Keputusan Lev untuk menyelidiki pria berjubah itu membuatnya merasa lebih baik, seolah-olah ia telah menemukan tujuan baru. Ia tidak lagi hanya terombang-ambing oleh rasa iri dan ketidakpuasan. Namun, ketidakmampuannya mengendalikan elemen buminya masih menjadi batu sandungan. Pagi berikutnya, ia kembali ke lapangan latihan dengan tekad yang membara.
Instruktur elemen bumi, seorang pria dengan otot-otot kekar dan mata yang tajam, kembali mengamati Lev. Nama pria itu adalah Kael. Kael sudah melihat potensi dalam diri Lev, tetapi ia juga melihat keraguan dan keengganan yang terus menghambat sang murid.
"Lev," panggil Kael. "Coba lagi. Jangan hanya gunakan kekuatanmu. Rasakan."
Lev mencoba lagi, kali ini ia membayangkan dirinya sebagai pohon yang kokoh, akarnya tertanam kuat di tanah. Ia menutup mata dan merasakan getaran di bawah kakinya, namun gundukan tanah yang ia coba bentuk tetap saja runtuh. Ia mendengus frustrasi.
Vania dan Anatasya yang sedang berlatih di dekatnya melihat kegelisahan Lev. Vania, dengan api yang menari-nari di telapak tangannya, menawarkan bantuan. "Mungkin kau perlu lebih banyak kekuatan, Lev. Cobalah membayangkan sesuatu yang kuat, seperti gunung berapi."
Anatasya, yang sedang mengendalikan bola air yang mengalir di udara, menimpali, "Atau mungkin kau perlu lebih fokus. Pikirkan saja satu tujuan, seperti mengalirkan air."
Lev menggelengkan kepala. "Aku sudah mencoba semuanya. Elemen ini... tidak cocok untukku."
Kael, yang telah mengamati Lev sejak awal, mendatangi mereka. "Kekuatanmu bukanlah gunung berapi yang meletus atau air yang mengalir. Kekuatanmu adalah fondasi. Ia adalah stabilitas. Ia adalah ketenangan. Ia adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi ia ada."
Kael kemudian membungkuk dan menyentuh tanah. Seketika, tanah di sekelilingnya bergetar dan membentuk sebuah pilar batu yang sangat kokoh. Kael menatap Lev. "Ini adalah kekuatan bumi. Ia bukan tentang kehancuran. Ia tentang penciptaan."
Kata-kata Kael membuat Lev berpikir. Ia menyadari bahwa ia selalu membandingkan dirinya dengan Vania dan Anatasya, dan ia selalu menginginkan kekuatan yang bukan miliknya. Tetapi, ia tidak pernah benar-benar mencoba memahami kekuatannya sendiri.
Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi. Suara itu menandakan adanya serangan. Semua siswa bergegas berkumpul di tengah lapangan.
"Sombra kembali," kata Kael, suaranya dipenuhi kewaspadaan. "Mereka lebih kuat dari sebelumnya. Kita harus bersiap."
Di kejauhan, mereka melihat bayangan-bayangan hitam yang datang dari hutan. Jumlah mereka lebih banyak dari sebelumnya, dan mereka terlihat lebih kuat. Para instruktur segera mengatur para siswa. Lev, Vania, dan Anatasya ditempatkan di garis depan, bersama dengan siswa-siswa yang paling mahir.
"Lev," kata Vania, "Kita akan menghadapi mereka bersama."
"Ya," timpal Anatasya. "Ingat, kita saling melindungi."
Lev mengangguk. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, tetapi ia tahu bahwa ia tidak akan lari. Ia akan menggunakan kekuatannya, kekuatannya yang asli, untuk melindungi teman-temannya. Ia akan membuktikan bahwa kekuatan bumi tidaklah membosankan.
Bab ini diakhiri dengan para siswa Arcanum, termasuk Lev, Vania, dan Anatasya, bersiap untuk pertempuran yang tak terhindarkan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi mereka tahu bahwa mereka harus bertarung.
Ikuti saluran The World Behind the Veil: The Tale of the Three Elemen di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VbAwxYhKWEKtzGEwQd1R
