Mei 12, 2019
Tidak dapat menyelamatkanmu dari awal. mencintaimu jadi menyakiti jiwaku, dapat kamu memaafkaku untuk mencoba lagi, keheninganmu jadi menyakiti hatiku, disini aku ditinggalkan dalam keheningan. Kau bertarung dengan penyakitmu seorang diri dan pada akhirnya semua sudah terlambat. Aku melihatmu terkubur dengan tanah, masih samar-samar dalam ingatanku tentang ingatan itu yang membekas kedalam mimpi dari kesakitan, aku tahu itu semua pasti akan terjadi kepada setiap manusia, aku jadi kehilanganmu sejak kau pergi, mengapa bukan aku sebelum kau atau kita saja bersama-sama pergi agar kita dapat bersama disana lagi. Mengapa takdir memperdaya aku, segalanya terbelokkan keluar jadi salah. Mengapa kau meninggalkanku dalam Keheningan?
Aku terperangkap oleh waktu dimana waktu mempermainkan perasaanku, aku tebus dengan arti kesetiaan manusia yang kucintai itu aku telah setia mencari dan menunggunya, dia pergi dengan membawa mimpi-mimpiku bersamanya, pergi meninggalkan ku untuk selamanya. Pergi dengan semua mimpi yang kami buat bersama.
Aku tidak dapat merasakan, aku hanya merasa dingin. Semua warna terlihat memudar pergi hanya warna hitam putih yang tersisa, aku tidak dapat mencapai jiwaku. Aku akan berhenti berlari jika aku tahu disana ada sebuah kesempatan untuk tinggal. Kesedihanku disini untuk mengorbankan itu semua tetapi aku harus membiarkannya pergi. Aku dapat merasakan dukacita mu, kau tidak ingin memaafkanku tetapi aku tahu itu menurut mu benar karena aku tak pernah disisimu saat kau butuh. Kesedihan ku disini, kau tidak akan pernah tahu tetapi aku harus membiarkan kau pergi.
Setiap aku selesai membaca satu surat, jiwaku tercabik seakan terbawa ke alam—entah kemana—tapi itu pasti hilang, melebur bagaikan pecahan logam yang hancur berkeping-keping menjadi zat yang paling kecil. Dan ingatan kembali mengejar ke tanggal dan tempat kau menulis surat itu, merasakan penderitaan panjang yang kau alami tanpa ada aku disisimu menemanimu, itu menjadi sebuah penyesalan bagiku hingga sekarang, dapat kau memaafkan ku agar aku tenang disini menjalani hari-hariku. Segalanya akan pergi, membagikan sebuah kedamaian akan terulang kembali kapan ingatan memudar kedalam kekosongan.
Seandainya aku datang secepat yang aku bisa, mungkin aku akan bisa menyemangati kau agar terus berjuang dengan penyakit mu namun aku tiba saat waktu yang tersisa hanya sedikit. Katamu " kau telah sakit dari waktu ke waktu dan tidak seorangpun yang dapat menyembuhkan. " So what, mengapa semua harus seperti ini, aku ingin meredakan rasa sakit mu, ingin mengambil semua penderitaan mu namun itu mustahil, semua ini sudah berlalu, hanya menjadi kenangan yang menyakitkan untuk di kenang.
Semua orang pasti pernah patah hati dan seringkali patah hati tampak lucu di mata orang lain, dijadikan guyonan, dan tak jarang merendahkan sakit yang mereka rasakan, mungkin karena mereka masih muda dan kita menafikkan mereka: bahwa pengalaman mereka belum seberapa, mereka belum pernah diberi ujian dari Tuhan yang seperti ini.
Tapi saat kita sendiri yang mengalaminya? Apa yang bisa kita lakukan selain marah, sedih, dan menangis? Patah hati tampak lucu bagi orang lain, tapi tidak dengan yang merasakannya. Patah hati itu seperti seluruh isi dalam dada dan perut hilang, menyisakan ruang kosong yang luas, sangat kosong, sepi—dan sakit.
Aku memilih mati dibandingkan harus merasakan sesaknya dada akibat patah hati. Aku juga memilih mati dengan tenang dan meninggalkan semua sesal dibandingkan harus menyeret langkah akibat bola besi yang membelenggu kaki ku di sepanjang perjalanan.
Aku harus bertarung dengan masa lalu yang membelenggu ku untuk bangkit menghadapi masa depan yang akan berjalan, harus kuat menghadapi semuanya.
Mati selalu tampak lebih indah dibandingkan patah hati.
But I don’t. We don’t.
Kita hanya melihat mati sebagai pilihan yang lebih baik, tapi bukan keputusan terbaik. Mungkin karena kita tetap ingin hidup untuk—apapun yang tersisa. Tapi setidaknya jika kita masih hidup berharaplah akan sesuatu kebaikan dan kebahagian yang akan datang menjemput kita entah suatu saat nanti dan percayalah pada Tuhan pasti akan memberikan itu.
Apakah kata bisa menggambarkan sakit dengan sempurna? Misalnya saat aku bilang “aku sakit”, kalian akan secara otomatis mengerti sakit yang aku rasakan? Atau saat aku menuliskan kisah yang sedih, patah hati, dan memancung hati tanpa ampun, apakah kalian juga ikut sedih bahkan hingga menangis?
Somehow, rasa sakit itu menghubungkan aku, kau, dan setiap individu di dunia ini. Rasa sakit itu mengikat kita dalam satu jaringan yang tak tampak. Luka adalah luka. Kita pernah merasakan rasa sakitnya. Dalam bentuk yang berbeda, namun rasanya pasti sama.
Saat aku melihat jalan hidup orang lain, aku sering iri. Betapa indahnya hidup mereka, betapa mudahnya jalan mereka, betapa bahagianya mereka, betapa lepasnya tawa dan buncah bahagia yang sempurna.. Mereka bisa merasakan bahagia yang sesungguhnya.
Lalu aku tatap kakiku, sepatu lusuh, usang, dekil, dan compang-camping. Kakiku luka dan berdarah di sana-sini. Jalanan yang terlalui terjal berbatu, naik dan turun. Jalanan yang tersisa juga tampak sama. Penuh rintangan yang datang menghalangi tanpa ada seorangpun yang datang ingin membantu. Dan semenjak itulah aku tak pernah berharap kepada yang namanya manusia, mereka hanya ingin saat aku bahagia namun pergi setelah aku mengalami luka-luka ini. Lihatlah tidak ada seorangpun yang datang saat luka-luka ini belum kering. Mereka hanya peduli pada kesenangan mereka sendiri tanpa ada sedikit pun mengulurkan tangan mereka, bahkan sedikit saja.
Mengapa jalan orang lain dilapisi karpet bulu Alpaca yang lembut dan empuk, sedangkan jalan aku tidak? Mengapa mereka memiliki jalanan yang ditumbuhi rumput taman yang empuk, sejuk dan bunga-bunga berwarna cerah?
Kenapa Allah menempatkan ku di jalan yang berat sekali untuk dilalui? Am I doing something wrong oh Allah, so you put me in The Damnation? Allah apakah ini memang keadilan darimu? Apakah ini berarti aku sanggup menerima setiap cobaan darimu? Apakah ini memang jalan takdir ku? Apakah ini karma ku atau karena dosaku? Apakah ini Engkau ingin aku terus mengingatmu? masih banyak lagi Tuhan yang aku ingin tanyakan kepada Engkau sampai air mata ini menetes mungkin tak pernah habis sesuatu yang ingin aku pertanyakan..
Mereka bilang, bersyukurlah, selalu bersyukur, niscaya dimudahkan jalanmu. Tidak, bukan begitu caranya aku mengerti hidupku. Meskipun aku belum menemukan caranya, tapi aku tidak ingin membutakan diri bahwa aku sakit dan hancur dengan memunafikkan sakit ku dengan pujian pada Allah.
Aku berterima kasih pada apapun yang Engkau berikan, sedih dan bahagia. Tapi ijinkanlah aku untuk marah padaMu juga. Karena Engkau yang paling mengerti seluk beluk jalan ini. Tinggi setiap terjal, warna setiap batuan, dan pengapnya udara disini. Ijinkan aku untuk menangis dan menjerit memakiMu, karena hanya Engkau yang tau seberapa berat beban dalam jiwa dan hati ini. Seberapa rusaknya hati seorang aku yang terus merintih. Karena hanya Kau yang tau kenapa aku marah, dan hanya Kau yang tahu apa yang ada dipikiran ini, Kau yang akan mengerti di setiap kegundahan hatiku dan yang meredakan tangisku....
