Sementara Samudra dan pasukannya merayakan kemenangan kecil di pinggir sungai, kegemparan terjadi di Istana Daha. Kabar kekalahan pasukan elite Tumenggung menyebar bagai api, mengguncang kepercayaan para pembesar dan rakyat. Pangeran Tumenggung duduk di singgasananya, wajahnya keruh. Cengkeramannya pada takhta terasa mulai goyah. Di hadapannya, Panglima Perang istana yang baru, seorang pria ambisius bernama Suraji, bersujud.
"Maafkan hamba, Paduka," kata Suraji, suaranya penuh penyesalan palsu. "Pasukan hamba tidak menyangka akan mendapat perlawanan sekuat itu. Gerilyawan hutan dan perompak sungai itu berbahaya."
Tumenggung mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit. "Bukan itu yang menggangguku, Suraji. Bagaimana bisa seorang bocah dan sekelompok orang buangan mengalahkan pasukan terlatih kita? Ada yang salah."
"Mungkin mereka mendapat bantuan dari luar," Suraji mencoba beralasan.
"Tidak mungkin," jawab Tumenggung. "Tapi aku merasakan ada pengkhianat di antara kita. Ada mata dan telinga yang membocorkan informasi kepada bocah itu." Tumenggung melirik para pembesar yang hadir, tatapan matanya tajam. Sontak, semua orang menunduk, tidak berani bertatap muka dengannya.
Di sisi lain istana, di sebuah ruangan yang penuh dengan gulungan-gulungan tua dan kitab-kitab sejarah, seorang penasihat senior bernama Ki Bayu duduk merenung. Ia adalah penasihat lama keluarga kerajaan, orang yang mengenal Samudra sejak kecil dan tahu persis kebenaran tentang kematian Raja Sukarama. Ki Bayu telah lama menduga Tumenggung merebut takhta dengan cara licik. Meskipun ia tetap melayani Tumenggung di permukaan, diam-diam ia menyimpan dendam dan rencana untuk mengembalikan kekuasaan pada pewaris sahnya.
Malam itu, Ki Bayu memanggil seorang pembantunya yang dipercaya. "Aku memiliki tugas penting untukmu," katanya, menyerahkan sebuah gulungan yang disegel. "Antarkan ini kepada Pangeran Samudra. Temukan keberadaannya di pedalaman. Berikan gulungan ini hanya kepada dia, dan jangan sampai jatuh ke tangan musuh."
Gulungan itu berisi informasi rahasia tentang kekuatan militer Tumenggung, kelemahan pertahanan istana, dan rute-rute rahasia untuk menyusup. Ki Bayu tahu, Samudra membutuhkan informasi ini untuk merencanakan serangan berikutnya.
Namun, tidak semua orang di istana bisa dipercaya. Seorang penjaga yang melihat pertemuan rahasia Ki Bayu melaporkan kejadian itu kepada Suraji. Ambisi Suraji adalah menjadi panglima utama dan memonopoli kekuasaan militer. Ia melihat Ki Bayu sebagai ancaman, dan Samudra sebagai batu loncatan untuk menaikkan reputasinya di mata Tumenggung.
"Jadi, si tua bangka itu pengkhianatnya," gumam Suraji dengan senyum licik. Ia tidak langsung melaporkannya kepada Tumenggung, karena ia memiliki rencana yang lebih besar. Ia akan membiarkan Ki Bayu mengirimkan informasinya, lalu mencegat kurir tersebut. Dengan begitu, ia bisa menyusun jebakan untuk Samudra, sekaligus membuktikan pengkhianatan Ki Bayu.
Suraji pun menyusun rencana. Ia menempatkan pasukannya di sepanjang sungai, di tempat-tempat yang mungkin dilewati oleh kurir Ki Bayu. Ia juga mengirim mata-mata untuk mencari tahu keberadaan Samudra, berharap bisa menjebaknya di medan pertempuran terbuka, bukan di hutan lebat atau sungai yang mereka kuasai.
Di tempat persembunyiannya, Samudra semakin mengasah kemampuannya. Ia belajar lebih banyak tentang taktik perang, membaca peta-peta yang digambar oleh Bagus, dan mendengarkan laporan dari para pengintai. Ia tahu kemenangan di pertempuran sebelumnya tidak berarti apa-apa jika ia tidak bisa mengalahkan Tumenggung di Daha.
Suatu hari, seorang pengintai dari Bagus melaporkan bahwa mereka telah melihat pasukan Tumenggung bergerak ke arah mereka, tetapi kali ini mereka tampak lebih terorganisir dan bergerak perlahan, seolah-olah sedang menunggu sesuatu. Samudra merasa ada yang tidak beres. Ini bukan taktik biasa pasukan Tumenggung.
"Ini jebakan," kata Samudra. "Mereka ingin kita keluar dari hutan dan bertarung di medan terbuka, tempat mereka memiliki keuntungan."
"Bagaimana kita bisa tahu?" tanya Sangkuriang.
"Mereka tidak terburu-buru," jawab Samudra, matanya menyipit. "Mereka tahu kita akan tahu mereka di sana. Mereka ingin kita terpancing."
Pada saat yang sama, kurir dari Ki Bayu berhasil melewati penjagaan istana, namun saat tiba di pedalaman, ia melihat pasukan Suraji yang bersembunyi. Dengan panik, ia bersembunyi, berusaha mencari cara lain untuk menyampaikan pesan. Ia tahu, jika ia tertangkap, tidak hanya nyawanya yang melayang, tetapi juga nyawa Ki Bayu dan kesempatan Samudra untuk kembali.
Di tengah hutan, Samudra dan pasukannya mempersiapkan diri untuk serangan. Namun, bukan di tempat yang diinginkan Tumenggung. Samudra memutuskan untuk menggunakan taktik yang berbeda. Ia memerintahkan pasukannya untuk menyebar, bergerak secara tersembunyi, dan melakukan serangan kejutan di berbagai titik. Rencananya adalah untuk membingungkan musuh, membuat mereka menyebar, dan kemudian menghancurkan mereka satu per satu.
Bab ini berakhir dengan ketegangan yang memuncak. Di satu sisi, ada Tumenggung yang paranoid dan Suraji yang licik, berusaha menjebak Samudra. Di sisi lain, ada Samudra yang semakin matang sebagai pemimpin, berusaha menghindari jebakan dan mengandalkan kecerdikannya. Di tengah-tengah itu, ada kurir Ki Bayu yang mencoba mengirimkan informasi krusial, dan Ki Bayu sendiri yang mempertaruhkan segalanya dari dalam istana. Pertarungan kini tidak hanya di medan perang, tetapi juga di balik tirai kekuasaan.
