jawab ibu itu.
Setelah beberapa menit menunggu, ibu itu datang. Ia tersenyum, lalu memberikan kartu memori itu kepada Lev.
"Ini, nak. Kamu ini memang ceroboh, ya?" kata ibu itu, sambil tertawa.
Lev tersipu malu. "Maaf, bu. Saya tidak sengaja."
"Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati, ya. Saya senang kamu bisa menemukannya. Di dalam kartu memori itu, ada foto cucu saya yang baru lahir," kata ibu itu.
Lev merasa lega, dan juga bersyukur. Ia telah menemukan kartu memori itu, dan ia juga mendapatkan pelajaran berharga. Bahwa kejujuran dan niat baik, pasti akan mendapatkan balasan yang baik pula.
Mereka berdua berpamitan dengan ibu itu, lalu kembali ke penginapan. Lev langsung mengecek isi kartu memori itu. Semua foto yang ia ambil, termasuk foto kakek yang ia temui di masjid, masih ada.
"Alhamdulillah," ucap Lev, dengan nada penuh syukur.
Faruq tersenyum. "Kamu tahu, Lev? Kamu ini seperti magnet, ya. Selalu menarik kejadian-kejadian unik."
Lev tertawa. "Mungkin ini bagian dari petualangan, Faruq. Kalau tidak ada kekonyolan, tidak seru, kan?"
Malam itu, Lev dan Faruq menikmati hidangan khas Palangka Raya di sebuah warung makan. Mereka berbagi cerita, tawa, dan mimpi-mimpi mereka. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
