"Ya, bawang merah. Dalam bahasa Rusia apa?" tanya Lev.
Sofia berpikir sejenak. "Luk. Tapi ini bawang bombay," jawabnya sambil menunjuk bawang yang lebih besar.
Lev mengangguk-angguk. "Kalau di sini, saya pakai bawang bombay saja. Sulit cari bawang merah di sini. Rasanya mungkin agak berbeda, tapi pasti enak."
Malam itu, Lev menepati janjinya. Ia mengundang Sofia ke apartemen studionya yang sederhana untuk makan malam. Ia ingin memperkenalkan Sofia pada salah satu masakan paling ikonik dari tanah airnya: nasi goreng. Bahan-bahannya cukup mudah dicari di supermarket Perm, kecuali bawang merah. Sebagai gantinya, ia menggunakan bawang bombay dan beberapa sosis halal yang ia temukan di toko halal dekat masjid.
Dapur Lev yang kecil dipenuhi aroma bumbu-bumbu yang asing bagi Sofia. Bawang, bawang putih, dan sedikit cabai yang ia bawa dari Indonesia ditumis dengan minyak. Sofia mengamati setiap gerakan Lev dengan mata berbinar, seperti sedang menyaksikan pertunjukan memasak.
"Kenapa namanya nasi goreng?" tanya Sofia.
"Karena nasi ini digoreng," jawab Lev sambil tertawa.
"Oh," Sofia ikut tertawa. "Sangat logis."
Lev memasak dengan cekatan. Nasi sisa semalam yang sudah didinginkan dimasukkan ke wajan. Ia menambahkan sedikit kecap manis buatan sendiri dari campuran kecap asin dan gula, yang ia buat karena sulit menemukan kecap manis asli Indonesia. Bau harum langsung menyeruak, membuat perut Sofia berbunyi.
"Hmm... baunya enak sekali," puji Sofia.
Lev tersenyum puas. "Ini bumbu andalan."
Setelah nasi goreng matang, Lev menyajikannya di atas piring, lengkap dengan irisan timun dan tomat, persis seperti di Indonesia. Sebagai pelengkap, ia menggoreng telur mata sapi setengah matang, dan meletakkannya di atas nasi.
"Nah, ini dia. Nasi goreng spesial ala Banjarmasin," kata Lev, menyerahkan piring kepada Sofia.
Sofia mengambil sendok dan mencicipinya. Mata Sofia langsung membulat. "Ini... enak sekali, Lev! Rasanya sangat kaya. Ada pedas, ada manis, gurih... wow."
Lev merasa bangga. "Alhamdulillah."
Saat mereka menikmati nasi goreng, Sofia menawarkan diri untuk membuatkan hidangan khas Rusia untuk Lev, sebagai balasannya. "Besok, saya akan masakkan borscht untukmu. Tapi... yang versi halal, tentu saja," janji Sofia.
Keesokan harinya, giliran Lev yang mengunjungi apartemen Sofia yang lebih besar. Dapur Sofia didominasi oleh warna-warna cerah dan peralatan memasak modern. Sofia mengeluarkan bahan-bahan yang tidak asing bagi Lev: kubis, kentang, wortel, bawang, dan bit merah yang akan menjadi warna khas borscht.
"Bit merah ini yang membuat borscht warnanya jadi merah cantik," jelas Sofia, sambil mengupas bit.
Lev mengangguk-angguk. "Di Indonesia, kita juga punya makanan yang warnanya merah dari buah-buahan atau sayuran. Tapi rasanya manis, bukan sup."
Sofia mulai memasak. Ia merebus semua bahan-bahan sayuran. Sofia sengaja membuat borscht tanpa daging dan tanpa krim asam, agar Lev bisa makan dengan nyaman. Sebagai penggantinya, ia menggunakan minyak zaitun untuk menumis.
"Kenapa kamu bisa tahu cara membuat yang halal?" tanya Lev.
"Tentu saja. Kamu kan sahabatku. Masa' aku tidak mau belajar sedikit tentang apa yang bisa kamu makan dan tidak? Aku sudah mencari tahu di internet," jawab Sofia, tulus. "Lagipula, ada juga versi borscht vegetarian yang biasa dimakan saat puasa Paskah. Jadi tidak sulit."
Lev merasa terharu. Tindakan kecil Sofia ini terasa begitu besar. Ini menunjukkan kepedulian yang mendalam, melebihi sekadar basa-basi.
Setelah borscht matang, Sofia menyajikannya dalam mangkuk. Warnanya merah keunguan yang cantik. Lev mencicipinya. Rasanya asam segar dan gurih.
"Enak sekali, Sofia! Terima kasih," puji Lev.
"Sama-sama. Sekarang, kita impas," jawab Sofia.
Mereka berdua menghabiskan malam itu dengan bercerita di dapur Sofia. Mereka berbicara tentang perbedaan budaya, tentang mimpi-mimpi mereka, tentang keluarga, dan tentang hal-hal lucu yang pernah mereka alami.
"Kamu tahu, Lev," kata Sofia, "sebelum bertemu kamu, saya pikir perbedaan itu adalah hal yang memisahkan. Tapi sekarang, saya pikir perbedaan itu adalah hal yang menyatukan. Seperti kita. Kamu dari Indonesia, saya dari Rusia. Tapi kita bisa masak bersama, makan bersama, dan tertawa bersama. Itu karena kita menghargai perbedaan itu."
Lev tersenyum. "Benar. Tapi... nasi goreng saya lebih enak, kan?" godanya.
Sofia meninju pelan lengan Lev. "Ya, ya, nasi gorengmu sangat enak. Tapi borscht saya juga tidak kalah. Apalagi dimakan saat musim dingin seperti ini."
Malam itu, mereka berdua tidak hanya bertukar resep masakan. Mereka bertukar cerita, tawa, dan pemahaman. Mereka menyadari bahwa di balik setiap hidangan, ada cerita, ada budaya, dan yang terpenting, ada hati yang tulus. Dan itu adalah resep persahabatan yang paling lezat.
