Emily merasa lebih ringan saat berjalan keluar dari Le Petit Café. Bukan hanya karena kehadiran Antoine yang memberinya sedikit cahaya, tetapi juga karena ia menemukan peta lama yang Adam sisipkan di buku catatannya. Peta itu terlihat usang, dengan beberapa coretan dan catatan kecil di sisi-sisinya. Antoine menunjuk ke satu titik yang dilingkari Adam dengan pena merah, sebuah area di dekat taman. “Ini adalah Jardin du Luxembourg,” jelasnya. “Taman ini punya sejarah panjang. Banyak seniman dan penulis yang mencari inspirasi di sana.”
Emily bergegas menuju Jardin du Luxembourg, sambil mencoba memecahkan misteri peta yang Adam tinggalkan. Peta itu menunjukkan sebuah jalan setapak yang mengarah ke bagian taman yang kurang dikenal. Emily merasa seperti sedang bermain petualangan, sebuah permainan yang dirancang Adam untuknya. Hatinya yang selama ini hampa, kini terasa berdebar-debar. Menjelajahi Paris sendiri tidak lagi terasa menakutkan. Ia merasa Adam ada di sampingnya, membimbing setiap langkahnya.
Ketika ia sampai di tempat yang ditunjuk peta, Emily menemukan sebuah kursi taman tua, agak tersembunyi di balik semak-semak. Di atas kursi itu, terdapat sebuah ukiran kecil, “E & A”. Air mata Emily kembali menetes, tetapi kali ini bukan air mata duka, melainkan air mata haru. Ia ingat, Adam pernah berjanji akan membawanya ke taman ini, dan mengukir inisial mereka berdua di sana. Meskipun Adam sudah tidak ada, janji itu tetap terwujud.
Emily menyadari bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar menemukan kembali dirinya; ini juga tentang menemukan kembali Adam, dalam setiap kenangan yang ia tinggalkan. Ia duduk di kursi itu, merasakan kehangatan yang tak bisa dijelaskan. Di sinilah ia merasakan koneksi yang paling kuat dengan Adam sejak ia meninggal. Ini adalah bagian dari kisah duka di Paris yang tak terlupakan.
Saat ia duduk, ia mengeluarkan buku catatan Adam, dan menemukan selembar kertas yang terselip di dalamnya. Kertas itu berisi puisi yang Adam tulis untuknya. Puisi itu menceritakan tentang cinta mereka yang tak lekang oleh waktu, tentang janji yang tak akan pernah pudar. Emily membacanya berulang-ulang, setiap kata terasa seperti belaian lembut dari Adam.
Puisi ini adalah bagian dari novel tentang duka yang ia tulis sendiri, babak baru yang penuh dengan harapan. Emily menyadari bahwa duka tidak pernah hilang, tetapi bisa diubah menjadi sesuatu yang indah. Duka bisa menjadi kekuatan, menjadi kenangan yang takkan pernah pudar. Ia mengambil napas dalam-dalam, menghirup aroma bunga dan dedaunan yang menenangkan. Di sini, di kursi taman tua ini, ia merasa Adam ada di sisinya.
Emily meninggalkan taman itu dengan perasaan damai. Ia tidak lagi merasa sendiri. Paris, yang semula terasa dingin dan asing, kini terasa hangat dan akrab. Ia memiliki peta Adam, yang tidak hanya menunjukkan jalan di Paris, tetapi juga jalan menuju penyembuhan. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan Emily tahu, ia siap menghadapi setiap babak dari perjalanan healing yang menunggunya. Ia akan melanjutkan hidup, bukan untuk melupakan Adam, tetapi untuk menghormati kenangan dan janjinya.
