Setelah selesai mendokumentasikan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Lev dan Faruq melanjutkan perjalanan mereka ke pedalaman Kalimantan Tengah. Kali ini, tujuan mereka adalah sebuah desa terpencil yang dihuni oleh komunitas Dayak Muslim, yang merupakan sub-etnis dari suku Dayak Bakumpai. Perjalanan mereka kali ini sedikit lebih menantang, karena harus melewati jalan yang terjal dan hanya bisa dilalui dengan kendaraan khusus.
"Lev, kamu yakin dengan peta ini?" tanya Faruq, dengan nada khawatir.
"Yakin, Faruq! Peta ini dari seorang teman. Katanya, desa ini sangat indah dan masyarakatnya sangat ramah," jawab Lev, penuh semangat.
Setelah beberapa jam melewati hutan-hutan yang lebat, mereka akhirnya tiba di sebuah desa kecil yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Desa itu terlihat begitu damai, jauh dari keramaian kota.
"Nah, sampai juga kita," kata Lev, sambil menghela napas lega.
Mereka turun dari mobil, dan langsung disambut oleh beberapa warga desa. Mereka terlihat begitu ramah, senyum mereka tulus, menyambut kedatangan Lev dan Faruq.
"Assalamualaikum, selamat datang, nak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang kepala desa yang sudah tua.
"Waalaikumsalam, pak. Kami dari Banjarmasin. Kami ingin mendokumentasikan kehidupan komunitas Dayak Muslim di sini," kata Faruq.
"Wah, kebetulan sekali! Kami senang bisa membantu. Silakan masuk, nak," kata kepala desa itu.
Mereka masuk ke dalam rumah betang, rumah adat khas Dayak. Di dalamnya, suasana terasa hangat. Banyak warga yang berkumpul, menyambut kedatangan mereka. Lev merasa begitu disambut, ia merasa seperti di rumah sendiri.
Lev mengeluarkan kameranya, ia mulai memotret. Ia memotret wajah-wajah ramah para warga, ia memotret rumah-rumah adat yang unik, ia memotret aktivitas sehari-hari mereka. Ia merasa senang, ia mendapatkan banyak foto yang bagus.
"Kalian tahu? Di sini, kami hidup berdampingan dengan alam. Kami percaya, alam itu titipan Tuhan yang harus dijaga," kata kepala desa.
Lev mengangguk. Ia mengerti. Ia melihat, bagaimana warga desa sangat menghargai alam. Mereka tidak merusak, melainkan menjaga.
"Di sini, kami juga masih menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur. Kami masih sering mengadakan upacara adat, tapi kami juga tidak lupa dengan ajaran Islam," kata kepala desa.
Lev merasa kagum. Ia melihat, bagaimana akulturasi budaya Islam dan budaya Dayak bisa berjalan dengan begitu harmonis. Ia melihat, bagaimana Islam bisa beradaptasi dengan budaya lokal, tanpa kehilangan esensinya.
"Aku akan memotret upacara adat kalian, pak," kata Lev.
"Tentu, nak. Besok pagi, kami akan mengadakan upacara adat sederhana," jawab kepala desa.
Keesokan harinya, Lev, Faruq, dan warga desa berkumpul di sebuah lapangan. Upacara adat dimulai. Lev memotret setiap momennya, setiap gerakan tarian, setiap lantunan doa. Ia merasa terinspirasi, ia ingin mendokumentasikan setiap detailnya, setiap makna yang terkandung di dalamnya.
Setelah upacara selesai, Lev dan Faruq berpamitan dengan kepala desa. Lev berterima kasih, karena telah diberikan kesempatan untuk mendokumentasikan kehidupan mereka.
"Sama-sama, nak. Semoga perjalanan kalian lancar," kata kepala desa.
Lev, Faruq, dan beberapa warga desa berfoto bersama. Lev merasa bahagia, ia mendapatkan kenangan yang berharga.
"Lev, kamu tahu? Perjalanan ini bukan hanya tentang memotret, tapi juga tentang belajar," kata Faruq.
"Aku mengerti, Faruq. Aku akan belajar dari setiap perjalanan," jawab Lev.
Mereka melanjutkan perjalanan. Lev merasa lelah, tapi ia merasa bahagia. Ia telah mendapatkan pengalaman yang berharga. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
