Agustus 31, 2019
Sepanjang minggu salju menyelimuti sekitar Manchester, putih, hampa dan dingin sedingin dengan perasaanku sekarang. Harapan apapun yang tersisa bahwa dia akan mendatangiku sudah layu seperti sebuah tunas hijau dalam embun beku yang sangat dingin. Tapi aku menolak untuk menyerah karena aku masih muda dan kuat, aku akan menertawakan takdirku sendiri, dimana ada kegelapan aku akan memasukinya dan akan membawa cahaya itu tidak akan pernah padam di kegelapan dan menerangi di setiap jalanku.
Aku tak dapat melupakannya bahkan untuk sesaat ia berada dalam pikiran, mimpi dan udara yang kuhirup. Terkadang aku seolah-olah merasakan sentuhan tangannya atau mendengarkan suaranya membisikiku, sebagian dari diriku ingin melewatkan pelajaranku hari ini yang begitu membosankan, untuk sesaat aku berpikir bolos sehari itu tidak masalah. Aku akan menikmati berjalan di padang rumput yang luas untuk mengurangi kebosananku. Aku bisa bepergian kemana saja sekarang ke tempat kemana pun aku suka.
Aku harus berusaha untuk melupakannya, ketika aku akan melupakannya aku semakin teringat oleh sosoknya yang pucat dan sakit-sakitan serta menderita dan membuatku sedih untuk mengingat itu semua bagai dihati ini penuh dengan rasa sakit yang tak tertahan hari demi hari semakin menggorogoti dan mengikis hati ini, mereka menjalar bagai virus yang merembas dan ingin menghancurkan hatiku yang masih tersisa disini.
Di suatu sabtu sore, setelah pelajaran itu usai kuambil jalan setapak tertutup salju menuju taman, dimana aku melihat Nayya yang baru saja menangis, aku mendekat kepadanya menanyakan kenapa dia menangis dan Nayya memberitahu bahwa catatan yang baru di pinjam hilang, seakan-akan itu menjadi masalah besar untuknya dan aku menenangkannya dan mengatakan itu hanya masalah kecil dan tersenyumlah jika kau sudah baikan. Dan kami menghabiskan waktu bersama sepanjang sore.
Hari sudah senja nampak matahari mulai menghilang dan cahaya nya semakin meredup dan tersisa hanya kegelapan malam. hanya sinar bulan yang menerangi setiap jalan aku dengan Nayya untuk kembali ke Apartments. Hari yang pendek di musim dingin ini akan segera berakhir betapa cepat nya waktu berlalu tanpa aku sadari. Namun aku masih belum bisa saja untuk meraih hidupku seperti yang dulu apa yang salah ketika aku kehilangan nya bagai separuh hidupku hilang dibawa olehnya dan pantas saja untuk sekarang aku tidak dapat merasakan apapun.
Perasaan dingin yang kurasa bagaimana untuk membakarnya. Sekarang aku mencari jawaban dari sesuatu yang hilang, aku mengikuti harapanku yang masih tersisa yaitu bertahan hidup di tengah kebosananku sekarang, berlari mengejar sesuatu yang aku belum tahu untuk apa aku berlari. Semua nampak membingungkan untukku. Aku hanya tahu, aku masih mempunyai waktu untuk bahagia jadi aku akan berlari pergi untuk sesuatu yang masih misteri itu sampai akhirnya aku menemukan jawaban dari kegelisahanku dan ketidaktahuan ku untuk apa aku ciptakan disini mengapa Tuhan membuat aku seperti ini, menjadikan aku seperti ini semua nampak penuh dengan ketidaktahuan.
Setelah pulang dari taman aku kembali ke Apartment dengan Nayya dan kami ke kamar masing-masing, aku istirahat namun terlihat mejaku yang begitu berantakan aku merapikan meja dan melihat kalung itu, kalung yang diberikan olehnya sebelum aku ke Manchester, lalu aku tersadar melihat kalung itu tidak aku pakai lagi masih tersimpan di dalam meja tempat aku belajar. Aku tersedu-sedu lirih. "Tidak, tidak, tidak, mengapa aku mengingat kalung itu lagi". Semua kenangan akan datang kembali jika aku mengingat itu kalung dari pemberian nya.
Aku duduk, lalu menyeret diriku keluar dari kamar dan menuju kamar mandi. Setelah membuka salah satu pintu aku muntah ke dalam wastafel, bersama kenangan tentang nya yang kini hadir dalam ingatanku mendengarkan suaranya, menyentuhnya dan memeluk nya. Kemudian dilemparkan kembali ke dalam dunia yang sadar yang hampa sesuatu yang lebih menyakitkan yang dapat aku tanggung. Aku merasa sakit lagi, menumpahkan isi perutku bukannya hatiku. Dia pasti telah bahagia di alam yang berbeda menghilang dari dunia ini dan tenggelam ke dalam surga ke tempat yang sebenarnya-benarnya tempat yang telah dijadikan Tuhan untuk kehidupan akhir untuk semua makhluk hidup yang beriman kepadanya bukan seperti dunia ini kehidupan yang penuh cobaan dan kesakitan.
Kubasuh diriku dengan air dingin, mencoba menyegarkan tubuh dan pikiranku. saat mengeringkan tubuhku, tanganku menyapu kalung itu, dingin di kulitku, tergantung di rantai perak nya yang bergambar dolphin atau lumba-lumba 🐬 yang menurutnya itu adalah lambang kesetiaan. Dia pernah berkata " Lumba-lumba adalah makhluk yang paling setia dengan pasangannya, dia menyayangi pasangannya melebihi dirinya sendiri, dia rela mati demi melindungi dan menjaga pasangannya dari sang hiu yang setiap waktu mengintai untuk menghancurkan mereka".
Itulah tanda kesetiaannya yang dia berikan melalui kalung tersebut sebagai bukti darinya yang bahkan saat kita berjauhan pun dia tetap setia menungguku untuk kembali kepadanya. Apakah mungkin aku bisa menemukan seseorang yang seperti itu menurutku dia tak akan pernah tergantikan oleh apapun karena semua orang tidaklah sama jadi jangan pernah membandingkan seseorang dengan apapun.
Untuk sekarang aku tidak akan berusaha secepat apapun untuk mengganti cukup teman-teman ku yang sekedar menemani, tempat mengistirahatkan dari kehidupan lelahku dan yang siap memberikan semangat saat aku lelah untuk menjalani hidup ini, meskipun dalam sekaratnya kau berpesan padaku untuk mencari pengganti namun aku tidak ingin secepat itu.
Kau pernah berkata
" jangan pernah mengikuti filosofi dolphin karena itu menyakitkan, setia dalam kesakitan, setia dalam kerinduan yang tak kunjung padam semua akan menjadi melelahkan tapi aku sudah terlanjur untuk berpegang teguh pada hal itu jadi aku akan menunggumu. "
Tak peduli tantangan seperti apapun yg aku hadapi, semuanya terasa ringan jika dibandingkan dengan penyesalan kau sayang, yang tidak terpenuhi!!!
Aku sudah lama menunggu hari ini!! namun aku belum merasakan kehangatan, malah merasa dingin membeku menjajah tubuhku bagaimana mungkin aku mencari penggantimu secepat aku berjalan, biarlah semua akan berjalan semestinya dengan kebekuan yang masih melekat dihati ini.
Aku bukan tidak bisa hidup tanpamu, hidupku akan tetap berjalan bagaimana semestinya namun hanya bagian hati yang kehilangan kau sangat banyak dan pikiran ini akan kembali mengingatkan semua tentang kau dan rasanya hari-hari ku yang ingin pulang menemui mu disana kini sudah tidak ada lagi. Hanya hari-hari kosong tanpa semangat dan tujuan yang berarti.
jika Seandainya nya kau ada disampingku, kakiku akan lebih kuat untuk berjalan, tubuhku akan lebih tabah jika kau menemani karena kau begitu istimewa, spesial yang tak terhindarkan
Kadang kata seandainya menjadi menyedihkan jika terdengar sekarang bagaimanapun itu hanya kenangan yang tak akan bisa berubah lagi. hal yang akhirnya sulit membuatku untuk merelakanmu, bahkan dalam ingatanku, kau menjadi kisah sedih yang kini meninggalkan luka yang teramat dalam dan akan selamanya membekas didalam hati.
