Distrik Anfa di Casablanca bukanlah sekadar sebuah lingkungan; Anfa adalah sebuah pernyataan. Di sinilah kaum elit Maroko memilih untuk tidak hanya tinggal, tetapi juga mempertontonkan kesuksesan mereka. Di antara vila-vila bergaya art deco yang dipugar dengan cermat dan mansion modern minimalis, berdirilah kediaman keluarga Al-Fassi, sebuah bangunan megah yang menjulang dengan arsitektur perpaduan Riad tradisional Maroko dan kemewahan kontemporer.
Gerbang besi tempa otomatisnya yang tinggi terbuka perlahan untuk menyambut Rolls-Royce Cullinan berwarna Arctic White yang meluncur mulus, dikemudikan oleh Tuan Zayn Al-Fassi sendiri. Di sebelahnya, Nyonya Laila Al-Fassi, mengenakan abaya sutra berwarna emerald yang elegan, melirik sekilas arloji Patek Philippe Ladies’ Nautilus di pergelangan tangannya. Sudah hampir waktu makan malam, dan mereka baru saja kembali dari kunjungan singkat ke butik Gucci terbaru di Morocco Mall.
"Laila, apakah kamu yakin kita butuh clutch Dionysus itu? Kamu sudah punya tiga di lemari," komentar Zayn dengan nada bercanda, sambil memarkir mobilnya di garasi bawah tanah yang luas, di samping Lamborghini Aventador SVJ Roadster berwarna oranye menyala dan Mercedes-Benz Maybach S 680.
Laila mendengus geli. "Zayn, sayangku, yang tiga itu edisi musim semi tahun lalu. Yang ini koleksi cruise terbaru. Warnanya berbeda. A girl must have options," jawabnya sambil tersenyum, mengeluarkan sebuah kotak hijau dari tas belanjaan. "Lagipula, kamu baru saja memesan Richard Mille edisi terbatas, jadi kita impas."
Zayn hanya tertawa. Pasangan Al-Fassi telah menemukan ritme sempurna dalam pernikahan mereka: saling pengertian yang mendalam, cinta yang tulus, dan kegemaran bersama akan kemewahan yang ekstrem. Mereka berdua adalah Muslim yang taat shalat lima waktu tidak pernah terlewat, dan mereka selalu menunaikan zakat serta amal dengan jumlah Fantastis tetapi mereka juga percaya bahwa Allah SWT menyukai keindahan, dan bagi mereka, keindahan itu datang dalam bentuk barang-barang desainer terbaik di dunia.
Di dalam rumah, suasana sudah ramai. Ruang tamu utama, dengan langit-langit tinggi berhias zellige (ubin Maroko) asli Fez dan lampu gantung kristal Baccarat raksasa, menjadi pusat aktivitas.
Amira (20), anak sulung mereka, sedang berdebat melalui video call dengan penata gayanya di Paris. "Tidak, aku bilang gaun Zuhair Murad itu terlalu banyak payet di bagian dada. Aku ingin yang lebih minimalis, seperti koleksi couture Elie Saab yang baru," ujarnya tegas, sambil menyesap jus jeruk segar. Di meja kopi marmer Carrara di depannya, tergeletak ponsel iPhone 15 Pro Max dengan case Louis Vuitton monogram.
Tariq (18), putra satu-satunya, duduk di sofa beludru Roche Bobois sambil fokus pada layar laptop gaming terbarunya. Dia sedang memantau lelang daring untuk sepasang Nike Air Mag (sepatu Back to the Future yang legendaris). "Sialan, harganya naik lagi!" umpatnya pelan. Tariq adalah raja hypebeast lokal, dengan koleksi sneakers yang harganya bisa membeli sebuah apartemen kecil.
Dan si bungsu, Sofia (10), sedang duduk manis di karpet Persia antik, menyusun boneka Barbie edisi kolektor yang semuanya mengenakan pakaian Chanel mini. Sofia mungkin baru berusia sepuluh tahun, tetapi dia sudah tahu perbedaan tote bag Goyard asli dan palsu.
Saat Zayn dan Laila memasuki rumah, suasana menjadi lebih hangat. "Assalamualaikum!" salam Zayn.
"Waalaikumussalam!" jawab anak-anak serempak.
"Bagaimana harimu di butik, Umi?" tanya Amira, mengakhiri panggilannya.
"Melelahkan, Amira. Mereka kehabisan warna taupe. Kita harus menunggu kiriman baru atau terbang ke Milan minggu depan," keluh Laila, meletakkan tas Hermès Birkin Himalayan Crocodile miliknya di meja samping. Bagi orang luar, keluhan itu mungkin terdengar konyol, tapi di rumah ini, itu adalah krisis kecil yang nyata.
Zayn menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Krisis mode global," komentarnya. "Sudah waktunya makan malam. Aku lapar."
Keluarga Al-Fassi melangkah menuju ruang makan. Malam itu, mereka menikmati hidangan tagine daging domba dan couscous yang disajikan di atas piring makan porselen Hermès Mosaique au 24, dengan gelas kristal Saint-Louis.
Di rumah mewah ini, Islam mengajarkan mereka rasa syukur atas rezeki yang melimpah, dan selera mode mengajarkan mereka bagaimana menikmati rezeki itu dengan penuh gaya. Babak pertama kehidupan keluarga Al-Fassi di Anfa baru saja dimulai, sebuah komedi Islami tentang cinta, tawa, dan tentu saja, obsesi yang tak pernah pudar terhadap kemewahan duniawi.
