Pagi hari di Palangka Raya membawa suasana yang berbeda dengan Banjarmasin. Udara terasa lebih segar dan sunyi, jauh dari keramaian sungai. Lev dan Faruq memulai hari dengan shalat subuh di mushala dekat penginapan. Setelah itu, mereka keluar untuk mencari sarapan.
"Faruq, aku mau mencoba makanan khas di sini. Tapi yang benar-benar halal, ya," kata Lev, dengan nada penuh harap.
Faruq tersenyum. "Tenang saja, Lev. Aku sudah punya daftarnya. Kita akan cari yang paling otentik."
Mereka berjalan santai menyusuri jalanan kota. Di sana-sini terlihat warung-warung makan yang mulai buka. Aroma masakan yang menguar membuat perut Lev berbunyi.
"Duh, Faruq. Aku sudah tidak sabar," kata Lev, sambil mengusap perutnya.
Faruq hanya tertawa. "Sabar, Lev. Kita harus menemukan yang paling pas."
Mereka akhirnya menemukan sebuah warung kecil yang sederhana, tapi terlihat ramai. Spanduk di depannya bertuliskan, "Warung Makan Bunda Siti."
"Nah, ini dia. Warung langganan teman-teman kerjaku," kata Faruq.
Mereka masuk ke dalam, dan langsung disambut oleh Bunda Siti, pemilik warung yang ramah.
"Selamat datang, nak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bunda Siti.
"Bunda, kami mau pesan nasi campur Palangka Raya. Seperti biasa," kata Faruq.
"Wah, Faruq! Sudah lama tidak ke sini," kata Bunda Siti. "Siap, nak. Tunggu sebentar ya."
Sambil menunggu, Lev melihat sekeliling warung. Di dindingnya, terpampang banyak foto, mulai dari foto keluarga Bunda Siti, sampai foto-foto para pelanggan yang pernah datang. Lev mengambil kameranya, memotret beberapa foto.
"Bunda ini sepertinya suka berfoto, ya?" tanya Lev, kepada Faruq.
"Iya, Lev. Bunda Siti ini memang suka sekali berfoto. Dia bilang, foto itu kenangan," jawab Faruq.
Lev merasa kagum. Ia menyukai cara Bunda Siti berpikir. Foto bukan hanya tentang mengabadikan momen, tapi juga tentang mengabadikan kenangan.
Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Nasi campur Palangka Raya yang terlihat begitu menggiurkan. Ada ikan patin bakar, sayur umbut kelapa, dan sambal terasi yang terlihat begitu pedas.
"Wah, ini sepertinya enak sekali," kata Lev.
"Tentu saja, Lev. Ini salah satu makanan terbaik di sini," jawab Faruq.
Lev langsung menyendok nasi, sayur, dan ikan patin. Ia mencoba makan tanpa sambal, karena ia memang tidak terlalu suka pedas. Namun, saat ia melihat sambal terasi yang terlihat begitu lezat, ia tergoda.
"Faruq, sambalnya sepertinya enak, ya?" kata Lev.
Faruq menatap Lev. "Lev, jangan coba-coba. Itu pedas sekali. Bahkan aku saja tidak berani makan terlalu banyak."
Lev tidak mendengarkan. Ia menyendok sedikit sambal terasi, lalu mencampurnya dengan nasi. Ia memasukkan nasi itu ke dalam mulutnya, dan...
HAH!
Wajah Lev langsung memerah, matanya berair, dan ia terbatuk-batuk.
"Aduh, Faruq! Pedas sekali!"
Faruq tertawa terbahak-bahak. "Sudah kubilang, Lev. Jangan coba-coba."
Lev segera meminum air putih yang ada di depannya. Tapi rasa pedas itu tidak hilang. Ia merasa lidahnya terbakar.
Bunda Siti yang melihat kejadian itu, langsung datang menghampiri mereka. "Nak Lev, kenapa? Pedas, ya?"
"Iya, bu. Pedas sekali," jawab Lev, sambil terengah-engah.
"Ya sudah, ini saya buatkan teh manis hangat. Biar pedasnya hilang," kata Bunda Siti, sambil menyodorkan segelas teh.
Lev meminum teh itu dengan cepat. Perlahan, rasa pedasnya mulai berkurang.
"Terima kasih, Bunda," kata Lev.
Bunda Siti tersenyum. "Sama-sama, nak. Makanya, jangan sok jagoan, ya. Sambal terasi Palangka Raya itu memang terkenal mematikan."
Faruq kembali tertawa. "Nah, dengarkan itu, Lev. Lain kali, kalau mau coba sesuatu, tanya dulu."
Lev mengangguk, merasa malu. Ia menatap sisa nasi campurnya, lalu mengambil ikan patin yang sudah dibakar. Ia mencoba makan lagi, tapi kali ini tanpa sambal.
Setelah selesai makan, Lev dan Faruq berpamitan dengan Bunda Siti. Lev berjanji akan kembali lagi, tapi kali ini ia akan meminta nasi campur yang tanpa sambal terasi.
Di perjalanan pulang ke penginapan, Lev dan Faruq berjalan sambil berbincang.
"Lev, kamu tahu? Ada pelajaran berharga dari kejadian tadi," kata Faruq.
"Apa, Faruq?" tanya Lev.
"Terkadang, kita harus tahu batasan kita. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang tidak kita kuasai. Sama seperti kamu yang tidak bisa menahan pedasnya sambal terasi," jelas Faruq.
Lev mengangguk. "Aku mengerti, Faruq. Aku akan belajar dari kesalahan ini."
Mereka kembali ke penginapan, Lev langsung membongkar kopernya. Ia mengeluarkan bukunya, kameranya, dan berbagai peralatannya. Faruq melihatnya sambil tersenyum.
"Jangan lupa, sore nanti kita ke Dermaga Kumai. Kita akan naik perahu untuk menuju ke Taman Nasional Tanjung Puting," kata Faruq.
Lev berbinar. "Wah, seru sekali! Aku tidak sabar!"
Malam itu, Lev tidur dengan nyenyak. Ia bermimpi tentang petualangan yang akan datang. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
