Sinopsis
Eva, seorang elf wanita terakhir yang hidup di dunia modern, telah menyaksikan ratusan musim berganti di tanah Alaska yang dingin. Hidup abadi memberinya keindahan tak lekang oleh waktu, tetapi juga beban perpisahan yang tak terelakkan. Dari era lampau hingga era media sosial, Eva harus beradaptasi sambil menyembunyikan identitas aslinya.
Judul Novel Eternal Snow, Passing Years
Bab 1: Musim Dingin yang Tak Berubah
Musim dingin selalu kembali. Di Alaska, itu adalah satu-satunya janji yang tidak pernah mengingkari. Salju turun, lembut dan tak terhindarkan, menutupi pegunungan Chugach seperti selimut putih yang tebal. Hembusan angin dingin menerpa jendela pondok kayu, di mana Eva duduk, secangkir teh panas mengepul di tangannya. Aroma Earl Grey bercampur dengan aroma pinus yang merambat dari tungku perapian. Kucing oranye gemuknya, Lief, meringkuk di pangkuannya, dengkurnya memecah keheningan. Ini adalah momen kedamaian yang sempurna, sebuah fragmen waktu yang membeku, sama seperti pemandangan di luar.
Namun bagi Eva, kebekuan itu lebih dari sekadar pemandangan. Itu adalah metafora untuk dirinya sendiri. Selama ratusan tahun, ia telah menyaksikan musim dingin datang dan pergi. Pemandangan di luar berubah, tetapi tidak baginya. Wajahnya tetap muda, matanya tetap jernih, dan tangannya, yang telah menyentuh begitu banyak hal, tidak menunjukkan kerutan. Ia adalah satu-satunya yang tetap, sebuah anomali di tengah aliran waktu yang tak kenal ampun.
Eva mengusap bulu Lief, matanya menatap bingkai foto di atas perapian. Di dalamnya, seorang wanita berambut abu-abu tertawa, lengannya merangkul bahu Eva. Wanita itu adalah Eleanor, sahabatnya selama 50 tahun terakhir. Di samping Eleanor, ada seorang pria yang lebih tua dengan senyum ramah. Itu adalah Harold, suami Eleanor, seorang nelayan yang tangguh dan bijaksana. Eva telah menemui keduanya di Anchorage, sebuah kota yang berkembang pesat seperti layaknya manusia yang ia kenal. Ia menyaksikan mereka jatuh cinta, membangun keluarga, dan menua. Kini, mereka hanya tinggal kenangan, tercetak di atas kertas foto yang rapuh.
Perpisahan terakhir mereka terjadi dua tahun lalu. Eleanor meninggal dalam tidurnya, dengan damai. Saat itu, Eva duduk di samping ranjangnya, menggenggam tangan Eleanor yang keriput. "Kau tahu, Eva," bisik Eleanor, "satu-satunya hal yang paling menyakitkan adalah aku tidak akan melihatmu lagi." Eva hanya bisa tersenyum sendu, air matanya menetes. "Kau akan selalu ada di hatiku," jawab Eva, sebuah kalimat klise yang terasa hampa di bibirnya. Ia telah mengucapkan kalimat itu terlalu sering.
Kehilangan adalah satu-satunya konstanta dalam hidup abadi. Ini adalah harga yang harus ia bayar untuk keajaiban yang ia miliki. Rasa sepi yang tak tertahankan itu seperti kabut dingin yang selalu menyelimutinya, tidak peduli seberapa hangat perapiannya. Setiap kali ia menjalin persahabatan, ia tahu, di lubuk hatinya, perpisahan itu akan datang. Sebuah siklus yang tak pernah putus.
Pagi ini, ia mencoba menghalau kesepian dengan rutinitas. Ia menyelesaikan secangkir tehnya, Lief melompat turun dengan anggun. Eva mengenakan sweater tebal, celana panjang yang nyaman, dan sepasang sepatu bot. Salju berkeretak di bawah sepatunya saat ia berjalan keluar, membuka toko barang antiknya di pusat kota Talkeetna, sebuah kota kecil yang mempesona di kaki Gunung Denali. Tokonya, "Memori Abadi", adalah gudang harta karun yang menyimpan serpihan sejarah yang hanya ia yang tahu makna sebenarnya. Di etalase, terpajang sebuah boneka porselen dari era Victoria, di samping sebuah kamera kuno dari tahun 1950-an.
Bel pintu berbunyi, dan seorang wanita paruh baya masuk, jaket tebalnya membawa masuk aroma dingin musim salju. Wanita itu, Carol, adalah seorang pelukis lanskap dan salah satu tetangga yang ramah. "Sedingin biasanya, Eva," sapa Carol, tangannya mengusap-usap hidungnya yang memerah. "Aku rasa aku butuh kopi hangat."
"Aku akan buatkan," jawab Eva, senyum kecil mengembang di bibirnya. Senyum ini, yang begitu mudah ia tunjukkan, adalah topeng yang sempurna. Senyum yang membuat orang-orang tidak mempertanyakan matanya yang terlalu tua untuk wajahnya. Eva menuangkan kopi untuk Carol dan mereka mulai bercakap-cakap tentang hal-hal biasa cuaca, gosip kota, dan harga bahan bakar. Percakapan ini, meskipun sepele, adalah jangkar yang menahannya pada kenyataan.
Saat Carol pergi, Eva kembali sendirian, melihat ke luar jendela. Ia melihat sekelompok anak-anak bermain salju, tawa mereka terdengar riang. Wajah-wajah baru, kehidupan baru. Ia tahu, di antara mereka, beberapa akan tumbuh dewasa, jatuh cinta, punya anak, dan menua. Dan beberapa di antaranya mungkin akan ia kenal. Beberapa mungkin akan menjadi teman baik. Dan suatu hari, ia akan melihat mereka pergi.
Di sebuah rak, sebuah kotak musik kuno menarik perhatiannya. Ia memutarnya, dan melodi yang lembut, yang pernah ia dengar di Wina ratusan tahun yang lalu, memenuhi ruangan. Air matanya menetes, bukan karena kesedihan yang mendalam, melainkan karena nostalgia yang pahit. Melodi itu mengingatkannya pada malam musim gugur yang indah, pada tarian yang lincah, dan pada wajah-wajah yang kini hanya tinggal bayangan.
Eva memejamkan mata. Ia adalah kolektor kenangan, seorang penjaga waktu yang terjebak dalam tubuh yang tidak pernah menua. Setiap hari adalah pertarungan untuk menemukan makna baru, untuk tidak tenggelam dalam lautan kesedihan yang tak berujung. Pertanyaannya bukanlah apakah ia akan jatuh cinta lagi atau berteman lagi. Pertanyaannya adalah, apakah ia siap untuk berpisah lagi?
Sore itu, saat salju berhenti, seorang pemuda dengan jaket usang dan topi rajut masuk ke dalam toko. Ia membawa sebuah kanvas besar di tangannya, matanya cerah dan penuh semangat. "Maaf, aku tidak tahu apakah ini mengganggu," katanya, suaranya dipenuhi dengan antusiasme yang jujur. "Aku hanya ingin bertanya, apakah Anda butuh pajangan untuk etalase? Aku seorang seniman dan aku baru pindah ke kota ini."
Eva memandangnya. Wajah yang cerah, penuh harapan. Wajah yang akan menua dan layu. Namun, di matanya, Eva melihat kilatan yang familier, kilatan kehidupan yang mengundang. Itu adalah undangan untuk sekali lagi membuka hatinya. Eva tersenyum. "Kau tidak mengganggu," jawab Eva. "Aku rasa aku butuh satu. Namaku Eva."
"Alex," jawab pemuda itu, mengulurkan tangannya. "Alex Carter."
Dan dengan itu, siklus baru dimulai. Eva merasakan sedikit kekhawatiran, sebuah benih kesedihan yang baru. Namun, untuk sesaat, ia membiarkan dirinya merasakan sebuah perasaan yang sudah lama ia lupakan: harapan. Ia membiarkan dirinya percaya bahwa, mungkin, kali ini akan berbeda. Ia mengabaikan peringatan samar yang berbisik dari dasar hatinya, bahwa sejarah akan selalu berulang.
