Malam tiba, dan gua yang disamarkan oleh Lyra menjadi tempat peristirahatan mereka. Di luar, suara-suara malam hutan terdengar samar, namun di dalam, hanya ada ketenangan dan cahaya lembut dari kristal-kristal magis. Setelah makan beberapa buah beri lagi, Kael duduk di dekat pintu masuk gua, menatap keheningan. Pertarungan melawan Mortii di padang rumput tadi masih terbayang jelas. Ia berhasil menggunakan gema kartunya dengan cara yang belum pernah ia bayangkan, tetapi kekuatannya terasa mentah dan tak terarah.
Lyra duduk di seberangnya, menyandarkan busurnya ke dinding. Ia menatap Kael dengan pandangan yang dalam, seolah mencoba membaca pikirannya. Akhirnya, keheningan itu dipecah oleh suaranya.
"Dulu... sebelum perang ini terjadi, hutan kami lebih damai," Lyra memulai, suaranya pelan dan penuh kenangan. Kael menoleh, mendengarkan. Ini adalah pertama kalinya Lyra membicarakan masa lalunya.
"Human tidak pernah diizinkan masuk jauh ke dalam hutan. Mortii dan Neander pun jarang terlihat. Kami hidup dalam harmoni dengan alam. Ayahku adalah seorang tetua, dan ibuku adalah seorang penyembuh. Mereka mengajarkanku untuk mencintai dan menghormati setiap makhluk hidup di hutan ini."
Lyra mengambil sebuah kristal kecil dari tanah dan memutarnya di antara jari-jarinya. "Semuanya berubah ketika para Human mulai membangun pemukiman di perbatasan hutan. Mereka menebang pohon, mencemari sungai, dan memburu binatang suci kami. Kami mencoba berbicara dengan mereka, tapi mereka tidak mau mendengarkan."
"Itu... bukan semua Human," Kael mencoba membela, meskipun ia tahu beberapa dari mereka memang seperti itu.
Aku tahu," jawab Lyra, nadanya tanpa amarah, hanya kesedihan. "Tapi saat itu, kami tidak bisa membedakan. Bagi kami, semua Human terlihat sama. Lalu, Mortii datang. Mereka tidak menyerang secara langsung, tetapi mereka menyebarkan sihir kegelapan, meracuni pohon-pohon dan hewan-hewan."
Suara Lyra bergetar. "Ayahku mencoba melawan. Dia menggunakan sihirnya untuk melindungi hutan, tapi kekuatan Mortii terlalu besar. Ia terluka parah. Ibuku berusaha menyembuhkannya, tapi racun Mortii tidak bisa dihilangkan. Ayahku... dia mati di pelukanku."
Kael mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia bisa merasakan kesedihan Lyra melalui gema kartunya. Itu adalah jenis kesedihan yang sama dengan yang ia rasakan ketika melihat desanya hancur. Kael mengerti bahwa dendam Lyra tidaklah tanpa alasan.
"Setelah ayah meninggal, perang pecah," lanjut Lyra. "Setiap fraksi menyalahkan fraksi lain. Kami menyalahkan Human karena mereka memprovokasi, dan kami menyalahkan Mortii karena serangan mereka. Kami mulai membenci. Aku mulai membenci. Kebencianku membuatku kuat, tapi juga mengosongkan hatiku."
Lyra menatap Kael. "Tapi kau berbeda. Aku bisa merasakan gema kartumu, Kael. Gema yang dipenuhi dengan cinta, bukan kebencian. Kau tidak datang untuk membalas dendam demi fraksimu, tetapi demi keluargamu. Itulah yang membuatmu berbeda."
Kael merasa terharu. Ia tidak menyangka bahwa Lyra, seorang pahlawan Fae yang ia anggap angkuh, memiliki kisah yang begitu tragis. Ia menyadari bahwa di balik kebencian yang mendalam, ada kesedihan yang mendalam pula.
Aku tidak bisa menjanjikanmu bahwa perang akan berakhir," kata Kael. "Tapi aku bisa menjanjikanmu bahwa aku akan menemukan Elara dan menghentikan mereka yang merusak Terravia, termasuk hutanmu."
Lyra tersenyum kecil. Senyum itu tidak ceria, tetapi penuh harapan. "Aku akan membantumu, Kael. Tapi, kita harus bergegas. Aku bisa merasakan bahwa energi sihir kegelapan semakin kuat. Mortii mungkin sedang menuju ke suatu tempat."
"Ke mana?" tanya Kael.
Lyra menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Tapi aku punya ide. Peta kuno. Mungkin petunjuk ke lokasi Heart of the Sanctuary tersimpan di wilayah Neander."
Kael mengangguk. Ia tahu perjalanan mereka belum selesai. Mereka harus melintasi wilayah Neander, wilayah yang penuh dengan kekerasan dan permusuhan. Namun, dengan Lyra di sisinya, ia merasa lebih yakin. Dua pahlawan dari fraksi yang berbeda, dengan tujuan yang sama, siap menghadapi tantangan yang lebih besar.
"Ayo kita bergerak," kata Kael, bangkit berdiri. "Kita tidak punya waktu untuk disia-siakan."
Lyra mengangguk. "Ya. Mari kita hadapi takdir yang menunggu kita."
Dengan hati yang kini dipenuhi dengan harapan dan tekad, mereka meninggalkan gua, bersiap menghadapi babak selanjutnya dari petualangan mereka. Persekutuan antara Human dan Fae telah terbentuk, dan mereka siap menghadapi Neander dan Mortii, apa pun rintangannya.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
