Malam itu, setelah seharian berjalan-jalan mengelilingi Perm dan mencicipi camilan khas Rusia, Lev dan Sofia memutuskan untuk duduk di sebuah kafe yang tenang. Aroma kopi dan buku-buku lama yang tersusun rapi di rak memenuhi ruangan. Sofia mengambil buku tentang filosofi Rusia dari rak, sementara Lev mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya, buku saku tafsir Al-Qur'an terjemahan bahasa Inggris.
"Buku apa itu?" tanya Sofia, menunjuk buku Lev.
"Ini... buku yang membantu saya memahami Al-Qur'an. Saya membawanya kemanapun," jawab Lev. "Kadang saya masih merasa kewalahan dengan semua hal baru di sini. Membaca ini membantu saya tetap merasa terhubung."
Sofia meletakkan bukunya dan memandang Lev. "Lev... bolehkah saya bertanya sesuatu? Sesuatu yang sedikit sensitif?"
Lev mengangguk, mempersilakan. "Tentu saja. Saya tidak keberatan."
"Bagaimana kamu bisa begitu yakin dengan imanmu? Di sini, banyak orang yang tidak lagi percaya. Mereka melihat agama sebagai sesuatu yang kuno, membelenggu, dan menyebabkan banyak konflik," tanya Sofia hati-hati.
Lev tidak langsung menjawab. Ia mengambil napas dalam-dalam. "Saya mengerti kenapa kamu bertanya itu. Saya juga melihat hal yang sama. Di Indonesia, ada juga banyak orang yang skeptis. Tapi... bagi saya, agama bukan hanya sekadar aturan. Agama adalah pondasi hidup."
"Pondasi?"
"Ya. Pondasi untuk kebaikan," jelas Lev. "Bayangkan sebuah rumah. Tanpa pondasi yang kuat, rumah itu akan mudah roboh diterpa badai. Iman saya seperti pondasi itu. Ia memberi saya kekuatan saat saya merasa takut atau bingung. Ia mengingatkan saya untuk selalu berbuat baik, bahkan saat tidak ada yang melihat."
"Tapi bukankah kebaikan itu universal? Tidak harus dari agama, kan?" sela Sofia.
"Benar. Tapi agama memberi alasan untuk kebaikan itu. Agama mengajarkan kita bahwa setiap kebaikan, sekecil apapun, akan diberi balasan. Dan setiap keburukan juga akan ada konsekuensinya," Lev mencoba menjelaskan dengan sabar. "Itu membuat saya... lebih bertanggung jawab. Karena saya tahu, ada yang melihat, ada yang mencatat, bahkan saat tidak ada manusia lain di sekitar saya."
Sofia mendengarkan dengan saksama. "Lalu, bagaimana dengan konflik? Kenapa agama seringkali menjadi sumber konflik?"
"Itu pertanyaan yang sulit," Lev tersenyum sedih. "Menurut saya, konflik terjadi bukan karena agamanya. Konflik terjadi karena orang-orang salah memahami agamanya. Mereka menggunakan agama untuk membenarkan kebencian, untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal, inti dari setiap agama adalah kebaikan, perdamaian, dan kasih sayang."
"Seperti... yang kamu tunjukkan. Dengan toleransimu," ujar Sofia, tulus.
"Itu bukan toleransi yang hebat, Sofia. Itu adalah hal yang seharusnya. Saya bersyukur karena Allah telah mengajarkan saya untuk menghormati orang lain. Saya bisa berteman dengan siapa saja. Tidak peduli apa agama, ras, atau latar belakang mereka. Islam mengajarkan kami untuk menghormati perbedaan."
Sofia mengangguk, matanya menatap Lev dengan penuh kekaguman. "Kamu tahu, Lev. Sejak bertemu denganmu, saya jadi berpikir lagi. Saya jadi merasa... ada keindahan dalam agama. Saya tidak akan tiba-tiba menjadi religius, tapi saya jadi menghargai orang-orang seperti kamu. Kamu mengingatkan saya bahwa kebaikan dan ketulusan itu nyata."
"Begitu juga kamu, Sofia," balas Lev, "Kamu membuat saya melihat bahwa kebaikan tidak memiliki batas. Kamu bukan Muslim, tapi kamu mau menolong saya saat saya kesulitan. Kamu mau belajar tentang budaya saya. Kamu begitu tulus. Itu juga pelajaran berharga bagi saya."
Percakapan mereka mengalir begitu saja. Mereka tidak berusaha meyakinkan satu sama lain. Mereka hanya bertukar pandang, bertukar pikiran, dengan saling menghormati. Mereka menemukan bahwa di balik perbedaan, ada jembatan yang bisa menghubungkan mereka. Jembatan itu adalah persahabatan, ketulusan, dan saling menghargai.
Setelah diskusi hangat itu, Lev merasa lebih dekat dengan Sofia. Ia merasa Sofia bukan hanya teman, tapi juga sahabat yang bisa ia ajak bicara tentang hal-hal yang paling pribadi. Begitu juga Sofia. Ia merasa Lev adalah teman yang langka, yang mampu membuka pikirannya tanpa menghakimi.
Malam itu, mereka pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Langit malam Perm terlihat begitu cerah, dihiasi bintang-bintang yang berkilauan. Lev melihat ke langit, lalu tersenyum. Ia kembali merasakan kebesaran Tuhan. Dan ia tahu, di bawah langit yang sama, ada sahabat yang sedang menatap bintang yang sama. Jarak ribuan kilometer dari Banjarmasin, Lev telah menemukan makna persahabatan yang sesungguhnya. Ia merasa imannya semakin kuat, bukan karena ia berada di tempat yang penuh orang seiman, tetapi karena ia belajar mengamalkan iman itu di tempat yang berbeda.
