Setelah pertempuran dengan Sombra, malam-malam di Arcanum terasa lebih tenang, namun juga lebih penuh makna. Lev, yang kini lebih percaya diri dengan kekuatannya, mulai menghabiskan waktunya di perpustakaan. Bukan lagi untuk mencari informasi tentang kekuatan es, melainkan untuk mempelajari sejarah elemen bumi, kekuatan yang ia miliki, dan hubungan antara Sombra dan kekuatan es yang ia impikan.
Suatu malam, saat perpustakaan hampir kosong, ia menemukan sebuah bagian tersembunyi. Di balik rak-rak buku tua, ada sebuah pintu kecil yang terbuat dari kayu yang ditutupi oleh simbol-simbol kuno. Lev, dengan hati yang berdebar, menyentuh pintu itu. Ia merasakan getaran yang akrab, getaran yang sama seperti yang ia rasakan saat ia menggunakan kekuatannya.
Dengan hati-hati, ia membuka pintu itu. Di dalamnya, ada sebuah ruangan kecil yang dipenuhi gulungan-gulungan tua dan buku-buku yang lebih kuno lagi. Ruangan itu terasa dingin, seolah ada kekuatan es yang tersembunyi di dalamnya.
Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu yang di atasnya terdapat sebuah gulungan kuno yang memancarkan cahaya biru yang redup. Lev, terdorong oleh rasa penasaran, mendekati altar itu. Saat ia menyentuh gulungan itu, cahaya biru itu menyebar, dan ia merasa seolah ia ditarik ke dalam gulungan itu.
Ia menemukan dirinya berada di sebuah tempat yang asing. Di depannya, ada seorang wanita muda dengan rambut pirang yang panjang dan mata yang sedingin es. Di sampingnya, berdiri pria berjubah yang Lev temui di perpustakaan.
"Siapa kalian?" tanya Lev, suaranya dipenuhi kewaspadaan.
"Aku adalah Elara," jawab wanita itu, suaranya sedingin es. "Dan dia adalah Sombra."
Lev terkejut. "Sombra?"
Pria berjubah itu membuka jubahnya, dan di baliknya, hanya ada kegelapan. Ia tidak memiliki wajah, hanya dua mata merah yang bersinar.
Elara menceritakan kisah mereka. Elara adalah seorang pewaris elemen es yang merasa tidak puas dengan kekuatannya. Ia bertemu dengan Sombra, dan ia tergoda oleh janji kekuatan yang tak terduga. Ia akhirnya mendapatkan kekuatan es yang ia impikan, tetapi dengan harga yang sangat mahal. Ia menjadi budak Sombra, dan kekuatannya digunakan untuk menghancurkan.
"Aku melakukan kesalahan," kata Elara, suaranya dipenuhi penyesalan. "Jangan ulangi kesalahanku, Lev."
Sombra, yang tadinya diam, tiba-tiba berbicara. "Dia berbohong. Kekuatan es adalah kekuatan sejati. Kekuatan bumi hanyalah kelemahan."
"Jangan dengarkan dia," kata Elara. "Dia akan memanipulasimu. Dia akan mengambil jiwamu."
Lev, yang tadinya bingung, sekarang mengerti. Pria berjubah itu bukanlah orang yang ingin membantunya. Ia adalah Sombra, yang mencoba memanipulasinya. Ia mencoba menukar jiwanya dengan kekuatan es.
Dengan tekad yang kuat, Lev mundur dari altar. Ia tidak akan mengkhianati teman-temannya. Ia tidak akan menukar kekuatannya yang sebenarnya dengan janji palsu.
Gulungan itu kembali ke tempatnya, dan Lev kembali ke dunia nyata. Ia merasa lega, tetapi ia juga merasa takut. Ia tahu bahwa Sombra masih ada di luar sana, dan ia akan kembali untuk memanipulasinya.
Bab ini diakhiri dengan Lev menyadari bahwa pertarungan dengan Sombra bukanlah hanya pertarungan fisik, tetapi juga pertarungan batin. Ia harus melawan godaan untuk mendapatkan kekuatan yang bukan miliknya. Ia harus percaya pada kekuatannya sendiri, dan ia harus melindungi teman-temannya.

35 bab
BalasHapus