Pagi di Kandangan adalah pagi yang damai. Setelah menikmati sarapan ringan berupa kue-kue tradisional yang dijajakan di pinggir jalan, Lev dan Rauf melanjutkan misi mereka. Tujuan mereka hari ini adalah menjelajahi arsitektur dan sejarah Masjid At-Taqwa Kandangan.
"Rauf, ini nih. Momen historis! Masjid tua yang penuh cerita," ucap Lev, bersemangat.
Masjid At-Taqwa, sebuah masjid tua yang megah, berdiri kokoh di tengah kota. Kubahnya yang berwarna hijau, arsitektur yang unik, dan halamannya yang luas membuat masjid ini tampak sakral. Lev langsung mengeluarkan kameranya, mulai membidik dari berbagai sudut.
"Rauf, aku mau ambil foto dari atas. Keren kayaknya," Lev berkata, sambil mencari tangga.
Rauf, yang sudah hafal tingkah Lev, langsung mencegahnya. "Lev, jangan! Nanti kamu jatuh. Mending kita masuk, salat sunah, baru kita wawancara marbotnya."
Lev mengangguk pasrah. Mereka berwudu, lalu masuk ke dalam masjid. Di dalam, suasana tenang dan adem. Beberapa orang sedang membaca Alquran. Lev dan Rauf melaksanakan salat sunah tahiyatul masjid.
Setelah salat, mereka menghampiri seorang bapak tua yang sedang membersihkan karpet. Bapak itu, dengan peci putih dan jenggot yang rapi, tersenyum ramah.
"Assalamualaikum, Nak. Ada yang bisa bapak bantu?" sapanya.
"Waalaikumsalam, Pak. Kami dari Banjarmasin. Mau wawancara tentang sejarah masjid ini," jawab Rauf.
"Oalah. Boleh, boleh. Sini, duduk sini," bapak itu menunjuk ke sebuah kursi di sudut masjid.
Bapak itu memperkenalkan diri sebagai Pak Karim, marbot Masjid At-Taqwa. Ia bercerita dengan semangat tentang sejarah masjid, yang didirikan pada tahun 1938 dan sudah berkali-kali direnovasi.
"Masjid ini saksi bisu sejarah Kandangan, Nak. Di sini, orang-orang berkumpul, bukan cuma salat. Tapi juga musyawarah, belajar agama, sampai cari jodoh," kata Pak Karim, terkekeh.
Lev langsung tertarik dengan cerita Pak Karim. "Cari jodoh, Pak? Kok bisa?"
"Iya, Nak. Dulu, kalau ada pemuda yang mau cari jodoh, datang ke sini. Nanti bapak-bapak di sini bantu carikan. Kan di sini banyak yang kenal," jawab Pak Karim.
Rauf tersenyum geli. "Wah, Lev, siapa tahu nanti pulang dari sini, kamu sudah bawa calon istri."
Lev hanya nyengir malu.
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara anak-anak yang gaduh dari halaman masjid. Mereka sedang bermain bola. Salah satu anak, yang terlalu bersemangat, menendang bola hingga mengenai pot bunga di dekat mereka.
Prak!
Pot bunga itu pecah, membuat suasana hening sejenak. Anak-anak itu langsung kabur, meninggalkan bola mereka. Pak Karim hanya tersenyum melihat kejadian itu.
"Anak-anak memang begitu, Nak. Ada saja tingkahnya. Namanya juga masih anak-anak," katanya, sambil mengambil pecahan pot bunga.
Lev merasa iba. Ia mengambil sapu lidi yang ada di dekat situ, dan membantu Pak Karim membersihkan pecahan pot bunga. Rauf ikut membantu.
"Makasih, Nak. Kalian baik sekali," ucap Pak Karim, tersenyum.
"Sama-sama, Pak. Kan kita juga ikut menikmati halaman masjid ini," jawab Lev.
Setelah bersih-bersih, Pak Karim kembali bercerita. Kali ini tentang kegiatan-kegiatan di masjid. Ada pengajian rutin setiap malam Jumat, ada majelis taklim, dan ada juga kegiatan sosial seperti menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
"Di sini, Nak. Kita semua keluarga. Enggak ada perbedaan. Semua sama di mata Allah," kata Pak Karim, bijak.
Malam itu, setelah salat Isya, Lev dan Rauf memutuskan untuk kembali ke penginapan. Namun, saat berjalan keluar dari masjid, mereka melihat Pak Karim sedang duduk di teras, sendirian.
"Pak, belum pulang?" tanya Rauf.
"Ini lagi nunggu jamaah terakhir pulang, Nak. Biasanya ada beberapa yang masih di dalam. Bapak tungguin sampai sepi," jawab Pak Karim.
Lev merasa tersentuh. Ia melihat Pak Karim, sosok yang sederhana, tapi penuh dedikasi. Ia mengambil kamera, dan mengabadikan momen itu. Foto Pak Karim yang duduk sendirian di teras masjid, dengan lampu-lampu yang menyinari, tampak sangat damai.
Di dalam hati, Lev berterima kasih kepada Kakeknya. Karena berkat tugas absurd ini, ia bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Pak Karim, dan belajar banyak hal. Petualangan mereka di Kandangan masih panjang. Dan Lev, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan kejutan-kejutan lainnya.
