Perjalanan Kael dan Lyra berlanjut. Mereka meninggalkan hutan purba Fae, meninggalkan hamparan pohon magis dan keheningan misterius di belakang mereka. Kael, dengan bimbingan Lyra, semakin menguasai cara mendengarkan gema dari kartu-kartunya. Ia tidak lagi hanya merasakan emosi, tetapi juga arah, bahkan bisikan samar tentang keberadaan sesuatu. Gema dari kartu Elara kini terasa lebih jelas, menariknya ke arah pegunungan yang menjulang di kejauhan.
Wilayah Neander sangat berbeda dengan hutan Fae. Pepohonan yang tinggi dan ramping digantikan oleh tebing-tebing curam dan batu-batu besar yang menjulang, membentuk benteng alami yang memisahkan mereka dari sisa dunia. Udara menjadi lebih kering dan dingin, dan angin berembus kencang, membawa serta aroma debu dan batu.
"Wilayah Neander," kata Lyra, suaranya terdengar lebih hati-hati. "Mereka adalah prajurit. Brutal, primitif, tapi kuat. Mereka tidak memercayai siapa pun di luar fraksi mereka sendiri. Bahkan kita, Fae, hampir tidak pernah berani memasuki wilayah mereka."
Kael melihat ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana, kecuali beberapa burung gagak yang berputar-putar di langit. Ia merasakan gema yang berbeda dari kartu-kartunya. Tidak seperti gema sihir Fae yang tenang dan teratur, gema Neander terasa seperti pukulan palu—kuat, berani, dan penuh dengan kekuatan fisik.
"Kenapa mereka hidup di tempat seperti ini?" tanya Kael.
"Ini adalah benteng alami mereka," jawab Lyra. "Dikelilingi oleh tebing, sulit bagi musuh untuk menyerang. Mereka adalah pemburu dan petarung, dan mereka menghargai kekuatan lebih dari segalanya."
Saat mereka memasuki celah sempit di antara tebing, Kael dan Lyra merasakan kehadiran yang kuat. Itu bukan sihir, melainkan kehadiran fisik yang luar biasa. Gema yang Kael rasakan menjadi sangat kuat, dan ia tahu mereka sudah dekat. Tiba-tiba, sebuah batu besar jatuh dari atas, hampir mengenai kepala Kael.
"Jebakan!" teriak Lyra. Ia menarik Kael ke samping, menghindar dari batu yang jatuh.
Kael melihat ke atas dan melihat sesosok figur besar dan kekar berdiri di tepi tebing, memegang batu lain di tangannya. Sosok itu adalah Neander, dengan kulit yang kasar seperti batu, otot yang menonjol, dan alis yang tebal. Matanya menatap mereka dengan tatapan waspada dan curiga.
"Penyusup!" teriak Neander itu, suaranya menggema di antara tebing. "Pergi! Ini wilayah kami!"
"Kami tidak datang untuk berperang!" teriak Kael kembali. "Kami mencari Mortii!"
Neander itu tertawa, suara tawanya terdengar seperti gemuruh. "Mortii? Kalian pikir kami bodoh? Semua fraksi sama. Kalian datang untuk mencuri sumber daya kami."
Lyra maju ke depan, memegang busurnya dengan hati-hati. "Kami tidak berniat buruk. Ada kejahatan yang lebih besar di luar sana. Mortii menculik adik Kael, dan kami mencari petunjuk menuju Heart of the Sanctuary."
Neander itu melompat turun dari tebing, mendarat dengan suara gedebuk yang keras. Ia adalah Brokk, pahlawan Neander yang paling kuat. "Heart of the Sanctuary adalah mitos. Jika kalian mencari petunjuk, carilah di tempat lain. Sekarang pergilah, atau aku akan menghancurkan kalian berdua."
Kael mengeluarkan kartu penjaga Human-nya, bersiap untuk bertarung. Ia tahu bahwa mereka tidak bisa mengalahkan Brokk. Kekuatan fisiknya terlalu besar. Tapi ia tidak bisa menyerah. Ia harus terus maju.
Lyra, yang melihat tekad di mata Kael, mengambil langkah mundur, membiarkan Kael berhadapan dengan Brokk. Ia tahu bahwa ini adalah ujian bagi Kael. Bukan ujian kekuatan fisik, tetapi ujian keberanian. Kael, pembuat kartu yang tidak pernah bertarung, kini berhadapan dengan pahlawan Neander yang paling kuat.
"Aku tidak akan pergi," kata Kael, suaranya penuh tekad. "Aku tidak peduli dengan perang fraksi. Aku hanya peduli dengan adikku."
Brokk menatap Kael dengan mata menyipit. Ia melihat sesuatu yang berbeda dalam diri pemuda Human ini. Bukan ketakutan, bukan kebencian, tetapi tekad yang tulus. "Kau berani," kata Brokk. "Tapi keberanian tidak akan menyelamatkanmu di sini."
Dengan teriakan, Brokk menyerang. Dan pertarungan pertama antara Kael dan Brokk, perwakilan dua fraksi yang paling berbeda, pun dimulai. Pertarungan itu akan menjadi ujian terbesar bagi Kael, dan akan membentuk persekutuan yang tak terduga, atau menghancurkan harapan mereka selamanya.
Dapatkan novel fantasi Deck Heroes Legacy dan ikuti petualangan epik Kael dan kawan-kawan setiap minggunya! Jangan lewatkan kisah seru, konflik mendalam, dan intrik antar fraksi yang akan membawa Anda ke dunia yang penuh sihir dan bahaya. [Link Pre-Order / Baca Sekarang].
