Sore itu, setelah beristirahat sejenak di Palangka Raya, Lev dan Faruq melanjutkan perjalanan menuju Dermaga Kumai, gerbang menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Perjalanan kali ini menggunakan mobil travel. Lev duduk di dekat jendela, membiarkan matanya menikmati pemandangan yang lewat. Hamparan pohon sawit dan hutan-hutan tropis yang lebat menjadi pemandangan utama di sepanjang jalan.
"Lev, kamu tahu? Perjalanan ke Kumai ini akan memakan waktu sekitar enam jam. Jadi, jangan bikin ulah, ya," kata Faruq, yang duduk di sampingnya.
"Siap, Faruq! Aku janji akan duduk manis," jawab Lev, sambil tersenyum.
Namun, janji tinggallah janji. Setelah sekitar dua jam perjalanan, Lev merasa bosan. Ia mengeluarkan kameranya, mencoba memotret pemandangan dari dalam mobil.
"Lev, jangan. Nanti fotonya jelek," kata Faruq.
Lev tidak mendengarkan. Ia tetap memotret. Namun, saat ia mencoba mengambil foto dari jendela, ia malah tidak sengaja menjatuhkan kameranya.
Bruuk!
Kamera itu jatuh ke lantai mobil. Lev panik, ia segera mengambilnya. Faruq hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
"Kamu ini memang tidak bisa diam, ya," Faruq menghela napas.
Lev meringis. "Maaf, Faruq. Aku tidak sengaja."
Mereka melanjutkan perjalanan. Lev berusaha untuk tidak berbuat ulah lagi. Ia mengeluarkan buku catatan kecilnya, menuliskan beberapa hal tentang perjalanannya. Ia ingin mendokumentasikan setiap momen, setiap kejadian, baik yang lucu maupun yang berharga.
Setelah beberapa jam, mereka akhirnya tiba di Dermaga Kumai. Saat sore hari, dermaga ini ramai dengan aktivitas. Kapal-kapal klotok berjejer rapi, menunggu para turis yang ingin menjelajah Taman Nasional Tanjung Puting. Aroma laut bercampur dengan asap masakan dari warung-warung kecil di sekitar dermaga, menciptakan suasana yang khas.
"Wah, ramai sekali," kata Lev, sambil melihat sekeliling.
Faruq mengangguk. "Tentu saja. Ini adalah salah satu dermaga terpenting di Kalimantan Tengah."
Mereka berjalan menuju loket, untuk memesan perahu klotok. Di sana, mereka bertemu dengan seorang pemuda yang juga akan menuju ke Taman Nasional Tanjung Puting.
"Assalamualaikum," sapa pemuda itu.
"Waalaikumsalam," jawab Lev dan Faruq.
"Nama saya Rizky. Saya juga mau ke Tanjung Puting. Kalian juga?" tanya Rizky.
"Iya, Rizky. Saya Lev, ini sahabat saya Faruq," kata Lev.
Mereka bertiga terlibat dalam perbincangan. Rizky ternyata seorang mahasiswa dari Jakarta yang sedang melakukan penelitian tentang orangutan. Ia terlihat sangat antusias.
"Wah, kebetulan sekali! Lev juga seorang fotografer. Ia akan mendokumentasikan perjalanan kita," kata Faruq.
Lev tersenyum malu. "Iya, tapi aku masih pemula."
"Tidak apa-apa, mas. Yang penting niatnya," kata Rizky.
Setelah mengurus segala sesuatunya, mereka naik ke atas perahu klotok. Matahari mulai terbenam, menciptakan pemandangan yang indah di atas sungai. Langit memerah, memantulkan sinarnya ke permukaan air.
"Subhanallah... Indah sekali," kata Lev, sambil mengeluarkan kameranya.
Faruq dan Rizky mengangguk, ikut terkesima dengan pemandangan itu.
"Aku akan memotret ini," kata Lev.
Ia mengambil beberapa foto. Saat ia sedang fokus memotret, ia tidak sengaja menyenggol tas Rizky.
Bruuk!
Tas itu jatuh, dan beberapa buku Rizky tercecer di lantai perahu.
Lev panik. "Aduh, maaf, Rizky! Maafkan aku!"
Rizky tersenyum. "Tidak apa-apa, mas Lev. Namanya juga kecelakaan."
Faruq hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Tuh kan, Lev. Sudah dibilang jangan bikin ulah."
Lev meringis. Ia membantu Rizky mengumpulkan buku-bukunya. Ia merasa bersalah, ia telah membuat kekacauan lagi.
"Maaf, ya, Rizky. Aku memang ceroboh," kata Lev.
Rizky menepuk pundak Lev. "Santai saja, mas. Perjalanan ini masih panjang. Kita nikmati saja."
Mereka melanjutkan perjalanan. Lev berusaha untuk tidak berbuat ulah lagi. Ia duduk diam, menikmati pemandangan di depannya. Faruq dan Rizky terlibat dalam perbincangan, sesekali tertawa.
Lev merasa beruntung. Ia mendapatkan sahabat-sahabat yang baik. Meskipun ia sering ceroboh, mereka selalu sabar menghadapinya. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq dan Rizky di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
