Pusat Kesultanan Demak adalah sebuah kota pelabuhan yang ramai, penuh dengan hiruk pikuk aktivitas perdagangan. Berbeda dengan kesunyian pedalaman Banjar, kota ini ramai dengan suara saudagar yang menawarkan dagangan, gemerincing senjata prajurit yang berjaga, dan lantunan doa yang terdengar dari masjid-masjid besar. Arsitektur bangunannya adalah perpaduan antara corak Jawa dan sentuhan Islam yang khas, sebuah bukti perpaduan budaya yang kuat.
Samudra, Gendut, dan rombongannya berjalan menyusuri jalanan kota, merasakan aura yang berbeda. Di sini, kekuasaan dan agama berjalan beriringan. Masjid Agung Demak, dengan arsitektur megah dan ukiran rumitnya, menjulang tinggi, menjadi simbol kekuatan spiritual yang menaungi seluruh kerajaan. Kehidupan di sini terasa lebih teratur dan damai, jauh dari konflik dan intrik yang melanda Daha.
Mereka akhirnya tiba di gerbang istana, sebuah kompleks yang lebih besar dari istana Daha. Para prajurit berjaga dengan seragam lengkap dan senjata yang terawat, menunjukkan kedisiplinan yang tinggi. Setelah menunggu beberapa lama, mereka akhirnya dipersilakan masuk dan dibawa ke sebuah ruang pertemuan yang megah, di mana Sultan Trenggono, penguasa Demak yang bijaksana, sudah menunggu.
Sultan Trenggono adalah sosok yang berwibawa, dengan jenggot lebat yang memutih dan mata yang tajam. Ia mengenakan pakaian kebesaran, tetapi ekspresinya menunjukkan keramahan. "Jadi, kau adalah Pangeran Samudra," katanya, suaranya tenang namun kuat. "Putra Raja Sukarama yang malang."
"Hamba adalah Samudra, Paduka," jawab Samudra, membungkuk hormat. "Hamba datang untuk meminta bantuan."
Sultan Trenggono menyuruhnya duduk. Samudra kemudian menceritakan kembali kisah tragis perebutan takhta di Banjar, perjuangannya di pedalaman, dan kemenangan mereka atas pasukan Tumenggung. Ia juga menjelaskan mengapa ia membutuhkan bantuan dari Demak. "Kami membutuhkan pasukan yang terlatih, senjata yang lebih baik, dan strategi yang lebih matang," kata Samudra. "Tumenggung adalah musuh yang tangguh, dan ia tidak akan menyerah begitu saja."
Sultan Trenggono mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk atau menanyakan detail tertentu. Ketika Samudra selesai, ia terdiam sejenak, memikirkan permintaan itu.
"Permintaanmu tidaklah kecil, Pangeran," kata Sultan Trenggono akhirnya. "Mengirim pasukan ke Banjar membutuhkan banyak sumber daya. Tapi kami memiliki alasan untuk membantumu." Ia menjelaskan bahwa Demak memiliki ambisi untuk menyebarkan Islam dan memperluas pengaruhnya di Nusantara. Tumenggung yang Hindu adalah penghalang bagi ambisi ini. Dengan membantu Samudra, Demak akan mendapatkan sekutu baru yang setia di Kalimantan.
"Namun, seperti yang kau tahu, bantuan ini datang dengan syarat," kata Sultan Trenggono. "Kami akan mengirimkan seribu prajurit terbaik kami, termasuk seorang ulama terkemuka, Khatib Dayyan, untuk mengislamkan Banjar. Jika kau menang, kau harus memenuhi janjimu untuk memeluk Islam dan menjadikan Islam sebagai agama resmi di Kesultanan Banjar yang baru."
Syarat itu tidak mengejutkan Samudra. Ia sudah mempersiapkan diri untuk ini. Ia memandang Sultan Trenggono, matanya menunjukkan tekad yang kuat. "Hamba akan memenuhi janji ini, Paduka," katanya. "Hamba akan memeluk Islam, dan hamba akan memastikan Banjar menjadi Kesultanan Islam yang makmur."
Sultan Trenggono tersenyum puas. "Bagus, Pangeran. Keputusanmu bijaksana. Kau tidak hanya akan mendapatkan kembali takhtamu, tetapi juga membawa cahaya baru bagi rakyatmu. Kami akan mengirimkan pasukan kami segera. Pulanglah, persiapkan pasukanmu, dan tunggu kedatangan kami."
Samudra dan rombongannya meninggalkan istana Demak dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega karena mendapatkan bantuan yang sangat dibutuhkan. Di sisi lain, ia menyadari beban janji yang ia pikul. Memeluk Islam berarti mengubah seluruh tradisi dan keyakinan leluhurnya. Ini adalah perubahan besar, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh rakyat Banjar.
Dalam perjalanan kembali ke Banjar, Samudra menghabiskan waktunya untuk mempelajari ajaran Islam dari para ulama yang menemaninya. Ia belajar tentang konsep-konsep baru, nilai-nilai yang berbeda dari ajaran Hindu yang ia kenal. Proses ini tidak mudah, tetapi ia melakukannya dengan hati terbuka, mencoba memahami esensi dari ajaran tersebut.
Saat tiba kembali di pedalaman Banjar, ia disambut dengan sorak sorai. Bagus dan Sangkuriang terkejut melihat pasukan Demak yang besar, lengkap dengan Khatib Dayyan. Mereka segera mengumpulkan semua prajurit dan para pemimpin suku untuk mendengarkan kabar dari Samudra.
Samudra berdiri di depan mereka, menceritakan perjalanannya ke Demak dan kesepakatan yang telah ia buat. Awalnya, ada beberapa prajurit dan pemimpin suku yang ragu. Mereka khawatir dengan perubahan yang akan terjadi. Namun, Samudra meyakinkan mereka, "Perubahan ini adalah jalan menuju kemenangan. Ini adalah jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi kita semua. Kekuasaan Tumenggung akan berakhir, dan kita akan membangun Banjar yang baru, yang makmur dan adil."
Kata-kata Samudra menenangkan mereka. Mereka melihat tekad di matanya, dan mereka percaya padanya. Janji suci itu kini menjadi janji bersama, sebuah ikrar untuk berjuang bukan hanya untuk takhta, tetapi juga untuk keyakinan yang baru. Bab ini berakhir dengan persatuan yang menguat, sebuah persekutuan yang akan mengubah takdir Banjar untuk selamanya.
